Richard mundur dan berbalik meninggalkan Anora dan Papanya untuk bercengkrama. Ia bahagia melihat Anora bisa tersenyum seperti itu. Sudah lama rasanya ia tak melihat Anora tersenyum seperti tadi dan ia merasa puas melihat perempuan itu bisa sebahagia tadi. Di dalam mobil sambil menunggu Anora dan Papanya selesai bercengkrama, Richard memeriksa ponselnya. Ponsel yang sudah dua hari ini ia matikan karena lelah menghadapi teror dari mantan istinya, Jihan. Beberapa pesan berebut masuk mencari perhatiannya, ia membaca pesan-pesan itu dengan dahi berkerut dan kepala yang tiba-tiba saja pusing sekali. Jihan tak berubah sama sekali dan ia sangat kesal. Ia sudah cukup bersabar selama ini saat perempuan itu bertingkah macam-macam meminta ini itu hingga Mama Richard harus meninggal karena frustasi.

