BAB 36 : Hantu Tanpa Lidah - Bagian 8

1412 Kata
“Xena, jangan terhanyut ke dalam emosi dari kilas balik ini. Energi di dalam tempat ini bisa tidak seimbang.” Lamunan Xena pecah begitu mendengar suara dari Zenon. Sesungguhnya, dia juga tidak mengerti mengapa dia merasa sangat bersimpati kepada Serene. Mungkin perasaan itu timbul akibat mereka sama – sama berasal dari dunia hiburan dan sangat mengerti betapa busuknya dunia yang menganggap para selebriti hanyalah sebuah boneka pajangan yang dijajakan dalam etalase kaca. Walaupun begitu, tetap saja ada banyak orang yang berusaha keras untuk mendapatkan tempat di dalam etalase kaca tersebut. Meski pada akhirnya, boneka yang mampu dipajang hanyalah para boneka yang bisa menarik perhatian si pemilik boneka. Oleh karena itulah, ada sebuah rahasia umum yang tersebar di kalangan para selebriti tentang menjadi tenar dengan cara memanjat tempat tidur salah seorang eksekutif di dalam agensi mereka. “Tuan Rodriguez memang sangat busuk. Dia telah banyak melakukan kejahatan seperti penipuan, kekerasan, dan pelecehan terhadap wanita tapi masih bisa hidup bebas hingga sekarang. Aku yakin Serene bukanlah satu – satunya model yang pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan seperti ini.” Zenon menyetujuinya, “Tampaknya memang pria itu telah melakukan hal seperti ini dalam kurun waktu yang lama. Jika tahu dia sebusuk ini, aku pasti akan membuatnya merasa ketakutan sampai dia ingin mati saja!” “Parlan itu … lidahnya telah terpotong, mungkinkan itu juga ulah dari Tuan Rodriguez?” tanya Xena. “Kemungkinan besar iya.” Zenon menghela napas pelan. “Tapi jika itu benar, maka Parlan tidak pernah berhasil membawa Serene pergi ke Tiongkok.” Tatkala rintikan hujan berhenti menghantam bumi, Parlan mengecek keadaan di luar sebelum memberikan kode kepada Serene untuk keluar dari tempat persembunyian secara diam – diam. “Nona Estelle, perjalanan ke Tiongkok mungkin akan sangat sulit karena kita masuk menggunakan kapal barang. Apakah kamu siap untuk menanggung berbagai macam kesulitan?” Tidak butuh waktu lama bagi Serene untuk mengangguk. “Tidak masalah. Hidupku jauh lebih sulit saat berada di dalam genggaman Tuan Rodriguez, menahan kesulitan di dalam kapal barang selama beberapa hari mungkin akan terasa lebih mudah.” Seusai mendengar perkataan Serene, Parlan segera mengajak Serene untuk pergi dari tempat itu. Mereka kemudian berusaha menghunungi kenalan Parlan menggunakan telepon umum supaya tidak terlacak. Kenalan Parlan untungnya adalah seseorang yang cukup dekat dengan Parlan saat masih sekolah dan berkata akan berusaha membantu Parlan untuk melarikan diri dari kejaran Peter Rodriguez. “Berapa biaya yang harus kubayar?” tanya Parlan ragu. Pasalnya dia dan Serene melarikan diri dengan membawa sedikit uang. Tanpa disangka, kenalan Parlan malah berkata, “Tidak. Tidak. Kita adalah kawan lama, aku pasti tidak akan memungut biaya darimu. Datang saja ke pelabuhan malam ini, kebetulan ada kapal barang yang akan berangkat. Jangan sampai terlambat karena kamu harus menunggu satu minggu lagi untuk mendapatkan kapal barang lain.” Parlan tersenyum cerah. “Terima kasih, Hans. Aku pasti akan berusaha keras untuk membayarmu di kemudian hari.” “Sahabatku, Parlan. Tidak perlu merasa sesungkan itu kepadaku.” Setelah berbincang sebentar, Parlan segera menutup telepon umum dan pergi bersama Serene menggunakan taksi. Beruntung uang yang tersisa di dalam saku Parlan cukup untuk membayar tarif taksi sehingga mampu menghemat waktu. Sesampainya di pelabuhan, teman lama Parlan yang bernama Hans telah menunggunya di dekat tumpukan kontainer yang akan segera diangkut ke atas kapal. “Parlan! Akhirnya kamu sampai. Aku sudah khawatir kamu ditangkap oleh anak buah Tuan Rodriguez dan tak mampu datang kemari.” Parlan tersenyum, “Ya, beruntungnya kami dapat melarikan diri dengan mudah dari kejaran anak buah Tuan Rodriguez. Hans, aku benar – benar berterima kasih kepadamu karena telah repot – repot memberikan jasa secara gratis, aku pasti akan membayarmu suatu saat nanti.” “Parlan. Parlan. Ketika masih di sekolah, kamu selalu membantuku mengerjakan tugas – tugas yang tak dapat kumengerti dan sekarang aku hanya ingin membalas budi. Jadi, kamu tidak perlu membayarku sama sekali.” Tidak ingin berbincang tentang masalah uang lebih lanjut, Hans melirik ke arah Serene. “Apakah ini adalah Nona Estelle yang wajahnya selalu berkeliaran di televisi itu?” Serene mengangguk pelan dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hans. “Perkenalkan, saya adalah Serene Estelle. Maaf karena telah merepotkan Anda, Tuan Hans.” “Nona Estelle, masalahmu pasti sangat rumit sampai ingin melarikan diri seperti ini.” Tanpa membuang banyak waktu lagi, Hans bergegas