2. Menantu Tidak Dianggap

1397 Kata
Pengumuman kehamilan Sarah membuat seluruh keluarga Collins begitu antusias menyambut kehadiran anak yang berada di dalam kandungan selingkuhan sang suami itu. Kehadirannya sebagai menantu pun tidak lagi berguna. “Kevin, biarkan Sarah tinggal bersama kita. Dia tengah mengandung cucuku, kau harus menjaganya.” “Tapi, Belva tidak menyukaiku. Dia tidak ingin aku ada di sini,” ucap Sarah lirih. “Belva tidak memiliki suara untuk bicara di sini,” tegas Adipati menenangkan Sarah. Belva yang mengetahui hal itu hanya bisa menahan dirinya. Dia benar-benar tidak dianggap, seakan perasaannya bukanlah sesuatu yang penting. “Belva, sayang sekali kau hanya wanita yang tidak dianggap di sini. Kenapa kau tidak pergi saja dari kehidupan Kevin?” bisik Sarah. “Huh. Sekarang kau baru memperlihatkan sifat aslimu setelah semua orang pergi?” “Kau harusnya tahu diri, jika kau tidak menikah dengan Kevin aku pasti sejak lama telah menjadi menantu keluarga ini.” Sarah melangkah mendekat ke arah balkon. “Belva, menurutmu apa yang akan terjadi jika sesuatu terjadi padaku?” “J-jangan lakukan hal bodoh!” bentak Belva. Sayangnya, semuanya terjadi begitu saja. Dan kini, dia tengah duduk di bawah rintikan hujan. Belva mengepal tangannya dengan erat. Tubuhnya basah kuyup dengan kaki perih setelah mendapatkan hukum dari sang mertua. Rasa perih ditahan bahkan tubuhnya menggigil kedinginan. Namun tidak ada satupun yang melirik ke arahnya, seakan dia tidak berada di sana. Apa yang terjadi hari ini, membuktikan jika dirinya benar-benar tidak dianggap sebagai Nyonya Muda Keluarga Collins. Setengah jam yang lalu, Belva dan Sarah terjadi ke kolam renang. Namun Kevin bukan menyelamatkannya, tetapi memilih menyelamatkan Sarah. Bahkan pria itu memerintahkan agar memanggil dokter. Bagaimana dengan Belva? Dia berjuang sendiri, keluar dari kolam renang tanpa bantuan siapapun. Bahkan semua pelayan yang berada di sana tidak mengatakan sepatah katapun walaupun bertanya tentang kondisinya. Mereka memperlakukannya seperti sampah yang tidak berharga. "Belva! Bangun!" Sebuah suara dingin terdengar di telinga Belva yang tengah tertidur. Saat Belva membuka mata perlahan Belva, selimut yang dipakai tiba-tiba disibak secara paksa. Ketika dia melihat bahwa itu adalah Kevin, matanya langsung memerah. “K-kevin, bagaimana keadaan Sarah?” Belva duduk sambil menggosok pelipisnya, dia melihat wajah Kevin yang sangat muram, "Aku tidak mendorongnya," serunya dengan suara serak. Kevin menatap Belva, mata pria itu penuh dengan rasa dingin. Dia mencibir dan berkata, "Bangun. Ikuti aku!" Mendengar kata-katanya, Belva benar-benar terjaga. Dia menatap Kevin dengan tidak percaya. Kemudian, dia menahan rasa sakit di tubuhnya dan bertanya, "Apa maksudmu?" "Kau sudah melakukan kesalahan! Kau harus dihukum!" Kevin mengatakan hal itu bahkan tidak melihat wajah Belva sekalipun. Dia menyeret Belva keluar dari ruangan. Seolah-olah dia membawa sesuatu yang kotor. Kevin dipenuhi dengan amarah dan tidak ingin berbicara dengan Belva. Mengingat apa yang dikatakan oleh dokter membuat Kevin semakin marah pada Belva. Dokter mengatakan jika tubuh Sarah sangat lemah karena itu anak di dalam perut Sarah tidak bisa diselamatkan. Belva telah membuat Sarah keguguran. Bayi yang diharapkan oleh keluarganya, benar-benar hilang. “Kenapa aku harus minta maaf padanya?” tanya Belva membuat langkah Kevin terhenti. “Kau membunuh anakku. Kau membunuh bayi yang dikandung Sarah.” Mendengar kata-kata Kevin, Belva terpaku. Seolah-olah ia membeku, bahkan membuat bulu kuduknya berdiri. Apa yang terjadi hari ini benar-benar membuat Belva begitu trauma. Dia tidak percaya Kevin akan membawa selingkuhannya datang ke rumah, bahkan mengumumkan mengenai bayi yang dikandung oleh Sarah, tetapi beberapa jam kemudian Sarah membuat dirinya menjadi pelaku kejahatan mengenai wanita itu keguguran. "Aku tidak melakukannya." Belva berusaha melepaskan diri dari tangan Kevin, tapi sia-sia. Rasa sakit membuatnya pucat, dan dia memeluknya lebih erat. "Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan pada Ayah.” Suara dinginnya terdengar dari depan. Belva terhuyung-huyung di belakang Kevin. Dia melirik Kevin yang terdefinisi dengan baik. Dia telah mengambil resiko memutuskan hubungan dengan keluarganya untuk menikah dengannya karena ketampanannya. Namun, sejak dia menikahinya, dia tidak pernah menunjukkan kebaikan padanya. Senyum dingin muncul di wajah Belva. Suaranya monoton. "Aku bisa berjalan sendiri." Kevin menatapnya dengan jijik. Dia mengerutkan bibirnya dan menahan amarah di hatinya. Kemudian, dia mengangkat kakinya dan berjalan menuju ruang keluarga. Belva melihat punggungnya. Belva bertelanjang kaki, mengenakan piyama selutut. Selangkah demi selangkah, dia berjalan menuju aula yang terang benderang. Kevin bahkan tidak memberinya waktu untuk memakai sandal. Belva tersenyum menghina. Tinggal di keluarga Collins hanyalah lelucon. Anggota keluarga Collins semuanya menunggunya di Ruang keluarga. "Berlutut!" Mata pria tua yang tengah duduk di kursi menatap tajam ke arah Belva yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Tatapannya seperti pisau yang menusuk hati Belva. Itu sangat menyakitkan sehingga dia hampir tidak bisa bernapas. Wajah Belva memerah karena demam tinggi. Dia melirik kerumunan. Semua orang menganggapnya sebagai iblis. Tapi dia tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa dia harus berlutut? Belva berdiri di sana dan berkata perlahan, "Tidak. Aku tidak akan berlutut!" Melihat Belva tidak mengakui kesalahan yang diperbuat membuat Adipati sangat marah sehingga dia melemparkan cangkir di tangannya ke kaki Belva. Dia berteriak, "Berlutut!" Potongan porselen yang pecah menembus kaki Belva. Rasa sakit membuatnya tidak bisa bernapas. Melihat Belva tidak takut sama sekali, Adipati memarahinya dengan kasar. "Belva, berlutut dan minta maaf!" Belva menahan rasa sakit dan meluruskan punggungnya. Dia memandang Adipati tanpa rasa takut dan berkata, "Kenapa aku harus berlutut? Aku tidak melakukan apapun pada Sarah! Aku tidak mendorongnya. Dia yang menjatuhkan dirinya sendiri! Untuk apa berlutut dan meminta maaf." "Belva, kau—” Adipati berusaha menahan emosinya. “Sudah salah, tapi tidak mengaku dan meminta maaf. Kau harus dihukum, Belva! Seseorang, pukuli Belva sampai dia mau berlutut dan meminta maaf!” Adipati menunjuk Belva dengan marah. "Ayah benar. Dia sudah kurang ajar. Sudah salah tidak mau meminta maaf. Dia tidak hanya membuat Sarah keguguran tapi tidak mengakui kesalahannya!" "Dia harus dihukum agar dia tahu, kesalahan apa yang telah dilakukan!" Semua orang memandang Belva seolah-olah mereka sedang melihat monster yang menjijikkan. Belva berdiri di sana dengan tenang dan menatap mereka. Tidak ada ketakutan di sorot matanya. Hanya ibu mertuanya, Renata, yang biasanya memperlakukannya dengan sangat baik, yang mengkhawatirkannya. Belva menatap Kevin dengan tak percaya. Kevin memiringkan kepalanya dan bertemu dengan tatapan Belva. Matanya dipenuhi dengan kebencian saat dia dengan dingin berkata, "Belva, kenapa kau keras kepala dan tidak mengaku salah saja?” Kebencian di matanya semakin kuat saat memikirkan bahwa anak saudaranya telah menjadi genangan darah. Dia menarik sang mama ke samping dan merasa sedikit tidak nyaman di samping Belva. Lizzy, adik Kevin menendang Belva dengan sepatunya. "Paksa dia untuk berlutut." Belva berdiri tegak, memiringkan kepalanya, dan menatap Kevin. Dia mengangkat kepalanya, menatap Belva dengan mencibir, dan berkata, "Ayah ingin kau berlutut!" Kemudian dia menendang lutut Belva lagi dan lagi. Melihat Belva masih sangat keras kepala, dia melangkah maju dan menampar wajahnya. Kemudian menendang bagian belakang lutut Belva dengan keras. Ada jejak sepatu hak tinggi Lizzy Collins di bagian belakang lutut Belva. Ada noda darah dan memar, seperti hatinya yang hancur. Rasa sakit membuatnya mengerutkan kening. Jika dia membungkuk, dia akan berlutut di lantai yang penuh dengan pecahan porselen. Kevin berdiri di samping dengan tangan bersilang, melihat tatapan sedih Belva. Sudut bibirnya sedikit terangkat, dan dia perlahan mundur beberapa langkah untuk menonton pertunjukan. Kevin melihat ekspresi menyakitkan Belva. Dia merasa bahwa dia akan mengakui kesalahannya saat ini. Ketika lututnya hendak menyentuh pecahan porselen, Belva perlahan meluruskan punggungnya. Matanya yang berbentuk almond tidak bisa menyembunyikan penampilannya yang dekaden, dan dia mengatupkan bibirnya dengan keras kepala! "Sungguh wanita tidak punya rasa bersalah dan menyesal sedikitpun! Bawa dia keluar dan buat dia berlutut di luar. Aku ingin dia berlutut sampai dia tahu kesalahannya!" Adipati melirik Kevin. "Seseorang harus mengawasinya. Jangan biarkan dia bangun jika tidak mengakui kesalahannya!" Belva hendak menjelaskan pada dirinya sendiri ketika Kevin, di sampingnya, tiba-tiba mengangkat tangannya dan meletakkannya di bahunya. Begitu dia mengerahkan kekuatan, Belva ditekan dan berlutut. "Berlutut atau bercerai." "Kevin?" Meskipun dia tahu pria ini tidak akan melindunginya, Belva masih terluka ketika dia memaksanya untuk berlutut. Ini adalah pria yang telah membuatnya mengkhianati keluarganya dan sangat ingin dinikahi. Belva dipaksa berlutut di tanah oleh Kevin, dan rasa sakit di lututnya menusuk. Namun, tidak peduli seberapa menyakitkan itu, itu tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya saat ini. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat Kevin di sampingnya. Di bawah alisnya yang tebal, Belva bisa melihat kekejaman dan dingin di matanya. Bibirnya yang mengerucut seperti pisau tajam yang menusuk jantung Belva. "Aku tidak mendorong Sarah ke dalam air tadi malam. Dia melompat sendiri." Saat Belva berbicara, dia menatap Kevin. "Tapi aku tahu kau tidak percaya padaku, jadi—" "Ayo kita bercerai, Kevin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN