“Mbak Diandra!” panggil Lina sambil mengetuk pintu.
Namun pintu kamar mandi sudah ditutup rapat, lalu suara kran air yang mengisi bath tub membuat suara Lina yang memanggil tidak terdengar.
“Mbak Diandra ...! Mas Adam ...!” panggil Lina sekali lagi.
Asih – asisten rumah tangga di rumah besar ini yang bertugas bersih-bersih seluruh isi rumah merasa aneh dengan Lina. Niatnya semula ingin
membersihkan salah satu kamar kosong di dekat kamar Diandra dan Adam. Tapi karena melihat Lina mengetuk-ngetuk pintu agar segera dibuka, membuatnya terketuk untuk bertanya. “Teh, ada masalah apa? Apa ada hal yang sangat penting sampai harus mengetuk pintu sampai begitu?”
Lina terkejut. Ia langsung membalikkan badan. Ia dan Asih saling berpandangan satu sama lain.
“Kamu suster baru yang bekerja di sini, untuk merawat Tuan Adam kan?” tanya Asih sambil mengamati.
Lina mengangguk. “Iya, betul. Ada apa memangnya?” tanyanya ketus. Ia tidak ingin diusik.
“Tidak ada apa-apa sih ...,” jawab Asih lirih. “Aku hanya heran, ada masalah apa sampai kamu mengetuk pintu kamar Tuan dan Nyonya sebegitunya?
Apa ada yang penting?” lanjutnya kepo.
Lina tidak langsung menjawab. Ia harus membuat alasan yang tepat, agar Asih tidak curiga. “Ponselku sepertinya tertinggal di kamar Mbak Diandra dan Mas Adam. Aku harus menelepon orang tuaku, karena sepertinya aku harus menginap di sini.”
Kedua alias Asih bertaut. “Memangnya kamu belum bilang dan minta izin ke orang tua? Padahal tadi aku lihat, ada koper di kamar kamu,” ujarnya.
“Hah, kamu masuk ke kamarku?” Sepasang mata Lina mendelik.
“Tentu saja,” jawab Asih dengan wajah tanpa dosa. Ia mengangkat sapu ijuk, kemoceng dan juga sebuah kain lap. “Aku bagian bersih-bersih ruangan. Jadi ... tentu saja aku masuk ke kamar kamu.”
Lina memandangi sapu alat tempur kebersihan yang dibawa oleh Asih. Di dalam kepalanya langsung terbersit sebuah ide. “Kamu mau bersih-bersih kamar Mbak Diandra kan? Ini masuklah ....”
“Sebetulnya aku akan membersihkan kamar di sebelah sana,” jawab Asih sambil menunjuk kamar yang berada di sudut ruangan. "Bukannya kamar Non Diandra dan Tuan Adam."
“Kamar siapa itu?” tanya Lina sambil melihat ke arah jari Asih menunjuk.
“Kamarnya Nyonya,” jawab Asih. “Tapi kosong. Kan Nyonya Hesti, sedang menjalani perawatan kejiwaan.”
“Iya, aku tahu tentang itu,” sahut Lina. “Mau kamar mana yang lebih dulu kamu bersihkan itu tidak penting kan,” lanjutnya berbicara kepada wanita berusia tiga puluh tujuh tahun itu. “Lebih baik, kamu membersihkan kamar Mbak Diandra lebih dulu, baru membersihkan kamar Nyonya Hesti.”
Kedua alis Asih mengerenyit. “Lah memangnya kenapa? Saya mau membersihkan kamar Nyonya Hesti dulu. Membersihkan kamar Non Diandra dan Tuan Adam nanti saja saat mereka sudah keluar kamar. Mereka kan masih ada di dalam.”
Lina menatap Asih dengan tatapan berkaca-kaca. Berharap dikasihani. “Bisa gak Bi Asih bantu aku? Aku butuh sekali ponselku yang tertinggal di kamar Mbak Diandra," tuturnya lirih.
"Tunggu saja sampai mbak Diandra membuka pintu kamarnya. Tentu saja kita tidak akan sopan jika langsung nyelonong masuk," ujar Asih.
"Tadi Bi Asih lihat sendiri kan jika aku sudah memanggil-manggil Mbak Diandra untuk dibukakan pintu tapi tidak kunjung dibukakan," kata Lina. "Bi, tolong aku ... buka pintu kamarnya. Aku harus mengambil ponselku yang tertinggal di dalam untuk segera menghubungi orang tuaku."
Asih mengatupkan bibirnya. Sebetulnya ia tidak mau membantu Lina. Tapi karena Lina terus merengek dan memohon, akhirnya ia pun mengiyakan.
"Ya sudah aku temani."
Lina tersenyum lebar. Akhirnya ada cara untuk menganggu Diandra dan Adam agar tidak dapat bermesraan, batinnya bahagia.
Asih memegang kenop pintu. Ia berdiri di bagian paling depan, dan Lina di belakang.
"Karena tidak ada jawaban dari dalam kamar, kalau aku masuk sendirian, kan tidak sopan," kata Lina.
"Lalu, kalau berdua begini, namanya sopan?" tandas asih.
"Tapi setidaknya kalau ada apa-apa, ada saksi mata. Semisal ada barang hilang, aku tidak akan disalahkan, karena aku tidak sendiri," Lina menjawab.
Asih membuka pintu kamar, sambil mengucapkan salam dan permisi.
Tapi suaranya disambut kesunyian. "Non Diandra dan Mas Adam tdiak ada. Ke mana mereka?" tanyanya yang dilanjutkan oleh jawabannya sendiri. "Oh sepertinya mereka berdua ada di dalam kamar mandi," tuturnya sambil nyengir kuda saat mendengar suara kran air mengalir.
Asih menutup mulutnya sendiri. Raut mukanya memerah. Tersipu malu, membayangkan Diandra dan Adam berada di dalam kamar mandi berduaan.
"Ah dasar ya ... mereka mandi berdua begitu. Kayanya, Tuan Adam udah gak sabar."
Lina berdiri mematung sembari memandangi daun pintu kamar mandi.
Wajahnya merengut.
"Teh, cepat ambil ponsel kamu yang tertinggal itu!"
Asih mengingatkan.
Lina tidak bergerak.
“Hei ... Teh ...!” panggil Asih untuk kedua kalinya sambil menyentuh bahu Lina.
Lina terkesiap. Ia langsung menoleh dan menatap Asih. “Ada apa?”
“Kok ada apa sih ...,” gerutu Asih. “Katanya ada ponsel kamu yang tertinggal di sini. Cepat ambil. Kita berdua sudah masuk ke dalam kamar majikan. Kalau Non Diandra dan Tuan Adam keluar kamar mandi, dan melihat kita ... Kamu bisa bayangkan, bagaimana? Mereka pasti malu. Dan kita terlihat tidak sopan!” serunya kesal. “Cepat, ambil ponsel kamu yang tertinggal itu!”
“Iya, iya Bi ...,” jawab Lina sambil berjalan menuju ke lemari nakas samping tempat tidur. Ia pura-pura mengambil sesuatu dari sana. Seolah-olah mengambil ponselnya dan memasukannya ke dalam saku rok span abu-abu di atas lutut.
“Cepat, teh ...,” ujar Bi Asih mengingatkan.
“Iya bi ... Sebentar,” jawab Lina.
“Sebentar apa sih? Udah ketemu kan hapenya? Cepet kita keluar. Enggak enak, kalau sampai Tuan Adam dan Non Diandra keluar dari kamar mandi.”
Netra Lina berpendar. Ia sedang berpikir cepat tentang apa seharusnya yang dilakukannya. Menggagalkan Diandra yang akan mengajak Adam berendam bersama, tapi ternyata mereka berdua sudah terlanjur masuk ke dalam kamar mandi.
“Astaga ... Kamu lama sekali sih?!” gerutu Asih kesal. “Hapenya sudah ketemu. Tapi enggak segera keluar!” sambungnya sambil berjalan mendekati Lina dan menarik paksa tangannya. Mengajaknya keluar dari kamar Diandra dan Adam.
Lina mengendus kesal sambil memandang nanar pintu kamar mandi yang tertutup. Dari luar kamar mandi tidak terdengar apa pun. Hanya suara kran mengalir yang menggema.
Dengan langkah berat dan hati yang membuncah kekesalan, Lina terpaksa keluar kamar. Sudah terlambat untuk merusak rencana Diandra mengambil hati Adam. Semoga saja tidak terjadi apa pun di dalam kamar itu!, batinnya berharap.
***
Adam memejamkan matanya ketika Diandra mulai melecuti pakaiannya satu persatu. “Hei, hei ... Kamu sedang apa!” tegurnya. “Kenapa buka baju!”
“Mandi lah ...,” jawab Diandra enteng. “Masa mandi pakai baju?” jawabnya sambil akan melepaskan bra yang dikenakannya. Kini ia hanya mengenakan bra dan celana pendek yang belum terlepas dari badannya.
Melihat Adam memejamkan matanya, membuat Diandra menahan tawa. Biasanya dirinya yang memejamkan mata, dan Adam yang berlaku agresif. Tapi kini situasinya terbalik.
“Kamu mau berendam tidak?” tanya Diandra sambil menyalakan beberapa lilin aroma therapi yang ditaruhnya di dekat wastafel.
Adam mulai menghirup aroma nyaman yang menenangkan. Lalu tangannya terasa digenggam oleh Diandra.
Adam membuka kelopak matanya perlahan. Diandra sudah berada bersimpuh di depannya. Mereka bertatapan sejenak. “Aku bantu melepaskan pakaian mu ...,” ujarnya lirih.