Puluhan tahun yang lalu, terdapat seorang pria tua kaya raya di Manhattan, New York. Dia termasuk dalam lima besar orang terkaya di Amerika. Pria tua itu bernama Gerald Stiller dan ia memiliki dua orang anak laki-laki, yang pertama bernama Graham Stiller, ayah Gio, dan anak keduanya bernama Gavin Stiller, ayah kandung Gizca. Saat Gerald berada diujung hidupnya, ia memanggil kedua anaknya tersebut dan kemudian membagikan hartanya pada kedua anaknya itu.
Namun sayang, pembagiannya tidaklah adil. Graham hanya mendapat seperempat dari kekayaan sang ayah, dan sisanya menjadi milik Gavin. Setelah lelaki tua itu meninggal, anaknya yang bernama Graham dan keluarga kecilnya merasa tidak terima. Berbagai cara mereka lakukan untuk merebut kembali harta itu. Mulai dari mencoba membuat lumpuh Gavin sampai percobaan pembunuhan. Namun, tidak ada yang berhasil.
Beberapa tahun kemudian setelah Gavin menikah, mereka mendengar bahwa harta Gavin akan jatuh ketangan anaknya yang saat itu masih didalam kandungan.
Mereka mencoba membunuh bayi yang belum keluar ke dunia apalagi berdosa itu dengan cara mencelakai istri Gavin. Karena merasa terancam, Sophia, istri Gavin yang juga ibu kandung Gizca mengajak suaminya untuk bersembunyi dari kejahatan keluarga mereka sampai bayi itu lahir.
Keduanya pun meninggalkan Amerika untuk sementara waktu. Saat itu tempat paling aman adalah Indonesia.
Beberapa bulan di Indonesia, akhirnya anak pasangan Gavin dan Sophia itupun terlahir. Karena mereka masih takut dengan ancaman bahaya di New York, mereka menitipkan bayi perempuan kecil itu pada pasangan suami istri sahabat Gavin dan Sophia di Indonesia yang masih belum mempunyai anak.
Suami istri itu bernama Alvian Syarif dan Diana, orang tua Gizca saat ini. Dan bayi mungil itu mereka beri nama Gizca Angela Syarif yang kemudian mereka anggap sebagai anak sendiri. Orang tua Gizca berjanji akan segera kembali menjemput putrinya saat keadaan mulai membaik. Namun sayangnya, sepuluh bulan kemudian kecelakaan mobil membuat mereka tidak akan pernah bertemu lagi dengan anak semata wayangnya itu. Sebelum menghembuskan napas terakhirmya di rumah sakit, Gavin masih sempat menitipkan pesan pada pengacaranya yang kemudian disampaikan pada keluarga Graham.
"Seluruh harta yang kami tinggalkan ini adalah milik anak kami satu-satunya. dia ada di Indonesia, dan bernama Gizca Angela Syarif. Tolong kalian bawa pulang dia, dan berikan hak dia. Karena, kalaupun tidak kalian berikan, kalianpun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena orang kepercayaan kami akan mengambil alih posisi kami sampai putri kami yang bernama Gizca itu ditemukan."
Semua orang tercekat dengan kenyataan yang ada, awalnya Graham dan istrinya mengira mereka sudah bisa menikmati seluruh kekayaan itu setelah kepergian Gavin dan Sophia. Mereka pun mengacuhkan permintaan itu, dan tidak satupun mencari bayi mungil tersebut.
Sampai beberapa bulan yang lalu, anak bungsu Graham yang bernama Giovanni atau Gio menemukan kenyataan bahwa ternyata dia masih memiliki saudara yang terlantar jauh dari keluarganya. Ia adalah sosok yang sangat jauh berbeda dengan orang tuanya. Gio meminta papa, mama, hingga kakak tertuanya untuk mencari anak bernama Gizca itu dan membawanya pulang. Mereka harus memberikan hak anak itu. Tapi semua orang tak ada yang peduli.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk mencari Gizca dengan bantuan Harvey asistennya. Ia mulai dengan mencari informasi dari pengacara Gavin, namun usahanya menemukan sepupunya tidaknya semudah membalikkan telapak tangan. Ia membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk melacak lokasi pasti Gizca dan keluarganya berada, sebelum akhirnya benar-benar mendapatkan titik terang.
"Ya, begitulah ceritanya," jelas lelaki yang bernama Gio itu seksama. "Maafkan keluargaku, karena mereka kamu jadi tidak bisa bersama keluarga kandungmu," tambahnya dengan nada penuh penyesalan.
Keheningan pun menyapa ruang tamu sederhana yang hanya berukuran tiga kali empat meter tersebut. Gizca terduduk mematung tidak mempercayai kenyataan bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari orang tua yang telah membesarkannya. Diana memeluk Gizca yang duduk disampingnya dengan erat. Matanya berkaca-kaca setelah mendengar cerita Gio tersebut dan kembali mengingat almarhum kedua sahabatnya, orang tua kandung Gizca.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui semuanya?" tanya Gio memecah keheningan.
Gizca menggeleng, wajahnya pucat, ingin menangis tapi air matanya tak mau keluar, ingin berteriak tapi seakan mulutnya terkunci.
"Sayang, maafkan Mama dan Papa yang selama ini tidak jujur padamu. Tapi, kamu harus bisa menerima kenyataan ini," bujuk Diana seraya membelai rambut indah Gizca.
"Sekarang, semua terserah kamu. Mau tetap disini bersama Papa dan Mama, atau kembali pada keluargamu di New York dan mengambil hakmu," tambah Alvian memberikan pilihan untuk Gizca. "Papa harap, kamu mau kembali kesana dan meneruskan amanat kedua orang tuamu sebelum mereka pergi dulu," pintanya sambil menggenggam kedua tangan Gizca yang jemarinya saling bertaut diantara kedua lututnya.
Gizca yang masih larut dalam pikirannya kemudian tertawa kecil dengan nada sinis.
"Nggak! Mama sama Papa pasti bercanda 'kan? Mama sama Papa bohongin aku 'kan? Aku ini anak mama-papa 'kan? Kalian orang tua kandung Gizca 'kan, Ma, Pa? Dan adek, dia adek kandung aku 'kan, Ma, Pa? Jawab sejujurnya Ma, Pa, tolong!" cecar Gizca tanpa henti.
Emosi Gizca kini meledak, Air matanya tak bisa terbendung lagi. Kenyataannya begitu menyakitkan. Orang tua yang sejak bayi merawatnya dan ia pikir sebagai orang tua kandungnya, ternyata hanyalah orang tua angkat.
"Tidak, Gizca sayang, kami jujur. Kamu harus terima semua ini," balas Diana tanpa mau melepaskan pelukannya dari Gizca yang emosi. "Mama tau ini berat untukmu, tapi kamu juga harus bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan pahit, yang tidak pernah Mama dan Papa inginkan. Kami sayang padamu, Nak!"
"Nggak! Nggak mungkin kalian bukan orang tua kandungku. Nggak mungkin! Ini semua bohong!" teriak Gizca sambil berdiri dan kemudian berlari menuju kamarnya sambil menangis.
"Biarkan dia berpikir dulu, Pak, nanti kalau pikirannya sudah kembali segar kami akan kembali kesini dan berbicara lagi dengannya," kata Gio sambil berdiri dan berpamitan pada si empunya rumah, diikuti asistennya, Harvey dari belakang.
*****
Gizca masih tetap saja berdiam diri, diapun juga absen dari kuliahnya tiga hari terakhir. Padahal semester ini baru saja dimulai. Namun, masalah ini terlalu mengganggu pikiran dan jiwanya. Setiap hari dia hanya duduk merenung dipekarangan rumah sambil memandangi ikan koi berenang kesana-kemari dengan tatapan yang kosong. Entah telah sampai dimana sekarang pikirannya berjalan-jalan. Ia masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.
Pagi itu seorang lelaki muda yang memakai jaket kulit hitam mengunjungi rumah Gizca. Ia ingin mengetahui keadaan gadis manis yang sedang jadi pemurung dadakan itu. lelaki itu tidak lain adalah kakak sepupunya yang beberapa hari yang lalu sempat datang kerumahnya. Dia menghampiri Gizca di pekarangan rumah, dan duduk disampingnya.
"Hey, are you okay?" sapa Gio manis, Gizca masih tetap tidak menjawab. "Hello! Girl, are you there?" tanya Gio sambil mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah Gizca.
Gizca yang tengah memakai dress casual selutut berwarna putih gading dengan aksen bunga-bunga itupun tersadar dari lamunannya
"Ah.-i-iya-g gue disini, ada apa?" tanya gadis itu terbata dan melihat orang disampingnya. "Oh, kamu," ralatnya kemudian setelah menyadari bahwa Gio yang sedang menyapanya, "Maaf, aku pikir temen aku."
"Lagi apa?" tanya Gio lembut sambil melihat ke sekitar.
"Gak ada, cuma masih bingung," jawab Gizca kembali mengalihkan fokusnya pada ikan-ikan dihadapannya. "Masih belum percaya sama cerita kamu dan Mama, Papa," lanjutnya.
"Aku sudah mencarimu dari satu tahun yang lalu. Kalau kamu masih belum bisa percaya, kita bisa melakukan tes DNA untuk melihat kalau kita benar-benar bersaudara," tawar Gio. "Meskipun bukan relasi terdekat, tapi kita punya kakek yang sama," sambungnya.
"Ini sangat rumit, Gio," sanggah Gizca.
"Trust me! Kalau kamu kembali ke New York, aku akan melindungimu dari keluargaku yang masih membencimu. Kapanpun kamu butuh, aku akan selalu ada untukmu," bujuk Gio meyakinkan sambil memegang pundak gadis itu seksama.
"Kenapa kamu mau menjagaku, sementara keluargamu sangat membenci keluargaku? Apa kau punya motif tersembunyi?" tanya Gizca berturut-turut.
"No, silly," sahut Gio membela diri dari tuduhan gadis cantik dihadapannya. "Dari kecil aku selalu merasa berbeda dengan keluargaku. Mereka selalu berpesta dan menghamburkan uangnya, menyukai ketenaran, dan selalu dikelilingi orang-orang yang sama dengan mereka, dalam artian kaya, sombong, dan sibuk dengan dunianya sendiri. Sementara aku, aku lebih suka menyendiri atau bersama dengan pekerja di rumah. Selera mereka benar-benar bukan seleraku."
Gizca tetap terdiam meskipun Gio telah memberikan pembelaan panjangnya.
"Percayalah, aku hanya ingin mengembalikan semua ke tempat asalnya. Dan kamu berhak menikmati semua milikmu," lanjut pemuda itu.
"Kenapa juga orang tua itu harus tidak adil dengan jumlah warisannya? Kalau saja beliau membaginya dengan rata, semua ini mungkin akan bisa dihindari," keluh Gizca.
"Mungkin karena Papaku tidak bisa lebih bertanggung jawab daripada Om Gavin," balas Gio.
"Apa kamu kenal dengan orang tuaku?" tanya Gizca dengan tatapan yang lebih serius.
"Om Gavin dan Tante Sophia?" Gio bertanya balik yang dibalas anggukan mantap Gizca. "Aku tidak ingat banyak, aku masih berusia 6 tahun saat mereka meninggal. Hanya saja, mereka sangat perhatian padaku. Saat orang tuaku sibuk berpesta bersama sosialita rekan mereka, om dan tante seringkali menemaniku bermain dirumah. Mereka orang yang sangat baik. Karena itu juga aku bersikeras mencarimu."
"Kamu tahu 'kan, aku tidak bisa begitu saja mempercayai semua ucapanmu?" tanya Gizca masih dengan keraguan.
"Tentu saja! Aku pun tak akan mempercayai orang yang baru pertama kali bertemu denganku," jelas Gio. "Tapi setidaknya percayalah pada orang tua angkatmu. Mereka tahu semuanya!"
Gizca kembali terdiam. Ucapan Gio ada benarnya. Alvian dan Diana, orang tua angkat Gizca tak akan mungkin berbohong akan hal serius seperti ini. Ia terus menimbang setiap kemungkinan yang akan terjadi kedepannya, karena apapun keputusan yang Gizca ambil, ia yakin hidupnya tak akan bisa kembali seperti dulu. Tak akan kembali menjadi Gizca yang sederhana dan anak tertua keluarga Syarif. Mau tidak mau, ia adalah Stiller sejak semua rahasia kelahirannya terungkap. Gizca Angela Stiller, satu-satunya keturunan Gavin Stiller yang masih hidup.
Dengan gerakan yang mantap, Gizca berdiri dari duduknya dan menatap Gio dengan tajam. Giovanni ikut berdiri di samping Gizca yang membuatnya terlihat cukup tinggi karena Gizca hanya setinggi pundaknya.
"Kapan kita akan pergi?" tanya Gizca kemudian yang ditanggapi Gio dengan menaikkan sebelah alisnya hingga menampakkan guratan di dahinya.
"Maksudmu?" Gio balik bertanya tak paham.
"Bukankah kamu ingin aku kembali ke New York bersamamu?"
Gio tersenyum manis mendengar pertanyaan Gizca yang bagai angin segar untuknya.
"Lagipula Mama dan Papa juga ingin aku mengambil hakku. Meskipun orang tua kandungku sudah tidak ada dan aku tak pernah mengenal mereka, aku akan melindungi apa yang pernah mereka lindungi demi aku."
"Jadi, kamu setuju untuk pergi ke New York bersamaku? Aku bisa menjadi Kakakmu?" tanya Gio tidak percaya melihat sepupunya itu sudah mulai menerimanya.
"Sepertinya itu pilihan terbaik," jawab Gizca mantap.
"Baiklah, kalau begitu aku akan meminta Harvey untuk mengurus semuanya. Kita akan kembali ke New York besok," sahut Gio girang.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mulai menggerakkan jarinya untuk menghubungi Harvey sebelum sempat di cegah oleh Gizca.
"Besok? Kenapa buru-buru sekali? Aku bahkan belum mengemas barang-barangku. Aku juga harus berpamitan dengan teman-temanku. Belum lagi aku harus mengurus dokumen pindah kampus, karena aku tidak mau berhenti kuliah begitu saja," cecar Gizca yang dibahas senyuman hangat dari bibir Gio.
"Harvey akan mengurus semua dokumen yang kamu butuhkan. Kamu hanya perlu berpamitan pada teman-temanmu!" Balas Gio mantap. "Kalau besok terlalu cepat, bagaimana dengan lusa?"
Gizca mengangguk pelan.
"Ya, setidaknya itu bukan besok."
*****
"Giz, gak usah bercanda, deh! Lo gak beneran mau pergi 'kan?" tanya Mario, teman Gizca yang berperawakan kurus, tapi tidak kerempeng.
Gizca baru saja menceritakan alasannya mengajak sahabat-sahabatnya berkumpul di kafe satu hari sebelum kepergiannya ke New York. Mereka adalah Mario, Tika, dan Vani yang merupakan sahabat Gizca sejak SMA, kecuali Mario yang baru bergabung dengan ketiganya setelah masuk bangku kuliah.
"Lo beneran mau ke Amerika, Giz? Mendadak amat? Ada acara apaan?" Tika, ikut bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Maaf bilangnya mendadak," jawab Gizca sambil tertunduk lesu di kursinya.
Ia terus mengaduk minuman dihadapannya perlahan dengan sedotan.
"Iya, gue maafin. Tapi kenapa mendadak banget, sih?" kali ini Vani ganti bertanya.
Gizca menghela nafasnya perlahan dan mulai menceritakan kejadian sebenarnya pada sahabat-sahabatnya, tanpa menyebutkan fakta bahwa kakeknya adalah salah satu orang terkaya di Amerika. Respon pertama yang ia peroleh adalah tatapan bengong dan tak percaya. Bagaimana sahabat-sahabatnya bisa percaya, kalo Gizca sendiri masih belum sepenuhnya percaya akan takdir yang baru menghampirinya beberapa hari terakhir ini?
"Terus, kapan lo balik ke sini?" tanya Mario lirih.
Sejujurnya ia tidak rela sahabatnya itu harus pergi sejauh itu. Apalagi Mario diam-diam telah memendam rasa pada gadis cantik bermata hazel itu. Gizca hanya mampu menggelengkan kepalanya perlahan karena ia memang tidak bisa menjawab dengan pasti pertanyaan Mario.
"Gue bakalan kangen banget sama lo, Giz," gumam Tika seraya memeluk tubuh Gizca dari samping.
Gizca pun membalas pelukan sahabatnya itu dengan erat, "Gue juga pasti kangen banget sama kalian," balasnya.
Mario dan Vina ikut memeluk Gizca dan Tika hingga mereka berpelukan bersama-sama layaknya Teletubbies.
"Jangan lupa sering-sering kasih kabar ke kita, ya," pinta Vina sungguh-sungguh yang dibalas dengan anggukan mantap Gizca.
"Besok gue anterin ke bandara, ya," Mario menawari setelah ia melepaskan pelukannya dari gadis yang disukainya itu.
"Gak usah, Mario. Gue berangkat sama sepupu gue, dia bawa mobil sendiri," tolak Gizca.
Mario menghela napasnya keras. Ia masih belum sanggup melepaskan cinta pertamanya pergi dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Mereka bahkan mungkin tidak akan bisa bertemu kembali.
Mario kembali memeluk Gizca dengan erat, "Jaga diri lo baik-baik disana, Giz," bisiknya pelan di telinga Gizca.
Gadis itu pun membalas dengan anggukan dan senyuman dalam dekapan Mario yang semakin erat.
***** to be continued *****