Empat

1419 Kata
Ting ting ting ting. Seluruh perhatian para tamu beralih pada Richard yang berdiri di tengah-tengah ruangan dengan sebuah gelas minuman di tangannya. Bahkan Olivia yang saat ini sedang dikerumuni oleh Rachel, Kate, Brian dan Daniel ikut menoleh padanya. Lelaki itu terlihat menawan dengan tuxedo hitamnya yang tampak serasi dengan gaun biru yang Olivia pakai. “Aku ingin berterima kasih pada semua tamu yang sudah datang kemari. Hari ini, aku sedang merayakan hari ulang tahun ke kasihku.” Richard menatap Olivia dengan tatapan tajamnya. “Olivia,” panggilnya. Olivia merasakan jantungnya berdegup kencang saat Richard memanggilnya di depan seluruh tamu. Bahkan... tadi lelaki itu menyebut dirinya sebagai kekasih. Oh ya Tuhan... Olivia takut semua ini hanya mimpi. “Oliv,” Rachel menyenggol bahunya. “Jangan membuat lelaki itu menunggu terlalu lama atau semua pesta ini akan selesai saat ini juga.” “Kekasihmu itu tuan pemarah yang menyebalkan, Olivia.” Sela Daniel yang ikut tertawa bersama yang lain. “Cepat hampiri dia,” bisik Rachel lagi. “Mungkin saja dia akan melamarmu sekarang.” Melamar? Ya Tuhan... Kate dan Brian saling berpadangan penuh arti mendengar ucapan Rachel. Olivia merasa semakin gugup. Lalu perlahan dia melangkah mendekati Richard. Seluruh mata sedang mengamatinya saat ini. Olivia berdehem pelan, lalu melangkah dengan gaya anggunnya menghampiri Richard. Richard mengulurkan tangannya yang disambut Olivia dengan senang hati. Kemudian lelaki itu memeluk pinggangnya erat. “Perkenalkan, Olivia Sinclair, kekasihku.” Ucap Richard lantang di hadapan seluruh tamu. Olivia merasa wajahnya memanas, dia tersenyum malu. Namun hatinya membuncah bahagia. Seisi ruangan penuh dengan tepukan gemuruh dan juga sorakan gembira. Kilatan blitz semakin gencar menyoroti mereka. Ya, bagaimana tidak. Richard William bukan orang sembarangan. Olivia yakin, besok namanya akan menjadi headline berita manapun. Olivia menatap Richard, lelaki itu tersenyum tenang. Senyuman khasnya. Berbeda sekali dengan Olivia yang sedang menahan seluruh gemuruh di hatinya. Richard jelas terlihat belum selesai. Dan apa yang akan dia katakan selanjutnya membuat Olivia menahan napasnya. Mungkin Richard akan melamarnya... “Dan aku masih mempunyai kabar bahagia lainnya.” Ini dia... “Tujuh bulan setelah hari ini, aku dan Olivia...” Tujuh bulan... apakah mereka bisa mempersiapkan pernikahan sesingkat itu? Pikir Olivia tidak menentu. Di bahkan mencengkram kemeja Richard dengan jemarinya karena gugup. “Akan segera memiliki seorang baby. Kekasihku sedang hamil saat ini. Aku harap kalian semua mau mendoakan bayi kami.” Lagi-lagi tepukan bergemuruh itu terdengar. Sorak-sorakan itu juga terdengar lebih luar biasa dari sebelumnya. Olivia mendengarkan ucapan selamat yang terdengar samar di telinganya. Namun dia tidak bisa merespon apa pun selain menatap wajah Richard lekat. Hamil... bayi... Dan bukan pernikahan. Olivia merasakan letupan bahagia yang sejak tadi dia rasakan memudar. Digantikan kehampaan yang merambat hati-hati. Lalu saat Richard menunduk, menatapnya mesra, Olivia hanya bisa tersenyum kecil. “Aku mencintaimu.” Bisik Richard, lalu bibirnya mengecup bibir Olivia lama. “Jangan pernah meninggalkanku lagi.” dia kembali mencium Olivia. Kali ini lebih lama. Olivia memejamkan matanya. Merutuk di dalam hati. Apa yang sedang dia pikirkan? Ini konyol! Mereka baru saja memulai semua ini. Dan tentu saja, masih banyak waktu yang mereka punya untuk menuju hal itu. Pernikahan. Lalu dengan segenap perasaannya, Olivia membalas ciuman Richard, memeluk leher lelaki itu erat dan tersenyum di sela ciuman mereka. “Aku juga mencintaimu.” Mereka tidak lagi memedulikan seluruh mata yang menatap iri pada mereka. Serasi. Itulah tanggapan semua orang yang melihat mereka. Apa lagi Olivia... tidak ada yang mengira Olivia bisa mendapatkan Richard. Mereka bahkan tidak mengenali Olivia di setiap perkumpulan sosialita seluruh wanita berpengaruh di New York. Tapi kenapa Olivia bisa berhasil menempati posisi yang selalu di inginkan semua wanita-wanita itu? “Oke, love bird. Bisakah kalian berhenti sebentar?” Olivia dan Richard baru melepaskan diri saat mendengar suara Rachel. Kini sahabat-sahabat Richard itu sedang menghampiri mereka. “Richard, kau harus tanggung jawab! Mereka semua ingin membunuhku karena hanya aku yang mengetahui kehamilan Olivia sedangkan mereka tidak.” Omel Rachel dengan wajah lucunya. Richard melirik sahabat-sahabatnya dengan wajah malas. Dia juga baru saja melihat Helena, sepertinya wanita itu terlambat datang. “Kau keterlaluan!” sembur Kate kesal. “Tujuh bulan lagi kau bilang? Itu artinya kehamilan Olivia sudah mencapai bulan ketiga, kan? dan kau merahasiakan semua ini dari kami, huh?!” “Aku hanya...” “Dasar b******n sialan beruntung!” rutuk Daniel. Lalu dia memeluk Richard. “Selamat, Richard. Aku ikut bahagia bersamamu.” “Thanks, Daniel.” Ucap Richard. Lalu satu persatu dari mereka saling mengucapkan selamat pada Olivia. Olivia mengucapkan terima kasih pada mereka semua dengan senyuman malu-malu dan juga bahagianya. Dan saat Helena berdiri di depannya, mengulurkan tangan dan juga tersenyum sangat manis serta tulus, senyuman Olivia tiba-tiba menyurut begitu saja. “Selamat untukmu, Olivia.” Ucap Helena. Olivia memandang Helena sejenak sebelum mengulurkan tangan untuk membalas jabatan tangan Helena. “Terima kasih, Helena.” Jawab Olivia pelan. Lalu Helena memeluknya. “Aku akan selalu mendoakan bayi kalian.” Bisiknya. Saat melepaskan pelukannya, Helena kembali tersenyum padanya sebelum beralih memeluk Richard dan mengeluarkan gurauan khas mereka berdua hingga membuat sekeliling mereka tertawa. Tapi tidak dengan Olivia. Dia sedang memikirkan sesuatu. Ucapan Liam mengenai Helena. Liam bilang... Helena menginginkan Richard lagi dan sengaja menjebaknya. Tapi kenapa apa yang Liam katakan berbeda sekali dengan apa yang Olivia lihat. Helena terlihat sangat tulus padanya. Tidak ada gelagat aneh yang mencurigakan. Olivia menghela napas. Mungkin Richard bernar, Liam hanya bicara omong kosong. Helena tidak mungkin melakukannya. Ya, itu tidak mungkin. *** “Terima kasih untuk hari ini, Rich.” bisik Olivia. Dia sedang berada dalam pelukan Richard di atas tempat tidur. Jangan bayangkan mereka baru saja melewati sesi bercinta yang panas. Tidak. Mereka hanya saling memeluk karena Olivia tampak kelelahan selesai menikmati pestanya. Membuat Richard memutuskan menginap di hotel karena tidak mau menunda Olivia untuk beristirahat. Dia juga menyuruh Jane dan Angela menginap di sana. Sementara Alex dan Gerald terpaksa menunda keinginan mereka untuk istirahat di rumah dengan nyaman karena Richard meminta mereka untuk menetap di hotel. Tentu saja di kamar mereka masing-masing. “Aku tidak menyangka ternyata kau tipe lelaki yang romantis.” Gurau Olivia dengan mata mengantuk. “Memangnya selama ini seperti apa aku di matamu?” Richard mengelus punggung wanitanya dengan gerakan melingkar selagi hidungnya menghirupi aroma rambut Olivia. “Kau seksi...” kedua mata Olivia mulai meredup. “Panas... dan juga...” Richard menunggu. Tapi Olivia tidak melanjutkan ucapannya lagi. “Dan juga?” tanya Richard. Masih tidak ada jawaban. Membuat Richard memutuskan mengurai pelukan mereka untuk menatap wajah Olivia. Bibirnya kontan tersenyum melihat Olivia yang sudah tertidur pulas. Richard tidak heran lagi. Olivia memang mudah sekali tertidur sekarang. Mungkin karena kehamilannya. Dia mudah lelah dan gampang sekali tertidur. Dimanapun. Entah itu di mobil, di atas sofa, bahkan di meja makan sekalipun. Pernah suatu hari, saat mereka selesai makan malam dan Richard pergi ke dapur untuk mengambil air sebentar. Saat dia kembali, dia sudah melihat Olivia tidur dengan kepala menyandar dikursi. Pernah juga saat mereka sedang mengobrol, Richard memijati kaki Olivia sedangkan wanita itu sedang menikmati potongan buah di atas piringnya. Tiba-tiba saja suara Olivia sudah tidak terdengar, dan saat Richard menatapnya, wanita itu sudah tertidur pulas. Persis seperti sekarang. Richard menyukainya. Seluruh perubahan yang terjadi pada Olivia pasca kehamilannya, Richard sangat menyukainya. Membuat dia bisa melihat sisi lain dari Olivia. Dan membuat dia semakin banyak menemukan alasan untuk tetap berada di sisi Olivia. “Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Untuk semua hal yang sudah kau berikan padaku, aku akan membalas semua itu dengan cinta yang kupunya. Untukmu dan juga...” Richard menunduk, tangannya mengelus perut Olivia yang di lapisi kain satin yang berasal dari Lingerinya. “untukmu. Hei, Ayah menyayangimu...” Saat mengatakan itu, kedua mata Richard menyendu. Lalu dia mengecup dahi Olivia lama, menyelimuti wanitu itu dengan hati-hati sebelum turun dari tempat tidur. Richard mengambil ponselnya, berjalan mendekati jendela kamar dan menatap lurus ke depan sambil menelepon seseorang. “Alex, beberapa hari lalu aku menyuruh Gerald mengamati Liam. Apa dia sudah memberikan informasi yang dia dapatkan padamu?” Richard mengernyit saat Alex menjawab tidak menemukan kecurigaan apapun. “Katakan pada Gerald untuk terus mengamati Liam. Aku mencurigai sesuatu.” Alex menjawab patuh padanya. Hanya saja, dahi Richard berkerut samar saat mendengar suara aneh Alex di seberang sana. “Alex...” panggilnya lagi sebelum Ale memutuskan sambungan mereka. “Apa kau sedang bersama seorang wanita di kamarmu?” Lalu sambungan telepon itu terputus. Dan sudut bibir Ricrad tertarik keatas. Tentu saja, sahabatnya itu sedang bercinta di kamarnya karena suaranya terdengar berbeda dari biasanya. Seperti sedang menahan desahan. Entah dengan siapa. Dan Richard tidak mau peduli. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN