Makan Siang

988 Kata
Lucky menyusuri jalan sembari mengusap air matanya. Dia tidak menyangka Doni masih saja bersikap kasar padanya seperti itu. Lucky pikir hari ini mereka bisa berbaikan atau setidaknya mulai berteman lagi, tapi rasa apa yang dikatakan pepatah itu benar. "Kamu tidak akan pernah bisa bersahabat dengan mantanmu." Lucky mengingat kembali bagaimana lima tahun yang lalu dirinya diputuskan begitu saja oleh cowok itu dengan alasan yang sangat absurb. Doni menuduhnya berselingkuh. Terang saja Lucky tidak mau mengakui hal tersebut. Lucky sangat yakin bahwa dirinya selalu setia. Kemudian, hanya berselang dua minggu setelah mereka putus, Lucky mendengar bahwa Doni sudah jadian dengan cewek lain. Hati Lucky saat itu rasanya bagai diiris sembilu. Kalau Doni memang ingin putus karena dia sudah bosan dengan Lucky, kenapa tidak dia katakan saja dari awal! Kenapa dia harus mengarang alasan yang bukan-bukan? Lucky masih bisa mengingat rasa sakit itu sampai sekarang. Lucky tak keluar kamar sampai berhari-hari, membolos kuliah dan menangis seharian di kamar. Gadis itu lalu mendapatkan hiburan dengan mendengarkan lagu-lagu galau lalu mencoba mencover beberapa lagu dan menguploadnya ke Yout*be. Itulah awal di mana dia mulai dikenal oleh publik. Lucky berhenti di perempatan jalan karena menunggu lampu merah untuk menyeberang. Gadis itu sebenarnya penasaran kenapa Doni masih mengenakan dompet pemberiannya lima tahun lalu itu sampai wujudnya yang sudah tidak berbentuk. Apa Doni demikian miskin sehingga nggak bisa beli dompet baru? Ataukah karena Doni masih belum membuang kenangan tentang dirinya? Kemarin Lucky sempat mengintip isi dompet itu. Di bagian dalam dompet, Lucky menemukan satu foto stiker Doni bersamanya. Mengapa Doni masih menyimpan foto itu? Lampu merah sudah menyala tetapi Lucky mengurungkan niatnya untuk melangkah maju. Gadis itu berbalik lalu setengah berlari kembali ke restoran. Walau bagaimanapun, Lucky sadar bahwa dirinya belum bisa melupakan Doni. Dia harus tahu apa alasan Doni masih menyimpan barang kenangan milik mereka. Dia harus tahu! Lucky hanya tinggal sepuluh meter dari depan Kafe. Gadis itu menghentikan langkahnya ketika melihat sosok Doni yang terlihat dari luar karena dinding Kafe yang terbuat dari kaca. Doni sedang duduk dan tertawa, di depannya duduk seorang wanita berseragam polwan dengan rambut pendek yang manis. Mereka berdua tampak bercanda dengan riang. d**a Lucky terasa amat sesak menyaksikan pemandangan itu. Lucky terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya melangkah pergi sembari menghapus air matanya. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Begitu Lucky menerima panggilan itu cicitan Bella langsung terdengar. "Kakak di mana di sekarang? Cepat ke sini!" *** "Tumben banget sih, Bang, tiba-tiba nraktir di tempat kayak gini?" Erin takjub dengan makanan dan kursi empuk yang didudukinya. Baru pertama kali baginya masuk ke dalam Kafe yang harga kopinya paling murah seratus ribu itu. "Udah nggak usah banyak komentar, abisin aja," ujar Doni sambil melahap spagetinya. Hatinya benar-benar mendongkol karena Lucky tadi. Cewek itu bahkan tidak tahu gaji Doni bulan ini sudah habis hanya untuk mengajaknya makan di sini. Kok bisa-bisanya dia pergi begitu saja tanpa makan dulu. Erin memandangi milkshake strawberry di hadapannya yang begitu indah. Kok rasanya sayang sekali harus memakan makhluk secantik itu. Gadis itu mengeluarkan kamera dan mulai memotret-motret makanan yang ada di depannya. Doni geleng-geleng melihat perilaku cewek jaman now itu. Di traktir nggak buruan di makan malah di foto-foto dulu. "Mau saya upload di i********:, Bang, biar kayak cewek gaul yang sering ngafe gitu. Saya ogah digosipin jomblo ngenes terus di grup chat SMA." Doni tertawa kecil mendengar penuturan Erin yang ajaib itu. Dering ponsel mengalihkan perhatian Doni. Cowok itu segera menjawab panggilan dari AKBP Yoga itu. "Ya, Komandan." Doni mendengarkan dengan seksama suara yang mengalir dari dalam ponselnya dengan serius. "Kasus pembunuhan? Di Apartemen X? Baik saya segera ke sana. Ya, Ipda Erin bersama saya. Baik." Erin mengerucutkan bibirnya ketika mendengar obrolan Doni dengan atasannya di telepon itu. Dia bahkan belum selesai menghabiskan makan siang mewahnya. Kenapa sih banyak sekali kasus pembunuhan di kota metropolitan ini? "Erin, ayo buruan," seru Doni yang segera mengenakan jaket kulitnya setelah mengakhiri pembicaran di telepon dengan bos mereka. "Bentar, aku minta ini dibungkus dulu, Bang." *** Pak Agung CEO Andromeda Agency menghentak-hentakkan kakinya dengan suara keras sambil menatap tajam Bella yang tertunduk di hadapannya. Pria berkumis tipis itu bersedekap sembari bersandar pada kursi ergonomis. "Apa saja yang kamu kerjakan, Bella! Kenapa mengawasi kakakmu sendiri saja kamu tidak becus!" olok Pak Agung. Bella menelan ludahnya. "Maafkan saya, Pak, ini tidak akan terulang lagi." Pak Agung menunjuk hidung Bella dengan kasar. "Aku juga dengar dua hari yang lalu dia keluar malam-malam untuk membeli semur jengkol. Apa kamu tahu, diet mayo-nya sudah gagal gara-gara itu? Nettizen sudah ramai berkomentar lengannya yang terlalu besar di malam anugrah musik kemarin. Besok, kamu harus bawa dia fitness atau apa! Aku tidak mau tahu. Seminggu ini dia harus turun minimal tiga kilo. Paham kamu?" Bella mengangguk pasrah. "Baik, Pak, saya usahakan." Ami yang menyaksikan kejadian itu di pojok ruangan hanya bisa mengelus d**a. Beruntung bagi Ami dia hanya perlu merias wajah artis saja, pekerjaan sebagai manajer memang sangat berat. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Lucky muncul dari sana. Gadis itu tampak terkejut juga melihat kehadiran CEO agensinya di sana. "Pak Agung?" sapa gadis itu. "Lucky, akhirnya kamu datang juga, Sayang." Pak Agung tersenyum dengan manis. Perangainya berubah menjadi ramah ketika berbicara dengan Lucky, sikapnya benar-benar jauh berbeda ketika memperlakukan Bella tadi. "Pak Agung tumben ada di sini?" tegur Lucky. "Karena ada beberapa komplain dari pihak sponsor atas keterlambatanmu, jadi aku sengaja ke sini untuk mengobrol sebentar dengan Bella." Lucky memandang adiknya dengan membelalak lalu menelan ludah. Gadis itu tampaknya sadar dengan efek dari perbuatannya. "Maafkan saya, Pak, saya ada urusan sebentar tadi," jelas Lucky. "Tidak apa-apa, Lucky, no problem," kata pria yang flamboyan itu sembari mengibaskan jarinya. "Kamu sudah di sini sekarang, ayo segera berdandan agar pemotretannya bisa segera dimulai." Lucky mengangguk. Dia segera duduk di kursi hidrolik agar Ami bisa segera mendandaninya. "Baiklah, kalau begitu, Sayang. Aku pergi dulu ya. Bella, tolong kamu kerjakan apa yang aku beritahukan tadi." Pak Agung tersenyum lalu melangkah keluar dari ruang rias. Lucky melirik adiknya dengan rasa bersalah. "Maaf, Bella, kamu pasti dimarahi Pak Agung ya?" tegur Lucky. Bella tersenyum kecil. "Sudah biasa, Kak." Ami diam-diam tersenyum menyaksikan percakapan kakak-adik itu. Bella benar-benar gadis yang teguh. Jika Ami jadi dia, Ami pasti sudah berhenti sejak lama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN