Angela menatap pantulan bayang dirinya dari dinding kaca kafe itu, dia mengenakan gaun yang begitu indah dengan jas biru beludru Aldrich yang menutupi pundaknya. Penampilannya tampak sempurna, kontras dengan wajahnya yang kini terlihat sembab akibat banyak menangis. Meneguk habis kopinya berakhir dengan hembusan napas kasar, Angela melihat jam yang tertera di ponselnya yang menunjukkan pukul 11.15 pm. Lima belas menit lagi kapal pesiar yang dia tunggu akan datang dan dia tak memiliki waktu lagi untuk pergi ke pusat perbelanjaan terdekat. Kakinya pun sudah terasa sangat lelah sekarang. “Kau bisa membelinya nanti, saat perjalanan menuju ke bandara besok...” gumam Angela pada dirinya sendiri. Meletakkan uang tunai diatas bill yang terletak diatas meja itu, Angela pun berjalan kaki menuj

