Ramuan

2438 Kata
"Ada apa, sih, Mah? Pagi-pagi udah nyuruh aku ke sini?" tanya seorang lelaki tampan berpawakan tinggi kepada seorang wanita yang sudah tidak lagi muda, tetapi belum bisa dibilang tua juga karena setidaknya belum semua rambut di kepalanya telah memutih. "Ini, Mama punya ini," kata wanita itu dengan raut wajah berbinar menggambarkan ada sebuah harapan terpendar di dalam lubuk hatinya, wanita itu mengulurkan sebuah botol kaca dengan tutup bulat. Botol itu berwarna putih transparan hingga membuat cairan kecoklatan agak sedikit kental terlihat di dalamnya. "Apa ini, Mah?" tanya lelaki itu, kulit keningnya sedikit mengerut saat melihat botol yang sudah berpindah ke tangannya sedikit memutar botol itu ke kanan dan ke kiri penuh selidik. "Air rebusan buah zuriat, tapi ini spesial karena buahnya langsung di bawain teman Mama dari Mekah, udah didoain juga sama teman Mama yang dari sana," jawab wanita itu, lelaki yang sedari tadi memanggilnya dengan sebutan Mama itu semakin bingung mendengarnya. Bukan hanya karena baru mendengar nama buah itu tetapi juga karena melihat sang ibu yang begitu semangat saat berbicara tentang buah itu. "Terus ini buat apa? Kenapa Mama kasih ini sama Adrian?" Belum juga satu pertanyaan terjawab kini malah muncul berbagai pertanyaan lain di benak lelaki tampan itu. "Kasih ini sama Karin, suruh dia minum. Ini ikhtiar biar kalian cepat punya momongan," jawab wanita itu sambil mendorong tubuh sang putra seolah begitu ingin ia bergegas melaksanakan perintahnya. "Hah?" "Kok, hah? Banyak yang udah buktiin kalau promil pakai air rebusan buah zuriat ini manjur, apalagi ini buah zuriatnya istimewa. Cepat suruh Karin minum. Mama sama Papa udah bener-bener pengen kamu punya anak, kami pengen punya cucu!" Kata wanita itu penuh penekanan. "Iya, Mah, iya!" jawab lelaki itu sembari berjalan cepat meninggalkan teras rumah di mana dirinya dibesarkan selama ini. Bukan hanya karena patuh pada sang ibu yang menjadi alasannya tetapi juga karena ia tidak ingin wanita yang telah melahirkannya itu 'merepet' sampai kemana-mana jika sudah membicarakan tentang cucu. "Adrian, Mama mau bukti kalau Karin beneran minum air itu, kamu kirim foto ke Mama pas dia lagi minum, ya!" Pekik wanita bernama Sukma itu pada sang putra, lelaki itu hanya mengacungkan ibu jarinya membuat sang ibu tersenyum lega. Lelaki bernama Adrian itu segera memasuki mobilnya dan bergegas meninggalkan halaman rumah orang tuanya itu. "Karin, kamu di mana sih?" Gumaman lirih luapan hati yang bingung mengiringi. "Loh, Mah. Adrian mana?" Kini seorang lelaki paruh baya mendatangi Bu Sukma menanyakan keberadaan putra mereka, tadi sempat melihat bocah kebanggaan yang kini sudah tumbuh begitu dewasa itu tetapi panggilan alam yang harus dituntaskannya di dalam kamar mandi membuat lelaki yang rambutnya sudah lebih banyak memutih itu tidak bisa berkumpul bersama dengan anak dan istrinya tadi, kebersamaan yang ternyata hanya sekejap mata. "Udah Mamah suruh pulang, biar Karin bisa cepet minum ramuan itu," jawab Bu Sukma membuat sang suami sedikit tercengang. "Mamah suruh anak kita dateng ke sini pagi-pagi begini cuma buat ngasih ramuan itu terus pergi lagi, Adrian bahkan sama sekali belum masuk rumah, Mah!" kata lelaki berpawakan tinggi itu, rupanya Adrian mewarisi postur tubuh idealnya dari sang ayah yang meski sudah tidak muda tetap terlihat gagah. Wajah cantik sang ibu dan wajah tampan sang ayah yang membuat Adrian memiliki rupa yang nyaris sempurna tanpa cela. "Ya kan memang Mamah manggil dia ke sini buat ngasih ramuan itu biar Karin bisa minum dan kita bisa cepat punya cucu, Pah," jawab Bu Sukma enteng. "Iya, sih, Papah juga sudah ingin sekali punya cucu. Tapi, seenggaknya kamu suruh dulu Adrian masuk, sarapan dulu, ngobrol-ngobrol dulu sama Papah," keluh lelaki bernama Wibowo itu, Bu Sukma tersenyum mendengar ucapan sang suami wanita itu tahu jika sang suami hanya merindukan putranya. Karena sejak Adrian lahir hingga beberapa bulan lalu tidak pernah sekalipun anak itu jauh dari mereka jadi wajar saja jika kini sang ayah begitu merindukan kehadirannya di hari-hari mereka tetapi mereka juga harus terbiasa karena bagaimanapun Adrian sudah dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri. "Udah, ngobrol-ngobrol kan bisa ntar, biarin Adrian kasih ramuan itu sama Karin dulu," kata Bu Sukma, Pak Wibowo hanya diam sambil menghela napas, "ayo masuk, kita sarapan. Papah harus kerja toh. Adrian juga pasti udah sarapan, Karin pasti bisa ngurus suaminya dengan baik, kita enggak mungkin salah pilih menantu." Sementara di tempat lain, Adrian merasakan perutnya sedikit melilit terpelintir rasa lapar membuat lelaki itu sadar jika semalam ia melewatkan makan malam dan pagi ini dia belum sempat sarapan. Tanpa Bu Sukma dan Pak Wibowo tahu ternyata mereka tidak setepat keyakinan mereka dalam memilih seorang menantu. "Halo, Karin, kamu di mana?" tanya Adrian saat menghubungi wanita yang baru dinikahinya enam bulan yang lalu itu. "SMK Nusa Persada, kenapa?" Karin merasa tidak biasanya lelaki itu menanyakan keberadaannya, meski ia akui dirinya berangkat lebih pagi hari ini karena harus mengisi acara seminar tentang seks bebas dan segala dampak buruknya, dirinya adalah seorang pengacara yang juga seorang aktifis dalam berbagai kegiatan sosial. "Aku ke sana sekarang, kamu harus minum ramuan yang Mama kasih," kata Adrian singkat, lelaki itu fokus memutar haluan menuju sekolah yang sudah ia tahu di mana keberadaannya. "Hah?" Kata tanda terkejut yang lolos begitu saja dari bibir wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun itu. "Aku harus foto kamu pas minum ramuan itu biar Mama percaya, kalau enggak juga aku enggak akan repot-repot nyusulin kamu ke sana," jawab Adrian mengetahui jika wanita yang kini menyandang gelar sebagai istrinya meski mereka belum lama saling kenal itu bingung. "Oh, oke," jawab Karin singkat, sebenarnya wanita itu sudah mengetahui ramuan apa yang suaminya bawa karena jauh lebih pagi tadi sang ibu yang tinggal di luar kota sudah meneleponnya dan berceramah panjang kali lebar tentang ramuan itu, mirip seperti tukang jamu yang biasa mangkal di pinggir jalan dekat pasar. Wanita itu mengatakan hal yang kurang lebih sama dengan apa yang Bu Sukma katakan pada Adrian tadi, rupanya kedua wanita itu sudah bersekongkol untuk mencekoki Karin dengan ramuan itu karena mereka berdua sudah sama-sama ngebet memiliki cucu dari Adrian dan Karin. Sedangkan bagi Adrian dan Karin, pemikiran mereka adalah sebatas menuruti kemauan orang tua mereka agar setidaknya orang tua mereka merasa lega jika usahanya sudah berjalan, padahal Adrian dan Karin sendiri sama sekali tidak pernah ada usaha untuk memiliki buah hati. Semakin mendekati gedung SMK Nusa Persada jalanan semakin ramai, diramaikan kendaraan para siswa berseragam atasan kemeja lengan pendek berwarna putih polos dengan bawahan kotak-kotak berwarna coklat kebanyakan dari siswa sekolah itu mengendarai sepeda motor, ada juga yang berjalan kaki setelah turun dari angkot, lalu ada juga beberapa siswa yang terlihat turun dari sebuah mobil yang mengantarkannya. Adrian memacu mobilnya untuk memasuki area parkir mobil itu untuk dapat segera menemui Karin, menjalankan tugasnya lalu selesai. Setelah mendapatkan tempat untuk memarkirkan mobilnya lelaki itu bergegas turun untuk mencari keberadaan istrinya, gedung sekolahan itu terdiri dari dua lantai dengan bangunan yang teramat luas mengelilingi sebuah lahan yang berfungsi sebagai lapangan olah raga dan aula terbuka di tengahnya, merasa akan kesulitan menemukan keberadaan Karin lelaki itu memutuskan untuk meneleponnya. "Karin, kamu di mana? Aku udah di parkiran," kata Adrian sesaat setelah panggilannya dijawab, tidak pernah ada kata basa-basi antara kedua orang sibuk itu. "Di aula lantai dua, kamu tinggu aja aku di bawah tangga ntar aku turun," jawab Karin, tanpa sedetik pun menunggu Adrian menjawab panggilan itu langsung berakhir. Adrian menoleh ke kanan dan ke kiri mencari di mana keberadaan tangga, dan setelah melihatnya ia bergegas berjalan ke sana, tangga itu berada agak jauh dari tempat parkir. Adrian Dewananda, seorang lelaki ambisius yang telah berhasil membesarkan bisnisnya di bidang hiburan, pemilik PH ternama yang banyak menggawangi artis-artis beken negeri ini itu berjalan sembari membawa botol berisi ramuan yang ibunya berikan di tangan kiri dan satu tangannya menggenggam ponsel yang kembali berdering. "Ya, Kris." "...." "Ya nggak bisa gitu, dong! Jangan mentang-mentang udah naik daun sekarang dia bisa seenaknya!" "...." "Saya enggak mau tau, dia harus jalanin semua kewa—." "Aaaakkkhh!" Suara pekikan dan hantaman ditubuhnya membuat Adrian terkejut, dan yang lebih membuat hatinya lebih mencelos lagi botol berisi ramuan dari sang ibu terlepas dari tangannya. Tidak ia pedulikan ponselnya yang terjatuh ke lantai paving blok yang tersusun rapi itu yang ia pedulikan hanya botol ramuan yang ternyata terpental ke tubuh seorang gadis yang menabraknya atau mungkin dia yang menabrak gadis itu. Nahasnya, tutup botol itu terlepas hingga isinya tumpah mengenai bagian depan kemeja putih gadis yang kini memelototkan kedua matanya. Tidak Adrian pedulikan karena secepat kilat lelaki itu menundukkan tubuhnya berpacu dengan waktu yang hanya sepersekian detik agar botol kaca itu tidak pecah saat menyentuh lantai. "Om! Gimana sih, kalau jalan liat-liat dong! Makanya jangan hapean kalau jalan!" Omel gadis itu sambil mengusap-usap bagian depan kemeja yang ia pakai, kemeja putih yang kini warnanya sudah menjadi kecoklatan dan ... basah. Gadis itu tetap saja mengusap kemejanya dengan wajah cemberut meskipun ia tahu di usap-usap juga kemeja itu tidak akan kembali putih meskipun nanti kering akan tetapi noda coklatnya tidak akan hilang. "Yah, tumpah. Mana isinya abis lagi!" Keluh Adrian sambil menatap botol yang sudah kehilangan isinya, berpindah membasahi baju seorang gadis yang sama sekali tidak ia pedulikan keberadaan. Rasa kesal akibat bajunya yang basah belum tersalurkan, kini bertambah dengan kesal karena sama sekali tidak dipedulikan membuat gadis itu mengambil botol kosong itu dari tangan Adrian dengan cepat dan mengacungkannya ke atas seolah ingin segera melempar benda itu ke tempat yang jauh. "Jangan!" Kata Adrian cepat sambil menatap wajah gadis itu yang sedikit memerah karena rasa kesalnya. "Om harus tanggung jawab!" kata gadis itu membuat Adrian tercengang, pikirannya tetap saja menjurus pada ramuan itu dan amarah ibunya kalau tahu ramuan itu tidak sampai ke dalam perut sang menantu dengan aman. "Tanggung jawab apa?" Adrian malah balik bertanya dengan wajah polosnya. "Hah? Tanggung jawab apa? Baju aku jadi basah dan kotor gara-gara Om!" Membuatnya teringat pada omelan Bu Sukma kata-kata yang mencerocos dari bibir gadis itu malah membuat pikiran Adrian kembali pada ramuannya. "Sini botolnya, ayo ikut saya!" Adrian secepat kilat menyambar ponsel dan tutup botol yang tergeletak di lantai lalu menggenggam tangan mungil gadis itu, menariknya mendekati mobilnya yang terparkir beberapa belas meter dari tempat kejadian perkara itu berlangsung. Gadis itu menurut mengikuti langkah cepat Adrian dengan sedikit terseok-seok sambil memegangi botol kosong milik lelaki itu, ia lalu masuk ke dalam mobil yang pintunya baru saja Adrian buka sementara lelaki itu berjalan cepat memutari mobil dan turut masuk hingga keduanya duduk berdampingan. "Om, kalau mau beli di koperasi sekolah aja, kalau di luar kelamaan ntar keburu bel, eh, tapi koperasi juga belum buka kalau pagi gini!" ujar gadis itu bingung, ia mengira kalau Andrian akan mengajaknya membeli kemeja sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban karena sudah membuat kemeja gadis itu basah dan kotor. "Emang ada yang jual? saya aja enggak tau itu namanya apa." Adrian tidak percaya jika koperasi sekolah menjauh ramuan yang bisa membuat seorang wanita cepat hamil. "Ya ada lah, Om! Kan koperasi emang jualnya perlengkapan sekolah, tapi bukanya agak siang, terus sekarang gimana dong" jawab gadis itu kesal, Adrian sedikit tercekat menyadari jika dirinya dan gadis itu sedang membicarakan hal yang berbeda. Tapi lagi-lagi pikirannya berputar pada ramuan itu hingga sebuah ide tercetus sempurna di pikirannya. "Oke, kamu pegang dulu botol ini. Kayak gini," kata Adrian sambil memosisikan tangan gadis itu untuk memegang botol yang telah kosong, gadis itu mengerutkan kening tidak mengerti tetapi tetap menurut sementara Adrian menyalakan kamera ponselnya. "Om, aku udah hampir telat masuk kelas!" Omel gadis itu lagi, apalagi dia juga merasakan tidak nyaman dengan kemejanya yang basah. "Jangan gini, ntar keliatan rok sekolah kamu!" kata Adrian lirih sambil menatap layar ponselnya melihat gambar yang akan dia ambil. Ide Adrian adalah mengirimkan foto tangan gadis itu yang tengah memegang botol kosong pada sang ibu lalu mengatakan jika Karin sudah meminum ramuannya, sang ibu juga pasti tidak akan tahu kalau itu tangan wanita lain. Menyadari jika Adrian sama sekali tidak mempedulikannya dan malah sibuk memotret tangannya gadis itu kembali tersulut emosi. "Om, baju aku gimana?" tanya gadis itu sambil cemberut kesal. "Ya udah beli aja di koperasi," jawab Adrian sambil mengambil dompet dari saku celana. "Belum buka, pokoknya Om harus tanggung jawab, ya, masa aku sekolah pake baju kotor dan basah gini!" Gadis itu malah semakin mengomel. "Kok jadi kamu yang ngomel, tadi juga kamu yang nabrak Om!" kata Adrian tidak mau tertindas, gadis itu semakin mendelik padanya. "Aku gimana, jelas-jelas Om yang nabrak aku!" Kekeh gadis itu tidak mau kalah. "Oke, kita analisa ya, tadi Om jalan ke arah sekolah tiba-tiba kamu nabrak dari depan, berarti kamu jalan ke arah berlawanan, kamu juga nabrak Om cukup kenceng berarti kamu lari. Kamu mau bolos ya, mau kabur dari sekolahan ya?" kata Adrian sambil menunjuk ujung hidung mancung gadis itu. Gadis itu tercekat merasa tuduhan Adrian tidak bisa membuatnya berkata-kata, hanya jemari lentiknya saja yang terkepal karena kesal. "Enggak bisa ngomong apa-apa kan, berarti bener kan?" kata Adrian lagi. "Om!" Geram gadis itu sambil berusaha meredam amarahnya, ia masih tahu tidak sopan berbicara kasar pada orang yang lebih tua. "Siapa mana kamu?" tanya Adrian dengan suara yang lebih santai karena merasa sudah menang dan tidak akan membuat gadis itu marah lagi karena ternyata gadis itu yang salah. Terlebih lagi hatinya sudah merasa tenang karena sudah memiliki foto yang akan dia kirim pada ibunya. "Shizuka," jawab gadis itu singkat, Adrian malah terkekeh geli mendengar gadis itu menyebutkan sebuah nama. "Kalau gitu kamu salah ketemu orang, nama Om bukan Nobita," kata Adrian sambil tertawa semakin terbahak sementara bagi gadis itu sama sekali tidak ada yang lucu hingga dia semakin tajam menatap wajah Adrian dengan kesal. "Om, baju aku gimana?" tanya gadis itu sekali lagi dengan suara penuh penekanan. "Oke, kamu pake kemeja Om aja. Enggak apa-apa agak kegedean dikit!" kata Adrian ringan sambil melepaskan kemeja yang ia kenakan yang kebetulan juga berwarna putih polos. "Hah?" kata gadis itu spontan. "Kalau didobelin masih basah, kamu buka aja kemeja kamu. Om enggak akan ngintip!" kata Adrian sambil menutup wajahnya dengan majalah yang ada di atas dasbor. Sekarang lelaki itu sudah bertelanjang d**a hanya mengenakan sebuah celana bahan berwarna coklat saja menampakkan tubuhnya yang kekar berotot tetapi sama sekali tidak menarik perhatian gadis itu, pikirannya sedang tertutup rasa kesal sekarang hingga yang ia lakukan hanya menggerutu. Yakin jika lelaki itu sudah tidak bisa mengintip akibat majalah terbuka yang menutupi wajahnya gadis itu membuka kancing kemejanya dan akan menukarnya dengan kemeja yang lelaki itu berikan, lumayan untuk sekedar ia gunakan saat jam pelajaran pertama daripada mengenakan kemejanya yang kotor dan basah. Namun ... Saking fokusnya ia membuka kancing kemeja sekolah yang masih di kenakan dan Adrian yang menutup wajahnya dengan majalah hingga tidak melihat apa-apa membuat mereka tidak menyadari adanya dua orang security sekolah yang berjalan mendekat, suara ketukan kencang pada kaca jendela lah yang membuat mereka tersadar. "Buka pintunya, sedang apa kalian di dalam?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN