Hasutan Lina

1111 Kata
“Non Diandra ...,” panggil bi Ijah dari belakang. Diandra menoleh. Ketika melihat bi Ijah, bibir Diandra tersungging senyuman kecut. “Ada apa Bi?” “Lebih baik tidak usah menggunakan perawat,” kata bi Ijah menyarankan. “Memang kenapa?” “Saya lihat semuanya, Non ... Sikap suster Lina itu terlalu berlebihan merawat Tuan Adam. Bagaimana jika ternyata suster Lina memiliki niat terselubung.” Kening Diandra berkerut. “Aku memang sedikit cemburu sih ... Tapi tidak sampai memikirkan tentang niat terselubung yang direncanakan Lina,” katanya. "Lina hanya seorang perawat yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit untuk merawat Adam. Rasanya berlebih jika kita menduganya memiliki niat terselubung." "Entahlah Non ...," ujar Bi Ijah lirih. "Yang pasti bibi merasa ada yang aneh dengan gelagat suster Lina." Diandra menepuk bahu Bi Ijah. "Sudahlah Bi ... Jangan terlalu dipikirkan. Walau terkadang aku juga sedikit cemburu dengan caranya merawat Adam yang sakit, tapi suster Lina memang telah melakukan tugasnya." Bi Ijah menarik nafas panjang dan dalam. Ia sudah tua, usianya sekitar lima puluh satu tahun. Usia yang sudah banyak mengarungi kehidupan dan karena pengalaman hidupnya, ia bisa membaca raut muka dan gestur tubuh seseorang. "Bibi hanya tidak ingin Non Diandra sedih dan menyesal di kemudian hari." Diandra tersenyum dan memeluk pembantunya sebentar dan kemudian melepaskannya lagi. "Terima kasih Bi. Bibi selalu perhatian kepadaku layaknya orang tuaku," katanya dengan sorot mata penuh ketulusan. Bi Ijah mengangguk pelan. "Non Diandra harus hati-hati sebelum terlambat," tuturnya lirih. Hubungan Diandra dengan pembantunya memang sudah seperti keluarga. Apa lagi Diandra yang sejak kecil hingga berusia delapan belas tahun tinggal di panti asuhan membuatnya haus kasih sayang dan menerima setiap nasehat dari orang yang lebih tua. Sekalipun itu nasehat dari asisten rumah tangganya sendiri. *** Lina mendorong kursi roda Adam sembari tersenyum tipis penuh arti. ‘Ini baru awalnya ...,’ ujarnya di dalam hati. “Lina antarkan aku ke kamar saja,” ujar Adam sembari menunjuk ke arah pintu kamarnya. “Kenapa ke kamar? Sekarang sudah hampir jam setengah tiga. Lebih baik kita keluar dan menikmati sore hari,” kata Lina mengajak. “Aku rasa nanti saja,” jawab Adam. “Aku sedang malas,” sambungnya. “Malas kenapa?” tanya Lina ingin tahu. Adam hanya tersenyum kecut. Ia tidak menjawab dan memberitahukan kepada Lina jika sedang kesal pada Diandra. Dan hal itu membuat suasana hatinya menjadi berantakan. “Kita bisa keluar dan berkeliling kompleks. Atau kita ke taman belakang dan minum kopi?” "Bukankah Adam baru minum obat?" tegur Diandra dari belakang. Nasehat yang diberikan bi Ijah membuatnya harus bersikap hati-hati, dan tidak mempercayakan sepenuhnya kepada suster Lina. Setidaknya yang dikatakan Bi Ijah memang ada benarnya. Jangan sampai wanita lain merebut hati Adam. Mungkin kurang lebih begitulah inti dari nasehatnya tadi. Lina dan Adam menoleh. Memandangi Diandra yang berjalan mendekat ke arah mereka. "Kok ngajak Adam minum kopi sih, Lin? Bukannya Adam baru minum obat saat makan siang tadi?" "Eh ... Maksud ku, minum kopinya bisa setengah jam lagi. Tidak sekarang kok mbak," jawab Lina meralat. "Oh ya, aku belum menelepon dokter Tio rentang kamu yang sudah ke mari," kata Diandra. Mendengar niat Diandra yang akan menghubungi dokter Tio membuat raut muka Lina berubah sedikit pucat. "Aku rasa tidak usah menghubungi dokter Tio. Pasti dia sibuk." "Hanya mengucapkan terima kasih karena sudah mengirimkan perawat, rasanya tidak akan menggangu harinya," kata Diandra sambil mengambil ponsel dari saku celananya. Netranya melirik ke arah Adam yang sejak tadi memandanginya. "Aku benar kan Adam, kita harus mengucapkan terima kasih kepada dokter Tio. Jika kita tidak mengucapkan apa-apa pada dokter Tio, aku rasa kita seolah seperti manusia yang lupa berterima kasih." Kedua alis Adam terangkat ke atas. "Terserah kamu saja," jawabnya ketus. "Lina, suster Lina, antar aku ke kamar. Aku ingin bersantai di kamar sambil menonton film saja." Lina ingin melihat apa Diandra sungguh menghubungi dokter Tio atau tidak. Ia tidak mendengarkan permintaan Adam. Kedua matanya memandang lekat tangan Diandra yang mengusap layar ponselnya. "Suster Lina, ayo antarkan aku ke kamar!" pinta Adam sekali lagi. "Oh iya mas Adam!" seru Lina gelagapan. Kedua tangannya sontak langsung memegangi pegangan kursi roda dan mendorongnya menuju kamar. Lina masih mencuri pandang menoleh ke belakang. Dilihatnya Diandra mengarahkan ponsel ke daun telinga. 'Semoga dokter Tio tidak mengangkat panggilan teleponnya,' batinnya. "Argh ... Kenapa tidak diangkat-angkat," guman Diandra. Ia pun berusaha menelepon kembali. Hingga sudah tiga kali menelepon, ternyata tidak ada jawaban. Diandra pun mengurungkan niat. Lalu ia beralih mengirim pesan chat kepada dokter Tio yang berisi ucapan rasa terima kasih karena telah begitu perhatian kepada keluarganya. Harusnya sebelum mengirimkan suster Lina ke rumahnya, dokter Tio memberitahukannya terlebih dahulu. Pesan sudah terkirim. Sudah terlihat dua ceklis berwarna hitam, tanda pesan sudah terkirim dan diterima. Namun belum dibaca, karena warna tanda dua ceklis tersebut belum berwarna biru. Lina kembali mencuri pandang ke arah Diandra. Ia tahu jika dokter Tio tidak menjawab panggilan teleponnya. Makanya Diandra memilih mengirimkan pesan chat. 'Aku harus melakukan sesuatu agar doker Tio tidak memberitahukan kepada Diandra jika pihak rumah sakit tidak mengirimkan perawat ke mari. Ini hanya sebuah rencana agar aku bisa menghancurkan keluarga ini,' batinnya. Lina telah mengajukan cuti ke rumah sakit tempatnya bekerja. Lalu ia ke mari mengatakan kepada Diandra dan Adam bila dirinya adalah perawat yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit untuk membantu Adam agar segera pulih. Bisa berjalan kembali dan bisa mengingat satu persatu kenangannya yang hilang. "Suster Lina, apa kau tidak mendengarkan aku?!" Suara Adam sangat nyaring. Hingga membuat lamunan Lina buyar. "Ah, maaf Mas Adam. Tadi aku sedikit melamun," jawab Lina. "Ada apa ...?" "Melamun?" tanya Adam ragu. "Memangnya kamu melamun apa?" "Aku merasa Mbak Diandra tidak menyukai ku. Mungkin mbak Diandra tidak suka bila mas Adam cepat pulih." Adam menoleh. Memandangi Lina sesaat dan kemudian memalingkan mukanya lagi. "Kenapa Diandra tidak suka aku cepat pulih? Bukankah kondisiku yang enggak bisa jalan begini justru merepotkan semua orang." "Kalau mas Adam tidak bisa berjalan, hal itu membuatnya mudah untuk keluyuran tanpa dicari oleh Mas." Kening Adam berkerut. "Maksudnya?" "Seperti saat ini, mbak Diandra keluar rumah. Mengaku ke rumah saudara kembarnya, Bunga. Padahal, Mbak Diandra bertemu dengan Yogi." Telapak tangan Adam bergerak naik ke atas. Mengisyaratkan agar Lina menghentikan laju kursi rodanya. "Maksud kamu Diandra selingkuh?" Lina mencondongkan tubuhnya. Sengaja agar belahan dadaanya bisa terlihat lebih jelas oleh kedua mata Adam. Ia menghasut sekaligus menggoda. "Hm ...," gumannya mengangguk. "Saat di rumah sakit, aku kerap melihat Mbak Diandra dan pria yang katanya sahabatnya itu duduk berdua dan berbincang mesra." Dahi Adam semakin berkerut. Kedua matanya memicing. "Oh ya? Walau aku tidak mencintai Diandra. Tapi aku tidak akan sudi dibodohi dan ditusuk dari belakang!" sungutnya. "Aku jadi sangat yakin jika pernikahan kami memang dijodohkan." Lina tersenyum licik dan puas mendengar Adam merutuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN