Hampir satu minggu ini Tirta memperhatikan Sindi lebih serius dan sikapnya yang tidak semanja biasanya di kantor. Entah kenapa dia berpikir bahwa ada yang sedang dipikirkan Sindi akhir-akhir ini. Namun, Sindi tetap bekerja dengan baik dan cekatan seperti biasa. “Ada apa, Sin. Kamu kok sekarang jarang senyum,” ujar Tirta ketika Sindi datang ke kantornya dan merapikan dokumen-dokumen kerja hari itu. “Nggak ada apa-apa, Pak.” “Masalah keluarga?” “Nggak, Pak.” “Ibu kamu berulah lagi?” “Haha, nggak ada apa-apa dengan saya, Pak Tirta.” Sindi mulai bersikap manja lagi, tapi terlihat tidak biasa dan kaku. Dulu Sindi pernah mengeluhkan sikap ibunya yang kerap meminta uang kepadanya dan marah jika tidak diberi. Puncaknya adalah ketika Sindi mengirim uang yang jumlahnya tidak banyak seperti bia

