Sindi memeluk erat Sebastian yang sudah berdiri di depan apartemennya. Meskipun kedatangannya tidak dia harapkan, tapi perasaan Sindi cukup senang, meskipun dia resah karena dia belum siap menyambutnya, karena apartemennya yang masih berantakan dan seadanya. Sindi tersenyum melihat Sebastian yang gagah dengan outfit kasualnya. Selama saling mengenal dekat, Sebastian cukup asyik diajak bicara tentang apapun, tentang bisnis, pekerjaan, hiburan, dan keluarga. “Rapi sekali apartemenmu,” sindir Sebastian saat duduk di atas sofa, mengamati keadaan apartemen Sindi yang kurang rapi. Sesaat kemudian, dia tertawa kecil, ada pakaian dalam yang terselip di antara dua sofa. Dia menarik dan menujukkannya ke Sindi. Tentu saja Sindi tertawa malu. “Oh, maaf, Tian. Aku … aku nggak rapihan orangnya,” ujar