memandu Parlan dan Serene menuju salah satu kontainer kosong yang sebentar lagi akan dinaikkan ke atas kapal. Biasanya, orang – orang yang akan diselundupkan memang dimasukkan ke sebuah kontainer kosong yang telah diisikan persediaan makanan dan tempat buang air sementara. Bisa dibilang, tempatnya tidak begitu layak, tapi orang – orang yang ingin kabur seperti Parlan tidak mempunyai pilihan untuk memilih. Sebelum membukakan pintu kontainer, Hans sempat menyelipkan sebuah amplop tebal berisikan uang ke dalam kantung baju Parlan. “Simpanlah untukmu hidup di Tiongkok untuk sementara waktu.” Parlan buru – buru menolak dan hendak mengembalikan amplop tersebut. “Aku tidak mungkin bisa menerimanya.” Hans lantas bersikeras, “Simpanlah! Tiongkok itu adalah negara yang keras, bila kamu datang tanpa membawa sepeser pun uang, kamu pasti tidak akan bisa hidup!” Pada akhirnya, Parlan menerima uang tersebut karena dia tidak bisa memungkiri perkataan Hans. Karena bagaimana pun juga, dia dan Serene butuh makan untuk bertahan hidup di Tiongkok. “Hans, kamu terlalu baik. Terima kasih banyak, kawan.” Hans tersenyum dan menepuk pundak Parlan beberapa kali. “Tidak masalah. Lagipula, aku sedang mendapatkan keuntungan besar malam ini.” Hans kemudian menarik tuas penahan pintu kontainer dan membukanya. Akan tetapi, begitu Hans memperlihatkan isi dari dalam kontainer, senyuman Parlan berangsur – angsur memudar. Karena di dalam kontainer tersebut berisikan sekelompok pria berpakaian hitam yang Parlan ketahui sebagai bawahan dari Peter. Sontak Parlan segera menoleh ke arah Hans. “Apa maksudnya ini, Hans?” Hans tersenyum, “Aku telah membuat kesepakatan dengan mereka untuk menangkapmu, Parlan. Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati, karena bagaimana pun bisnis adalah bisnis.” Parlan membulatkan matanya dan hendak melayangkan pukulan ke wajah Hans, tetapi beberapa pria tiba – tiba saja muncul dari samping kontainer dan menahan kedua lengan Parlan. “Hans, kamu b******n! Bisa – bisanya kamu menjual temanmu sendiri seperti ini!” “Tidak ada pertemanan dalam dunia bisnis, kawanku.” Hans kemudian mulai melangkah pergi sebelum berkata, “Berkat kamu, aku mendapatkan keuntungan besar malam ini.” Hati Parlan seketika dipenuhi oleh kemarahan. Padahal dia telah mempercayai temannya tapi malah dibalas dengan sebuah pengkhianatan seperti ini. Dan karena kepercayaan itulah, Parlan turut membuat Serene dalam bahaya. Parlan di bawa masuk ke dalam kontainer dengan paksa, sedangkan Serene di bawa oleh beberapa orang untuk menjauh dari tempat Parlan. Wanita itu berusaha keras untuk memberontak, tapi perlawanan seorang wanita bertubuh kecil tidak akan sebanding dengan tubuh para pria berbadan kekar yang membawanya. “Lepaskan Nona Estelle, sialan!” teriak Parlan marah. Parlan memberontak dengan keras. “Lepaskan! Jangan menyentuh Nona Estelle!” BUK! Teriakan Parlan akhirnya berhenti begitu seseorang memukulkan tongkat kayu ke kepalanya. Seketika pandangan Parlan menjadi gelap dan kesadarannya pun menghilang. “Tuan Gustov!!” teriak Serene putus asa. “Aku berjanji akan kembali ke Tuan Rodriguez dan tidak lagi melawan. Tapi, kumohon biarkan Tuan Gustov pergi.” “Maaf, Nona Estelle. Namun, aku bukanlah orang yang mudah untuk memaafkan.” Suara seorang pria yang sangat dikenali oleh Serene terdengar dari belakang, membuat Serene menoleh dan mendapati sosok Peter yang tengah berjalan ke arahnya. Sontak Serene langsung berlutut di hadapan Peter. Air matanya mulai mengalir turun saat dia berkata, “Kumohon, untuk kali ini saja maafkan aku. Aku pasti tidak akan pernah mengabaikan perintahmu dan menjaga rahasia ini rapat – rapat, kumohon lepaskan Tuan Gustov.” Bukannya merasa iba, Peter malah tertawa. “Nona Estelle, aku mungkin bisa melepaskan Parlan. Tapi, dia sudah terlalu banyak mengetahui rahasiaku.” Peter lalu mengalihkan pandangannya ke arah Parlan yang tidak sadarkan diri. “Anak itu telah lama mengabdi kepadaku, jadi aku tidak akan membunuhnya. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkannya menyebarkan rumor buruk mengenai aku. Bisnisku bisa runtuh apabila dia melakukan itu. Karena itulah, mungkin memotong lidahnya dan memberikan dia ancaman akan membuat anak itu merasa jera.” “Tidak! Tidak! Jangan lakukan itu!” Seru Serene semakin keras. Rasa bersalah menjalari hatinya dan membuatnya mulai menyalahkan diri sendiri. Seandainya saja dia tidak meminta bantuan Parlan dan tetap berdiam diri saat Peter berusaha menodainya untuk kesekian kali, Parlan mungkin tidak perlu merasakan nasib buruk seperti ini. “Nona Estelle, ini adalah hukuman untukmu karena telah berusaha melanggar perintahku.” • • • • • To Be Continued 7 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN