Bab 2

1274 Kata
James dan Louis di arah oleh beberapa orang berpakaian hityam menuju ke sebuah ruangan. Mereka terlihat seperti teroris yang hendak di sidang. Padahal, mereka hanya diperlakukan spesial. Louis tak mengira, akan bertemu dnegan wnaita menjengkelkan dalam kehidupannya. Wanita yang tergila-gila dengan kekuasaan. Dan lebih sialnya lagi, wanita itu adalah mantan pacarnya. Beruntung sekali mereka sudah putus, dan pria itu tak menyesali hubungan yang kandas itu. Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan. Seorang wanita seksi telah duduk dnegan gaya angkuhnya, persis seorang pemimpin dengan segala kekuasaan. “Kau tak pernah berubah, Louis,” kata wanita itu tersenyum lembut. Louis berdecih, emmbuang muka dengan kesal. Wanita itu bangkit-berjalan mendekat mulai menyentuh d**a bidang pria itu. James merasa jijik sekaligus muak, dan memilih membuang muka. “Jaga tanganmu, Margaret!” teriak Louis dengan sangat keras. Margaret terkekeh pelan, berbalik arah untuk duduk kembali. “Sialan! Dia snagat sombong,” gumam James dengan eplan, hanya di dengar oeleh Louis. “Jangan marah padaku, aku membencinya,” bisiknya mengarah pada Louis. “Well, karena kalian menyebabkan kerusakan. Maka kalian akan di skors.” Margaret tersenyum puas sambil melihat reaksi kedua pria yang ada di depannya. “Apakah kau sudah gila?” sahut James tak terima. “.. kami tak melanggar peraturan. Siluman itu yang lebih dulu menampakkan diri di depan manusia.” “Biaya kerusakan melebihi anggaran tahun ini, James. Apakah kau mau mengganti rugi dana kepada pemerinta?” Margaret menunjukkan beberapa kerusakan yang di akhibatkan oleh siluman itu. Dan juga beberapa orang yang cedera. “Banyak dari mereka yang terluka. Dan juga seluruh kota terpaksa di hentiakan aktivitasnya. Mereka para manusia yang terlibat harus segera di hipnotis agar melupakan semua kejadian ini.” Margaret terus menunjukkan satu persatu gambar dari bekas pertarungan mereka. James tak bisa mengelak lagi karena organisasi mereka berjalan secaraa sembunyi-sembunyi. Andai saja masyarakat tahu bahwa kehidupan mereka selalu terancam dengan adanya siluman di seketar tempat tinggal, pasti mereka akan berhati-hati. Pria itu tak mengerti, mengapa pemerintah menyembunyikan keberadaan siluman yang jelas-jelas mengancam kehidupan para manusia. “Apakah kau sengaja ingin mengeluarkanku dengan perlahan, Margaret.” Louis tahu, wanita seperti apa Margaret itu. “Jangan mengasumsikan segalanya dengan pemikiran konyolmu itu, Louis.” Margerit mematikan hologram-menatap Louis dengan penuh selidik. Di lihat drai segi manapu, ketampanan pria itu tak pernah turun sedikitpun. Malah semakin matang, pesonaya semakin luar biasa. “Ini sudah menajdi keputusan organisasi,” jelas Margaret penuh penekanan. Louis berdecih, menyeret lengan james dengan pelan. “Kita keluar dari sini. Karena kita tak dibutuhkan lagi, James.” Pria itu mengajak James keluar dengan terpaksa, tapi saat berada di ambang pintu, ia berbalik arah. “Jangan kira aku tak tahu tujuanmu membuangku. Kau lemah, dan tak akan pernah bisa mengendalikan organisasi ini.” Perkataan Louis membuat Margareta marah, ia pun mengusir mereka dengan kasar sambil berteriak dnegan memaki, dan tak lupa wanita itu mengeluakan sumpah serapahnya. “Dia benar-benar gila,” kata James sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. “Obsesi membuatnya buta, James. Dan dia terobsesi mengalahkanku.” Wanita pada dasarmya tak ingin kalah di depan pria yang sudha menajdi mantan, karena mantan ibarat musuh dalam percintaan. “Bagaimana bisa kau berpacaran dengannya?” tanya James dengan ragu. Louis terkekeh geli. “Hanya penasaran dengannya saja,” jawab Louis dengan enteng. Kalau bukan ajakan Margaret untuk berada di ranjang, mungkin mereka akan tetap bersama. Sayangnya, wanita itu terlalu haus akan seks dan juga memiliki birahi kuat. Bagi Louis, percintaan bukan hanya seks, melainkan sebuah penyatuan dengan hati tulus melalui dua insan. Tak hanya itu, saling menghargai, menghormati, menyayangi satu sama lain. “Dia selalu memikirkan ranjang setiap waktu.” Louis menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha tak mengingat kejadian masa lalu. “Aku tahu, kau perjaga murni. Tak di jamah oleh wanita. Tapi, sampai kapan kau akan tetap seperti ini.” James tak mengerti jalan pikiran Louis yang terlampau kolot itu. padahal, banyak pasangan di luar sana selalu melakukan seks. “Sampai aku menikah,” jawab Louis sambil melangkahkan kakinya dnegan cepat-meninggalkan James yang selalu mengoceh padanya. Tiba-tiba saat mereka keluar markas, bunyi ledakan dari arah belakang membuat keduanya terkejut. Semua orang yang ada di sana langsung siap siaga. James yang melihat itu hendak masuk ke dalam, tapi lengannya di cekal oleh Louis. “Hey! Apa yang kau lakukan?” James menatap Louis dengan tajam. “Kau lupa! Kita di skors.” Louis menyeret paksa lengan James sampai menjaub dari markas. “Biar wanita gila itu yang menyelesaikan permasalahnnya, kita pergi sekarang. Akhirnya, James pun mengikuti permintaan Louis dengan pasrah. Lagi pula pria itu selalu memperhitungkan semuanya dengan tepat. “Wanita gila itu hanya boneka. Dia tak bisa bergerak bebas.” Louis terus menyeret James masuk ke dalam gang-menuju ke sebuah gedung tua. “Sial! Jangan mengajakku di tempat remang-remang.” James tak suka jika harus masuk ke dalam club dan melihat para wanita yang memakai baju kekurangan kain. Louis hanya diam, dan terus melakukan aktivitasnya. Saat mereka masuk ke dalam gedung suasana gelap bercampur perasaan merinding jadi satu. James terlihat was-was dan sedikit takut. “Sepertinya, kau takut dengan kegelapan,” ejek Louis tepat sasaran. James menelan ludahnya kepayahan. “Tutup mulutmu!” hardik James dengan cepat tak terima ejekan itu. Louis terkekeh, lalu mengajak pria yang di seretnya itu masuk ke dalam lift. “Biakah kau memberitahuku. Kemana kita akan pergi?” James merasa aneh karena Louis seperti menyimpan banyak rahasia darinya. Ayolah, mereka parter sehidup semati, dan sudah bekerja sama selam dua tahun. “Sebentar lagi, kau akan tahu,” jawab Louis dengan tenang. Ketika pintu lift terbuka, cahaya putih silau menerpa pemandangan James. “Selamat datang di markas, James,” sambut Louis sambil merentangkan tangan. Mulut pria itu terbuka lebar, menatap takjub tak percaya atas apa yang dilihatnya. “Wow, kau gila, Bung!” teriak James heboh. Betapa tidak, Louis mempunya ruangan yang sangat menakjubkan, bahkan melebihi markas milik Margaret. “Apa itu?” tanya James penasaran dengan benda besar seperti batu yang ada di tengah ruangan. Banyak peralatan canggih yang mengelilingi benda itu, dan juga kertas mantra di tempel sangat banyak. “Benda itu berasal dari Hutan Keramat,” jawab Louis dengan bangga. Ia senang melihat James terkejut. “Bagaimana bisa kau mendapatkan benda ini?” tanya James heran karena tahu benda apa yang di bawa oleh Louis. “... kau harus mengembalikan benda itu, Louis. Sebelum semuanya terlambat.” Louis terkekeh, “Aku memang akan mengembalikan benda itu. lagi pula, tempat ini tak aman untuknya. Jika ada orang jahat yang tahu, mereka akan memanfaatkan segala cara untuk mendapatkannya.” Batu Keramat adalah benda terlarang bagi manusia. karena dengan batu itu, segala keinginan manusia akan terwujud, tapi sebagai imbalannya, anak turun mereka akan dijadikan tumbal oleh siluman yang ada di dalam batu itu. “Besok, kita pergi ke Hutan Keramat,” final Louis dengan semangat. James ragu untuk pergi ke Hutan Keramat. “Kenapa tak minta jasa kurir,” tolak James dengan cepat. “Saat manusia biasa menyentuh batu itu, maka dia akan langsung terpedaya, James. Aku membawa batu itu karena ingin meneliti gerbang menuju ke Dunia Siluman, tapi ternyata batu itu tak bisa di kendalikan lebih lama lagi.” Louis menaruh tangannya di saku celana, sambil tersenyum pahit. “Jangan bilang kau ingin masuk ke Dunia Siluman untuk melakukan perang besar-besaran.” Asumsi James dengan cepat. Louis menggeleng perlahan, “Aku tak tertarik dengan itu. aku hanya ingin perdamaian saja.” James menatap punggung Louis dengan lekat untuk menelisik bahu lebar dan kokoh itu. selama menjadi pemburu siluman, pria yang berada di depannya tak pernah sedikit pun menunjukkan kesedihan. Dan lagi, kalau bukan karena Louis, James tak mungkin berada di sini, berdiri tegak menghirup udara yang sama.  Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN