Bab 3

991 Kata
Seminggu setelah malam penuh kehebohan di dalam mobil itu, kehidupan Gladis seperti berubah 180 derajat. Kalau biasanya ia sibuk menghindari Alfito, sekarang justru sibuk mempersiapkan pernikahan. Dan tentu saja, Omma lah yang paling semangat. “Gladis, ini warna undangan terlalu pucat. Kalau orang lihat, dikira pesta syukuran pensiun, bukan pernikahan! Ganti yang merah muda atau emas!” seru Omma sambil mengibaskan kipasnya. “Omma, ini udah bagus. Simple, elegan…” Gladis mencoba bertahan. Alfito, yang duduk di samping, hanya tersenyum menahan tawa. Ia tahu kalau dua perempuan itu berdebat, hasil akhirnya selalu Omma yang menang. Benar saja, lima menit kemudian Gladis menghela napas panjang. “Ya sudah deh, ganti emas. Aku pasrah.” Alfito mencondongkan tubuhnya ke telinga Gladis. “Kamu cantik pakai apa aja sayang, tapi kayaknya nanti di pelaminan kamu bakal bikin semua orang lupa sama dekorasi.” Gladis menoleh cepat. “Hus! Jangan gombal depan Omma, nanti...” "Nanti apa...?" tanya Alfito sembari menggoda Gladis “Bagus, Fito!” potong Omma tiba-tiba. “Gladis, kamu itu bukannya seneng, Fito itu muji kamu, wajar kan kamu bentar lagi jadi istrinya dia.” Gladis langsung menutup wajah dengan bantal kursi. “Kenapa sih hidupku jadi komedi begini?” Seminggu kemudian, akhirnya hari itu tiba. Aula besar dipenuhi tamu, bunga segar, dan lampu kristal yang berkilauan. Gladis mengenakan kebaya modern berwarna putih gading, rambut disanggul rapi, wajahnya memancarkan kecantikan yang tak bisa ia sembunyikan. Alfito, dengan setelan jas hitam, berdiri tegak di altar. Tatapannya tak pernah lepas dari Gladis yang berjalan pelan bersama Omma menuju pelaminan. Senyumnya lebar, seakan seluruh dunia berhenti berputar hanya untuk menatap perempuan itu. Ketika akhirnya tangan Gladis berpindah ke genggamannya, Alfito berbisik lirih. “Kamu beneran nyata, kan? Jangan-jangan aku lagi mimpi.” Gladis menggertakkan gigi kecil. “Kalau mimpi, harusnya kamu udah kebangun gara-gara aku nginjek sepatumu barusan.” Alfito nyaris tertawa di depan penghulu. Ia menahan diri, tapi matanya jelas berbinar. “Ya Tuhan, bahkan di pelaminan pun kamu masih bisa ngegas. Tapi itu yang aku suka, dari Gladis Nyotowiryo." bisik Fito lirih Ijab kabul berlangsung lancar, tepuk tangan meriah bergema. Omma menangis sesenggukan di kursinya, sementara Mochi, yang entah bagaimana bisa nyelonong masuk ke aula, berjalan santai di tengah tamu undangan, jadi pusat perhatian. “Lihat tuh, kucingmu aja ikut saksi pernikahan kita,” bisik Alfito sambil menahan tawa. Gladis menunduk malu, tapi di dalam hatinya, ia merasa seperti sedang terbang. Setelah acara resepsi yang penuh canda, foto, dan makanan melimpah, malam pun tiba. Gladis duduk di ranjang pengantin yang dihiasi kelopak bunga. Gaun putihnya sudah berganti dengan piyama satin merah marun, tapi wajahnya masih merona. Ia menatap pintu kamar yang sebentar lagi akan terbuka. “Ya Tuhan… ini beneran kejadian. Aku udah istri orang,” gumamnya sambil memeluk bantal. “Bukan sembarang orang lagi… Alfito… pria empat puluh tahun yang entah kenapa bikin jantungku nggak karuan setiap saat.” Pintu berderit pelan. Alfito masuk dengan senyum hangat, mengenakan kaos polos hitam dan celana santai. Sederhana, tapi tubuh tegapnya membuat Gladis langsung merasa seperti menatap lukisan hidup. “Kenapa bengong?” tanyanya sambil mendekat. “Jangan bilang kamu nyesel.” Gladis buru-buru menggeleng, wajahnya memanas. “Nggak! Aku cuma… masih kaget aja. Seminggu lalu aku masih teriak-teriak bilang nggak suka sama kamu, sekarang tiba-tiba aku udah duduk di sini jadi istrimu.” Alfito duduk di sampingnya, jarak mereka hanya sejengkal. “Kaget itu wajar. Tapi aku janji, kamu nggak bakal nyesel.” Tangan besarnya terulur, menyentuh pipi Gladis perlahan. Sentuhan itu membuat tubuh Gladis seolah kehilangan gravitasi. Ia menutup matanya sebentar, mencoba menenangkan diri, tapi justru debaran makin kacau. “Jujur aku grogi,” bisik Gladis lirih. Alfito tersenyum lembut. “Grogi itu manis. Buktinya pipimu sekarang kayak tomat.” “Fitooo!” Gladis menepuk dadanya pelan, tapi justru merasakan otot kencang di balik kaos tipis itu. Ia menelan ludah. “Ya ampun…” Alfito menunduk, bibirnya hanya sejengkal dari telinga Gladis. “Aku udah lama nunggu malam ini. Tapi aku juga nggak mau buru-buru. Kita jalan pelan-pelan aja, ya?” Gladis mengangguk kecil, tapi begitu Alfito mulai mencium keningnya, lalu turun ke pipi, hingga menyentuh bibirnya… ia tahu semua kendali sudah runtuh. Ciuman itu dalam, hangat, dan perlahan berubah penuh hasrat. Gladis merasakan tubuhnya bergetar, tapi juga terbawa arus. Tangannya tanpa sadar menggenggam erat baju Alfito, seakan tak ingin lepas. Ketika akhirnya Alfito menuntunnya berbaring, Gladis sempat berbisik di antara debar. “Aku takut… tapi aku juga… penasaran.” Alfito menatapnya serius, lalu tersenyum menenangkan. “Nggak ada yang perlu ditakutin. Kamu sama aku, kita udah halal. Malam ini bukan tentang siapa yang kalah atau menang… tapi tentang kita berbagi rasa. Kamu siap, sayang?” Panggilan itu, sayang seolah - olah membuat hati Gladis luluh seketika. Ia menutup wajahnya dengan tangan, tapi Alfito perlahan menariknya, menatap matanya dalam. Dan malam itu, sentuhan Alfito benar-benar meruntuhkan segalanya. Tiap belaian membuat Gladis mengerang pelan, setengah kaget setengah tenggelam dalam kenikmatan yang tak pernah ia bayangkan. Ada tawa kecil di sela-sela momen, saat Gladis salah menyebut nama posisi atau tiba-tiba menjerit karena geli digelitik, membuat suasana jadi manis sekaligus intim. Di antara debar dan canda, Gladis akhirnya berbisik dengan suara parau. “Kalau surga itu nyata… mungkin rasanya kayak sekarang.” Alfito mencium keningnya lagi, penuh kasih. “Kalau gitu, biar aku jadi penjaga surgamu selamanya.” Matahari menyelinap lewat tirai kamar. Gladis terbangun lebih dulu, tubuhnya masih lemas tapi hatinya terasa hangat. Ia menoleh, mendapati Alfito masih tertidur dengan wajah tenang. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa aman. “Ya Tuhan… ternyata paman taman gombal ini… beneran jadi suamiku sekarang.” Ia tersenyum kecil, lalu menepuk pipi suaminya pelan. “Fito…” Alfito bergumam setengah tidur. "Ya sayang... masih pagi, udah jangan ke kantor dulu ya..." Mendengar guman Alfito, Gladis terus menatap lebih dalam, dia terharu, meneteskan air matanya terisak tangis. "Aku sayang banget sama lelaki ini, jaga dia untuk aku please." ucap Gladis sembari memeluk erat Alfito, mencium keningnya dan membelai rambut cepaknya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN