Pagi itu, Ethan duduk di kursi kerjanya di kantor, menatap layar laptop sambil sesekali melirik ke jam. Jadwal pagi hari sudah lengkap, briefing internal sudah ia siapkan, tapi satu hal yang membuat hatinya gelisah: Lily belum muncul di kantor. Ia menatap kursi yang biasanya ditempati asisten pribadinya, meja yang rapi, catatan yang tertata sempurna—tapi hari ini kosong. Ponsel di mejanya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Lily, tetapi isinya hanya singkat: “Maaf, aku ....” Lalu terputus. Ethan mengerutkan dahi, rasa khawatir merayap ke dalam dadanya. Ia menelpon. Nada sambung berbunyi, lalu terdengar suara Lily, lemah, sedikit batuk, membuat Ethan langsung terkejut. “Lily? Kamu terdengar—apa yang terjadi?” Suaranya rendah tapi tegang. “E … Ethan … aku … pusing … sedikit demam,” suara Li

