Di belahan bumi lain, seorang pria tampan tampak menjalani hidup dengan tiada semangat. Hidup segan mati pun enggan. Mungkin itu yang tepat. Lebih dari satu tahun hidup di negri orang, tanpa orang tua, tanpa kedua adiknya, dan tentu saja tanpa seseorang yang baru disadarinya berharga saat pergi meninggalkan. Orang itu Revan. Revan selalu berfikir dirinya paling tersakiti dalam keadaan ini. Tidak tau saja, ada hati yang lebih terluka. Bukan hanya satu. Tetapi empat. Kalian dapat menebaknya, bukan? Tak ada aktivitas berharga yang Ia lakukan di sini. Bangun, makan, kuliah, tidur. Selalu seperti itu. Hidup yang membosankan. Kini, pemuda tampan itu telah memasuki semester tiga. Jurusan bisnis dan manajemen di salah satu universitas ternama di negara ini. Ia memilih Jerman untuk tempat

