Sindi langsung menggendong Kania dan mencium kedua pipinya bergantian. Kania wangi sekali karena baru saja mandi. “Ah, Tante lupa Tante belum mandi, Sayang.” Sindi lalu menurunkan tubuh Kania dan menyerahkan sebuah tas kertas besar berupa mainan boneka untuk Kania. Kania menjerit senang, wajahnya sangat ceria dan dia tidak lupa berucap terima kasih berulang-ulang. Dia bahkan mendekati Sindi dan mencium pipinya. “Kamu dari kantor?” tanya Harja setelah meletakkan satu gelas dingin di atas meja depan sofa yang diduduki Sindi. “Sepulang dari kantor, aku singgah di toko mainan, dan membelikan boneka untuk Kania, dan beberapa camilan.” “Mau mandi?” tanya Harja yang melihat wajah lelah Sindi. “Atau mau duduk-duduk dulu.” Sindi menghela napas panjang, seolah ingin mengungkapkan sesuatu tapi

