Leher ikan?

1484 Kata
"Emak sebenarnya mau ngomong apa? Jangan buat Tari penasaran!" tanya Tari dengan terus menatap manik hitam wanita paruh baya dihadapannya yang sama seperti miliknya. Di luar sana ayam tak hentinya berkokok dibarengi dengan matahari yang perlahan terbit. Helaan napas tak hentinya dikeluarkan oleh sang ibu. Ingin bicara tapi sulit sekali rasanya, seperti tercekat. Antara takut dengan keadaan atau mengecewakan sang anak. "Tapi dengerin omongan Emak sampai tuntas dan jangan dipotong", ucapnya dan diangguki oleh Tari. "Emak mau terima lamarannya si IB, pokoknya kamu harus setuju!" Tari refleks berdiri dari duduknya, menunjukkan wajah ketidakpercayaan. Apa yang ada dibenak emaknya ini?! Ingin menerima lamaran nikah IB katanya? Helaan napas kembali terdengar dari sang ibu. Menyuruh Tari duduk tenang kembali lalu menjelaskan semuanya. Sang ibu yang kerap disapa Ratna, sebenarnya tidak ingin terjadi. Teringat olehnya saat seorang bujang datang ingin melamarnya yang sudah lama menjanda. Menikah dengan IB aka Iwan Botak bukanlah pilihan yang diinginkannya. "Kamu jangan potong ucapan Emak! Dengerin Emak, kalau kamu gak nikah berarti Emak aja yang menikah. Kita gak boleh bergantung sama Om kamu terus walaupun dia gak keberatan, tapi kamu liat kan kalau istrinya sering judes sama kita? Emak merasa gak enak sama mereka. Jahitan Emak juga sepi pelanggan dan juga kalau Emak menikah otomatis kita ada yang nafkahin. Si Iwan walaupun botak kinclong tapi dia itu juragan loh, hidup kita mungkin gak susah lagi", jelas Ratna dengan raut serius. Tari tercengang beberapa saat, emaknya rela nikah demi kelangsungan hidup mereka, kini Tari benar-benar merasa tidak berguna. Dipeluknya sang ibu erat. "Please Mak! Jangan nikah ya!", ucapnya masih menenggelamkan wajah di ketek emaknya. "Tari akan dapat kerja secepatnya, Emak do'ain Tari aja. Jangan nikah please", sambungnya. Ratna hanya tersenyum tipis, membalas memeluk Tari. Ia sangat percaya pada anak semata wayangnya. Teringat akan sesuatu, Tari segera melepas pelukannya dan merogoh kantong celananya dengan sumringah. "Ini ada sedikit uang untuk hari ini, Emak gunain ini aja dulu", uang itu ia sodorkan ke wanita dihadapannya. Ratna memandang anaknya dan uang itu bergantian dengan bingung. Ia menampilkan ekspresi seakan berkata 'kamu dapat uang darimana?' "Ini uang halal Mak, gak usah khawatir. Kepin yang kasih kemarin", jawab Tari seolah-olah tau isi pikiran emaknya. "Berapa kali Emak harus bilang ke kamu, jangan ngutang di Kepin lagi! Apalagi kalau Emaknya tau kita bisa kena marah, Nak! Uangnya dikembalikan lagi ya", ucap Ratna tegas namun tetap tersenyum sambil mendorong kembali uang tersebut. "Bukan, Mak! Tari gak ngutang sama Kepin. Dia sendiri yang ngasih uangnya ke Tari dalam rangka syukuran atas keberhasilan dia jualan ikan selama satu semester. Dia juga nitip salam ke Emak kok. Terima uang ini ya Mak, please", tampak keseriusan di wajah Tari ketika menjelaskan. Diletakkannya kembali uang senilai tiga ratus ribu tersebut di tangan sang emak. Uang itu berpindah tangan ke Ratna. Dibalasnya senyum tipis sang anak lalu kembali memandang uang ditangannya. Kepin, anak itu lagi-lagi berusaha menolong mereka sesuai janjinya. Ratna tahu betul kalau uang itu diberikan oleh Kepin bukan karena syukuran, tapi karena niatan meringankan perekonomiannya dan Tari. Hanya saja Tari selalu salah mengartikan hal tersebut dan menganggap bahwa Kepin lebih b**o darinya. "Mumpung masih pagi buta, kamu aja yang ke pasar beli bahan makanan. Emak mau nyelesaiin jahitan dulu. Kamu pergi bareng Alexa-" "Nggak mau ah! Mending aku telpon Kepin aja sekalian supaya ada yang bayarin", jelasnya memotong perkataan sang ibu. "Kepin lagi pergi jualan jam segini. Kamu jangan gangguin dia dulu, kan juga gak boleh pergi sama yang bukan mahram walaupun dia sahabat kamu. Kamu bareng Alexa aja, kebetulan dia juga mau ke pasar" "Ih! Tapi kan-" "Assalamu'alaikum....Kak Tarriiiiiii main yuk!", suara cempreng yang terdengar dari luar memotong protesan yang ingin dilayangkan Tari. "Tuh orangnya udah dateng. Nih uang buat belanja, jangan lupa nawar biar hemat!", Ratna memberi setengah dari jumlah uang yang diberikan Tari lalu pergi meninggalkan sang anak yang terus mendengus. Tari dengan malas berjalan keluar menemui Alexa yang sedari tadi teriak-teriak memanggilnya. Mungkin dia akan menginap di pasar hari ini. Bukan apanya, Alexa selalu ngotot kalau nawar dan itu memakan waktu yang lama. "Pagi kak", ucapnya riang dengan senyum manis. "Pagi juga" Setelah saling menyapa, Tari jalan mendahului diikuti Alexa yang sebenarnya masih ingin mengoceh tapi sebisa mungkin ditahannya agar tidak berlebihan. Selama perjalanan, hanya terjadi percakapan ringan di antara keduanya. "Hari ini pasar kayaknya nggak terlalu rame, mungkin karena terlalu pagi", ucap Tari memandang ke depan di mana banyak orang berlalu lalang. "Sa, lo jangan lama ya nawarnya. Gue mau buru-buru pulang soalnya", lanjut Tari. Sedangkan orang yang ditanya malah diam. Alexa celingak-celinguk memandang sekitar tanpa mendengar ucapan Tari. "Alesa! Woy! Lo denger gue gak sih?", ketus Tari setelah merasa dikacangin. "Apa sih kak! Namaku A-L-E-X-A dibaca Aleksa bukan Alesa. Ntar aku laporin Kak Tari ke mami kalo masih salah nyebutin namaku" "Hm, terserah" Mereka lalu masuk ke pasar, memulai ritual tawar-menawar. Tidak sulit bagi Tari untuk mendapat harga murah apalagi ditambah dengan ikutnya Alexa sang penakluk pasar. Tari hanya diam memperhatikan Alexa yang berdebat dengan pedagang. "Bang, ikannya kok mahal amat sih?!", protes Alexa. "Harganya emang segitu, Neng. Itu udah harga modal yang saya kasih", tegas pedagang gak mau kalah. "Ah masa sih? Ikan yang ada lehernya aja gak segini mahalnya", ngotot Alexa mulai melantur. "Mana ada ikan yang punya leher" "Ada kok! Wah penjual ikan amatir nih, leher ikan aja gak tau. Heleh cemen!" Si pedagang berpikir keras, tak pernah ia jumpai ikan yang memiliki leher. Perhatian orang-orang juga mengarah pada mereka. Dengan terpaksa ia harus mengikhlaskan ikannya dengan harga murah, tapi tetap untung sih walaupun sedikit. Pokoknya bersyukur aja. "Kalo gitu, ambil aja ikannya Neng" "Nah gitu dong, Bang. Kan kalo gini jadi gampang" Tari langsung membayar ikan tersebut. Ntahlah, ia yang ingin beli ikan tapi malah Alexa terus yang nawar dari tadi. Lumayanlah, hemat air liur. Tak terasa semua bahan sudah dibeli, uangnya pun tinggal sisa sedikit. Mereka lalu keluar dari pasar, Tari memperhatikan Alexa yang tangannya masih kosong. "Sa, lo gak beli apapun?", tanya Tari yang kepo. Pasalnya tadi emaknya bilang kalau Alexa mau ke pasar karena ingin membeli sesuatu. "Mmmm...Aku sebenarnya mau beli batagor, kak. Tapi dari tadi aku perhatiin Bang Satria gak ada. Dia kan penjual favorit aku", jelas Alexa dengan lesu. Ia sudah menunggu seminggu sekali untuk membeli batagor. "Astaga, kenapa gak ngomong dari tadi? Gue kasih tau ya, Bang Sat emang gak jualan di sini kalau hari ahad. Dia pergi mancing ikan sama anaknya sekaligus quality time katanya" "Yah...yaudah deh, yuk kita pulang aja Kak" Tari hanya mengangguk, pulang ke rumah lebih awal dari dugaan. Dilihatnya Alexa yang masih lesu. Kalau boleh jujur Tari sebenarnya merasa tidak enak. Berjalan dan menawar di pasar tidaklah mudah, tapi Alexa melakukan itu dan menemaninya. "Sa, lo jangan sedih gitu! Gue traktir deh, lo pasti haus kan?" "Beneran, Kak? Kalo gitu Alexa mau", balasnya dengan semangat seakan-akan lupa kalau ia sedang sedih tadi. Bukan apanya, mendapat traktiran dari si ratu hemat merupakan keajaiban baginya. "Lo tunggu gue di sini ya, gue mau beli minuman dulu", kata Tari lalu pergi ke arah warung kecil yang ada di sana tak lupa menitipkan barang belanjaannya pada Alexa. Tak lama kemudian, Tari muncul dengan membawa dua buah teh gilas. Diserahkannya satu pada Alexa. Terlihat Alexa enggan menerimanya. "Kok beli teh gilas, kak? Yang mahalan dikit kek!", enggan menerima tapi terpaksa diambilnya karena haus mendera. Wajahnya kembali menampilkan raut lesu. "Bersyukur, Sa. Lo jangan sedih mulu dong, ntar gue kasih nomornya Kepin deh" "Ok, deal!" Alexa kembali berseri-beri sedangkan Tari hanya menatapnya datar sambil berjalan pulang ke rumah. Yah, Alexa itu naksir sama Kepin sejak pandangan pertama mereka bertemu ditambah dia juga kagum. Kekaguman Alexa terhadap Kepin bermula hanya karena Kepin bisa menjawab pertanyaan bodohnya itu. "Kak Kepin, ikan punya leher atau nggak?" "Hm, nggak" "Kenapa?" "Karena ikan bukan jerapah yang wajib punya leher" Yah, hanya sebatas itu. Mudah sekali Alexa jatuh hanya karena kebegoan estetik. Sudahlah, tidak penting membahas mereka. Di tengah perjalanan menuju rumah, Tari tiba-tiba berhenti dan terus mengamati gelas minuman yang isinya sudah kosong di tangannya. Digosoknya label undian berhadiah pada kemasan, padahal dirinya yakin kalau hanya akan mendapat sebuah kata 'coba lagi'. "Kak, lagi ngapain sih?" Tari masih asyik dengan kegiatannya. Dugaannya benar, setelah usahanya menggosok dengan greget hasil ia dapatkan hanyalah kata 'coba lagi' pada label tersebut. Dilihatnya minuman Alexa yang belum habis dan langsung dirampasnya. "Gue pinjem dulu", kata Tari setelah merampas minuman Alexa dan dibalas dengan dengusan oleh sang pemilik. Tari kembali menggosok label minuman Alexa sambil merapalkan bismillah berkali-kali. Saat tulisan pada label yang ia gosok mulai terlihat sedikit tulisan, matanya ia tutup. Setelah dirasa sudah cukup lama menggosok, ia membuka perlahan matanya masih dengan merapalkan bismillah. Tari menatap label yang telah ia gosok. Di sana, bukan kata 'coba lagi' melainkan sebuah angka. Tari berulang kali mengucapkan alhamdulilah dengan ekspresi bahagia. Alexa hanya menatapnya jengah seakan tidak tertarik. Ditatapnya lamat-lamat label tersebut. Di sana sepertinya bukan tercantum hadiah angka rupiah melainkan lebih menyerupai nomor telepon. "Lah? Kok nomor telpon sih?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN