Kania masih mengantuk, dan Sindi menemaninya tidur lagi. Meksipun tempat tidur Kania berukuran untuk satu orang dewasa, Sindi masih bisa rebah sambil memeluk Kania. Perasaannya semakin tenang saat memeluk tubuh mungil Kania, apalagi anak itu ceriwis dan kata-katanya menyenangkan penuh sopan santun. Mengingat Sindi merengek dan menangis saat berada di gendongan papanya, benar-benar membuat Sindi terenyuh, dan selalu ingin berada di dekat Kania. Sementara itu Harja berdiri mematung di depan kamar Kania, dia menduga hari ini Sindi akan terlambat masuk ke kantornya. Sebenarnya jarak dari apartemennya ke kantor pusat Rukmana tidaklah begitu jauh, tapi karena kemacetan luar biasa di jam sibuk, membuat perjalanan memakan waktu yang cukup lama. “Halo, Tirta. Maaf mengganggu. Hari ini Sindi mungk

