Bagian 5

1573 Kata
Pagi datang dengan pelan-pelan, menembus jendela kamar rawat inap yang dibiarkan sedikit terbuka. Langit tampak cerah, tapi hati Aruna tetap berkabut. Ia duduk di ranjang, menyelimutkan dirinya meski ruangan tidak sedingin itu. Ada rasa dingin lain yang menjalari tubuhnya—rasa yang tidak bisa ia beri nama. Ketika sang ibu kembali dengan semangkuk bubur ayam, Aruna hanya memandanginya. “Makannya pelan-pelan ya, Sayang.” Aruna menerima sendok itu, tapi tangan kirinya gemetar tanpa sebab. Ia mencoba menyendok sedikit, lalu berhenti. Tiba-tiba matanya memanas. “Aku nggak tahu kenapa… aku pengen nangis,” ucapnya lirih. Ibunya terkejut. “Aruna? Kenapa, Nak?” “Aku ngerasa… kosong, Ma. Seolah aku kehilangan sesuatu… atau seseorang. Tapi aku nggak tahu siapa.” Tangisnya pecah. “Rasanya kayak… rindu. Tapi aku sendiri nggak tahu aku lagi merindukan siapa…” Sang ibu menarik napas dalam. Sakit melihat putrinya seperti ini. Tapi mereka belum siap memberitahu semuanya. “Tenang, Nak. Pelan-pelan. Kamu baru bangun dari kecelakaan. Mungkin itu cuma perasaan campur aduk aja.” Aruna mengangguk, tapi hatinya tetap tidak tenang. Sesuatu dalam dirinya—lebih dalam dari sekadar pikiran—memanggil seseorang. Tapi siapa? Siang Hari Aruna diperiksa oleh seorang ahli neurologi yang dipanggil langsung oleh keluarganya. Pemeriksaan memakan waktu lebih lama dari biasa. Beberapa tes kognitif dijalankan, dan MRI telah dilakukan sehari sebelumnya. Hasilnya keluar menjelang sore. “Pasien mengalami bentuk disosiasi amnesia ringan, dengan kecenderungan retrograde amnesia selektif,” jelas sang dokter kepada keluarga di luar ruangan. “Maksudnya?” tanya ayah Aruna. “Sederhananya, Aruna kehilangan sebagian ingatan jangka panjangnya, dan bagian yang terhapus cukup selektif. Biasanya, ini berkaitan dengan trauma emosional atau kejadian besar yang belum bisa diproses oleh otak. Dia mungkin bisa ingat keluarganya, sekolah, pekerjaan, tapi bisa melupakan sesuatu yang... sangat pribadi. Seperti hubungan dengan pasangan.” Semua terdiam. “Jadi, dia benar-benar nggak ingat Raka?” tanya adik Aruna pelan. “Belum. Dan mungkin bisa lama—atau bahkan permanen, tergantung bagaimana otaknya memproses pengalaman itu ke depan.” Sore Hari Ayah Raka akhirnya menghubungi Raka yang masih di lapangan. Suara deru alat berat terdengar samar di latar belakang ketika telepon tersambung. “Ra, Aruna sadar.” Hening sebentar dari ujung sana. “Alhamdulillah…” napas lega terdengar. “Tapi… dia lupa kamu, Nak. Aruna nggak ingat kalau dia sudah menikah. Nggak ingat kamu suaminya.” Suara di seberang terdiam cukup lama. “Jadi, benar-benar hilang?” “Dokternya bilang begitu. Dan kamu harus tahu ini, karena kalau suatu hari dia tanya langsung… kami belum berani jujur.” Kembali ke Rumah Sakit Sore menjelang malam. Aruna duduk sendiri di tepi ranjang. Ia menatap ke luar jendela, ke langit yang mulai berubah jingga. Suara-suara kecil terdengar dari lorong rumah sakit—perawat, pengunjung, dan sesekali tawa anak kecil dari ruang lain. Tapi bagi Aruna, semuanya terdengar jauh. Ia menunduk, menatap kedua tangannya sendiri, lalu berkata pelan, “Aku ini… siapa, sebenarnya?” Di balik pintu, ibunya mendengar ucapan itu, dan menahan napas dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu, di Kalimantan, Raka menatap layar ponselnya yang memunculkan foto pernikahannya. Ia mengetuk layar—foto itu membesar. Di dalamnya, Aruna tersenyum bahagia dalam balutan gaun pengantin sederhana. Tangannya mengepal. Matanya memerah. Lalu terdengar suara ketukan. “Pak Raka, rapat lanjutan di tenda utama sudah mulai.” Raka menarik napas panjang, menatap lagi wajah istrinya di layar. Lalu, dengan suara nyaris patah, ia berkata, “Tunggu aku, Aruna. Kalau harus mulai dari nol… aku akan lakukan.” ❤️❤️❤️ Pulang… Langit Jakarta sedang bersahabat sore itu. Raka berdiri di depan pintu kedatangan Bandara Soekarno-Hatta, menahan napas panjang seraya membenarkan kerah kemejanya yang sudah lecek karena perjalanan jauh. Tiga minggu di Kalimantan menguras tenaganya, bukan hanya fisik, tapi batinnya juga seakan diremas dari segala sisi. Kini ia pulang, bukan karena tugasnya selesai semata, melainkan karena hatinya sudah tak kuat menahan rindu dan gelisah akan perempuan yang terus mengisi pikirannya setiap malam. Sopir keluarga sudah menunggu sejak tadi. Tanpa banyak bicara, Raka masuk ke mobil dan meminta agar segera dibawa ke rumah sakit tempat Aruna dirawat. Mobil itu melaju di antara lalu lintas ibu kota yang mulai padat. Raka bersandar di jok kulit, membiarkan pikirannya kembali ke hari-hari terakhir sebelum Aruna kecelakaan—hari di mana ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, mengabaikan istri yang diam-diam sedang mengandung. Penyesalan itu seperti duka yang tak sempat dikubur. Setibanya di rumah sakit, Raka langsung naik ke lantai tempat Aruna dirawat. Langkahnya sempat terhenti beberapa meter dari pintu kamar. Di sana, ayah dan ibunya sudah menunggu, keduanya duduk di bangku kecil, wajah mereka tampak kelelahan. “Raka...” suara lembut sang ibu membuatnya menoleh. “Iya, Ma...” jawabnya pelan. “Kamu tenang dulu. Aruna sudah sadar, tapi...” Raka menahan napas. “Tapi?” “Tapi dia belum ingat kamu.” Hatinya mengerut. Ia sudah tahu itu, bahkan sebelum pulang. Namun mendengarnya langsung dari mulut ibunya membuat rasa sakitnya semakin nyata. Ayahnya menepuk bahunya pelan. “Tenangin diri dulu. Jangan langsung masuk.” Raka mengangguk. Matanya melirik ke kaca kecil di daun pintu kamar. Dari sana, ia bisa melihat sosok perempuan yang duduk di ranjang. Rambutnya dikuncir seadanya, tubuhnya tampak lebih kurus. Tapi senyum itu—senyum cerah yang sedang ia bagikan pada wanita yang kini duduk di sampingnya—masih sama seperti dulu. Hangat, ringan, dan lepas. Aruna sedang tertawa kecil, bercerita tentang sesuatu pada mamanya sendiri. Dan anehnya... tidak ada Raka di dalam momen itu. Perasaan tertinggal dan terbuang muncul perlahan dalam d**a Raka. Ia bukan bagian dari tawa itu. Bukan bagian dari ingatan yang dibicarakan Aruna saat ini. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menarik napas dalam sebelum berjalan ke ruang dokter. ❤️❤️❤️ “Jenis amnesia yang dialami istri Anda termasuk dalam retrograde amnesia parsial,” jelas dokter spesialis neurologi yang menangani Aruna. “Dia kehilangan sebagian ingatan jangka panjangnya, khususnya yang berkaitan dengan masa beberapa tahun terakhir, termasuk... masa pernikahannya.” Raka mengangguk pelan. “Berarti, kemungkinan ingatannya kembali...?” “Masih ada. Tapi tidak bisa dipastikan waktunya. Bisa dalam hitungan minggu, bulan, bahkan tahun. Kuncinya adalah stabilisasi emosinya, jangan ada tekanan. Jangan terlalu memaksanya untuk mengingat.” Kata-kata itu seperti cambuk sekaligus pegangan. Ia tak boleh menyerah, tapi juga tak bisa memaksa. Harus sabar. Harus kuat. ❤️❤️❤️ Setelah berpamitan dengan dokter, Raka kembali ke depan kamar Aruna. Kedua orang tuanya sudah tidak di sana. Ia mengambil napas dalam dan memutar kenop pintu secara perlahan. Raka berdiri kaku di depan kamar rumah sakit itu. Jantungnya berdetak cepat. Ada kaca kecil di pintu yang memperlihatkan isi ruangan. Dari sana, ia bisa melihat Aruna tengah tertawa bersama mamanya—tawa yang lama tidak ia dengar secara langsung. Namun, ada yang berbeda. Tatapan Aruna. Cara ia tertawa. Semuanya... terasa asing. Ia melangkah masuk pelan. Tidak ingin membuat suasana kaget, tidak ingin buru-buru. Namun baru satu langkah masuk, mata Aruna langsung menatap tajam ke arahnya. “Eh, Ma... itu siapa?” tanya Aruna cepat, alisnya bertaut heran. Ibunya menoleh gugup. “Itu... Raka, suamimu.” Aruna menatap Raka dari ujung kepala sampai kaki, lalu mendecak pelan. “Ma... ini bukan lucu, ya? Aku lagi sakit, bukan butuh hiburan garing kayak gini.” “Aruna—” “Serius, Ma. Masa ada cowok datang-datang terus ngaku suami? Nikah aja belum aku tuh. Masa iya dilewat ya hari pernikahanku?” Raka membuka mulut, hendak bicara, tapi Aruna sudah berdiri dan menunjuk ke arah pintu. “Kamu... siapa pun kamu, silakan keluar. Ini kamar aku, bukan panggung prank. Mana ada cowok ngaku suami seenaknya?” Raka menggaruk tengkuknya pelan, bingung harus bereaksi seperti apa. Baru kali ini, istrinya sendiri menyuruhnya keluar dengan tampang setengah sebal, setengah bingung. “Aku beneran Raka,” ujarnya tenang. “Kita..." Pandangan mereka bertemu. Namun tidak ada cahaya di mata itu. Tidak ada kedipan manja. Tidak ada senyum hangat yang biasa menyambutnya setiap kali ia pulang dari kerja. Yang ada hanya tatapan asing, tajam, dan penuh kecurigaan. “Ma, itu siapa?” tanya Aruna pada ibunya yang duduk di samping ranjang, suaranya datar dan dingin. Ibunya sempat tertegun, lalu menoleh pada Raka dengan wajah canggung. “Itu... Raka, Na.” Aruna menyipitkan mata. “Dia kelihatan kayak... orang asing. Kenapa dia bisa masuk ke kamar aku?” Raka tertawa kecil, meski pahit. Ia masuk pelan, lalu berdiri di sisi tempat tidur dengan jarak aman. “Hai, Aruna.” Gadis itu menatapnya dengan bingung. “Kamu... siapa, ya?” Itu adalah kalimat paling menyakitkan yang pernah ia dengar. Bukan karena nadanya, tapi karena maknanya. Istri yang ia cintai... benar-benar tidak mengenalinya. “Aku Raka,” ucapnya pelan, mencoba tetap tenang. “Suamimu.” Aruna terkesiap, lalu menatap ibunya. “Ma... maksudnya apa? Aku belum nikah, kan? Bukannya aku baru lulus dan sibuk kerja? Aku nggak ngerti... ini lelucon atau apa sih?” Mamanya mencoba menenangkan. “Sayang, kamu kecelakaan. Kamu memang sudah menikah, tapi... kamu lupa.” “Ini gila.” Aruna menggeleng. “Aku nggak kenal dia.” Raka hanya berdiri di tempatnya. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia berkata, “It’s okay. Kamu nggak harus langsung inget. Aku bisa kenalan lagi dari awal, kalau kamu mau.” Aruna mendengus kecil, lalu memalingkan wajah ke jendela. Ia bahkan tidak ingin menatapnya lagi. Tatapan itu... adalah tatapan asing. Tatapan yang membuat Raka sadar bahwa kali ini, ia harus memulai semuanya dari awal. Bahkan dengan orang yang pernah bersumpah mencintainya seumur hidup. Dan itu akan jadi perjalanan yang panjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN