Victoria menatap Ethan. Matanya, yang biasanya dingin, kini membeku, tetapi tidak ada air mata, hanya kemarahan yang tenang. "Ini bukan noda air, Ethan," kata Victoria, suaranya rendah dan menusuk. "Ini aroma parfum wanita. Dan itu bukan parfum yang aku belikan untukmu." Ethan membeku. Dia tahu dia tertangkap. Aroma itu adalah aroma yang sering digunakan Lily. Dia tidak bisa lagi menggunakan alasan bisnis. "Vicky, itu ...." Ethan mencoba berbohong, tetapi kata-katanya tertahan di tenggorokannya. Victoria meletakkan jas itu di kursi dengan hati-hati, seolah itu adalah benda najis. "Jangan berbohong padaku, Ethan. Aku sudah mendengar bisikan gosip itu. Bali, jam tangan berlian, dan sekarang, aroma parfum murahan di jasmu." Victoria menatapnya dengan tatapan meremehkan yang paling da

