Wajah cantik itu merona merah dengan begitu indahnya saat Aldrich melepaskan lumatan bibirnya, netra sebening embun itu bertubrukan dengan netra setajam elang yang menatapnya dengan tatapan yang hangat. Sudut bibir keduanya tertarik sempurna dalam senyuman salah tingkah. Tangan Aldrich masih setia menangkup wajahnya, mengusap pipinya dengan ibu jari pria itu. Dengan senyuman yang masih lekat, tangan Angela memukul d**a bidang pria itu. “Mengapa kita harus berciuman disini, semua orang yang berlalu lalang di trotoar pasti telah melihat kita!” bentak Angela membuat Aldrich tersenyum tipis seraya merengkuh pinggangnya hingga tubuh mereka kembali merapat. “Jika pria berani mencium wanitanya ditempat umum, itu berarti kau milikku selamanya...”bisik Aldrich tepat di daun telinga wanita c

