Kehadiran suster Lina yang mendadak

1119 Kata
“Dokter Tio yang menyuruhku ke mari.” Lina menjawab dengan lantang. “Dokter Tio ...?” Diandra berbalik bertanya. Lina menganggukkan kepalanya. “Ya, dokter Tio yang menyuruhku ke mari. Dia juga memberitahukan alamat rumah kalian.” “Untuk apa dokter Tio menyuruhmu ke mari, suster Lina?” tanya Diandra penuh selidik. “Dokter Tio mengatakan untuk aku membantu Mas Adam,” jawab Lina dengan wajah polosnya. “Membantu suamiku?” tandas Diandra. “Tapi kami tidak membutuhkan bantuan. Dokter Tio juga tidak membahas perihal bantuan ini. Bila kamu akan datang ke rumahku. Kenapa ini mendadak?” “Mungkin ini hanyalah masalah kurang komunikasi saja,” jawab Lina sambil tersenyum. “Hanya masalah kurang komunikasi bagaimana?” Kening Diandra berkerut. Seingatnya dokter Tio tidak mengatakan apa pun. Tidak ada yang dibahas soal bantuan tenaga medis, pihak rumah sakit akan mengirim suster Lina untuk membantu Adam. “Pasti dokter Tio dan pihak rumah sakit lupa memberitahu anda, mbak Diandra,” tutur Lina. “Apa anda keberatan bantuan yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit untuk proses kesembuhan Mas Adam lebih cepat?” “Tentu saja aku senang jika proses kesembuhan Adam akan lebih cepat. Tapi dokter Tio bilang, jika ingatan Adam yang hilang suatu saat nanti akan kembali lagi. Hal itu tidak bisa dipaksa. Juga tentang kedua kakinya yang belum bisa berjalan ... Proses kesembuhan Adam agar bisa berjalan lagi, yaitu dengan terapi dan pijat syaraf. Apa kamu bisa melakukannya?” Lina mengangguk penuh antusias. “Tentu aku memiliki sertifikat pijat sebagai terapis. Selain perawat, aku adalah seorang terapis yang handal. Karena itu dokter Tio mengirim ku ke mari untuk membantu Mas Adam.” Diandra mengamati Lina. Firasatnya menjadi tidak enak kepada wanita ini semenjak Adam mengira Lina adalah Rena. Juga semenjak ia merasa Lina menjadi lebih dekat dengan Adam dari pada dirinya. “Hai Suster Lina ...,” sapa Adam yang kini mendekat dengan kursi rodanya. Rahmat yang sudah mengantarkan Adam di depan teras dan bergabung dengan Diandra dan juga Rena kini membalikkan badan dan kembali kepada pekerjaannya. Ia akan memakirkan mobil hitam yang tadi mereka tumpangi dengan benar ke dalam garasi rumah. “Selamat siang Mas Adam,” Lina membalas sapaan ramah Adam. “Kamu ke mari?” “Ya, saya ditugaskan untuk merawat anda.” Raut muka Adam berubah senang. “Oh ya? Kebetulan sekali. Aku memang belum memiliki perawat pribadi.” Kening Diandra berkerut. Ia tidak suka jika Adam dirawat oleh orang lain. Sekalipun orang yang merawatnya memiliki sertifikat seorang terapis yang handal. “Kebetulan sekali memang, aku yang ditugaskan untuk merawat anda.” Senyuman yang terhias di wajah Lina membuat Diandra merasa ada tujuan yang berbeda. “Jadi mulai hari ini, kamu adalah perawatku ... Jadi antarkan aku masuk,” ucap Adam meminta Lina mendorong kursi rodanya. Lina dengan cekatan menuruti keinginan Adam. Sembari membawa tas besar isi pakaian ganti di bahunya, Lina kesulitan mendorong kursi roda. “Diandra, bantu Lina membawa tasnya,” ucap Adam setengah memerintah. Diandra sudah mencium aroma tidak baik. Ia tidak akan menuruti perintah Adam. “Untuk apa aku membawakan tas suster Lina? Ini terlalu berat. Aku akan minta Mang Asep membawa tas ini,” jawabnya ketus. Lina memandang Diandra dengan tatapan menerawang. Diandra sadar, sikapnya seperti itu seolah menunjukkan jika dirinya adalah seorang Nyonya rumah yang sombong. Tapi suster Lina harus tahu siapa Nyonya di rumah besar ini. Ia tidak akan membiarkan gelagat-gelagat tidak wajar yang akan merampas Adam darinya. *** Lina mendorong kursi roda Adam hingga ke dalam kamar. Diandra mengekor di belakangnya. Ketika sudah sampai di sisi ranjang, Lina terlihat sedikit kesulitan untuk mengangkat Adam berpindah ke atas ranjang. Diandra melihat hal itu. Namun ia memutuskan untuk diam saja. Karena suster Lina yang bersikeras untuk merawat. Setelah Adam berada di atas kasur. Terlihat Lina seolah enggan pergi. Ia masih betah berdiri di sisi ranjang dan memandangi Adam. “Ehem ....” Diandra berdeham untuk memecah keheningan. Lina memandang Diandra. “Terima kasih Lina. Silahkan pergi ke kamarmu. Aku akan memanggilmu jika ada yang dibutuhkan. Dan untuk merawat Adam – suamiku, aku bisa sendiri. Kamu di sini hanya bekerja untuk menyiapkan obat, mengingatkan Adam minum obat dan ketika Adam harus terapi berjalan dan pijat syarat,” Diandra menerangkan. “Kenapa tidak dia saja yang merawat ku?” Adam sedikit protes. Diandra tahu, sebelum bertemu dan menikah dengannya, Adam adalah seorang playboy. Mungkin sifatnya ini muncul lagi setelah dia sama sekali tidak mengingat hubungan dan cinta mereka. Dan mungkin Adam ingin mendekati Lina hanya karena wajahnya mirip Rena, pikirnya. “Karena aku istrimu, Adam. Untuk apa kamu memiliki istri jika bukan aku yang merawat kamu?” tandas Diandra. Dahi Adam berkerut. Diandra bisa membaca ketidaksukaan keputusannya. “Sudah aku bilang ... Walau kamu tidak ingat tentang kita. Fakta jika aku adalah istrimu tidak bisa dielak dan diubah,” ujar Diandra tegas. Adam tidak bisa berkata-kata lagi. Apa lagi ketika netranya melihat foto pernikahannya dan Diandra yang sebesar ukuran poster berbingkai kayu berukir dan tergantung di dinding. Wajahnya dan Diandra terlihat sangat bahagia. Hati Adam terasa tenang ketika melihat foto pernikahan itu. Lina mengikuti ke mana mana Adam memandang. Ia pun sedikit mendongak untuk melihat apa yang dilihat oleh Adam. Yaitu, foto pernikahan Adam dan Diandra. Mereka tampak serasi dengan sorot mata kebahagian terpancar. Kedua tangan Lina mengepal. Menahan geram dam kesal. Diandra yang berdiri tepat di bawah foto yang sangat besar itu melihat bayangan bi Ijah yang melintas dari depan pintu kamar yang terbuka. “Bi Ijah!” serunya memanggil. Bi Ijah spontan berhenti. Ia langsung masuk ke dalam kamar, menghampiri Diandra. “Apa Neng?” tanyanya akrab. Sama sekali tidak terlihat canggung walau Diandra adalah majikannya. “Bi, tolong panggilkan Mang Asep untuk membawakan tas suster Lina yang ada di teras. Dan juga tolong antarkan suster Lina ke salah satu kamar tamu.” Bi Ijah mengangguk. “Baik Neng,” jawabnya. “Mari teh suster Lina ... Saya antarkan ke kamarnya,” sambungnya berbicara kepada Lina dengan bahasa bercampur logat sunda. Lina tersenyum dan membalikkan badan. Mengikuti ajakan bi Ijah. Diandra menarik nafas panjang dan dalam setelah di dalam kamar hanya ada dirinya dan juga Adam. “Aku lelah ... Aku mau tidur dulu,” ujar Adam sembari menarik selimut yang ada di ujung kakinya. “Tidur sianglah yang nyenyak. Kamu memang butuh istirahat yang cukup,” tutur Diandra. Diandra menunggu Adam benar-benar tidur. Lalu ia akan menelepon Ardy untuk menanyakan tentang masa lalu Adam dengan Rena. Ia sangat penasaran apa yang terjadi di masa silam. Apa lagi Dahlia – bibinya Rena mengatakan kemungkinan kematian Rena bukanlah bunuh diri. Dan Adam tahu semua tentang alasan di balik kematian Rena. Apa karena rasa bersalah yang sangat dalam, hingga ketika amnesia pun Adam masih mengingat Rena di dalam memori kepalanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN