My Sweet Enemy 2

1403 Kata
Menjauh dariku dan jangan mendekat atau kau akan sakit dan tidak ada penyembuhnya kecuali aku. ******** Kembali ke rumah, Sakti segera masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Belum sempat ia memejamkan mata kembali kesabarannya di uji. Pintu kamarnya di ketuk hampir digedor. Kalau sudah begitu siapa lagi kalau bukan si biang rusuh, Jasmine. Sakti membuka pintu dengan tampang jutek. "Ada apa lagi ? Aku mau tidur," ketus Sakti hendak menutup pintu tapi di halangi Jasmine. "Temani aku ke cafe, aku mau minum kopi," ucap Jasmine dengan nada perintah. "Kalau enggak mau enggak apa-apa, aku akan minta tolong Pak Dimas mengantarku atau aku naik mobil sendiri," ancam Jasmine dengan nada angkuh sambil memainkan jemarinya. Tentu saja Sakti tidak akan menolak jika Jasmine sudah mengatakan akan meminta tolong pada Pak Dimas, yaitu Ayah Sakti, untuk mengantar. karena Ayah Sakti adalah supir dirumah Jasmine, maka maka mau tidak mau, Sakti yang akan mengantar karena ia tidak ingin Ayahnya mengantar si biang rusuh. "Kamu ngapain ke cafe kalau mau ngopi saja. Lebih baik, duduk saja di gazebo taman belakang, nanti aku buatkan kopi yang enggak kalah enak dari kopi di cafe," ucap Sakti dengan malas-malasan. "Memangnya kamu bisa ?" Tanya Jasmine tidak percaya yang hanya dibalas anggukan Sakti. "Baiklah aku tunggu," ucap Jasmine lalu beranjak menuju taman belakang. Sakti menarik nafas dalam lalu mengusap dadanya sendiri. "Sabar .... sabar ..." gumam Sakti lalu beranjak menuju dapur. Sakti membawa satu cangkir kopi buatannya menuju gazebo dan memberikannya pada Jasmine. "Minumlah, aku mau tidur dulu, ngantuk," ucap Sakti lalu hendak beranjak pergi meninggalkan Jasmine. "Temani aku disini, atau aku buang kopi buatanmu !" Teriak Jasmine yang tidak digubris Sakti yang tetap melangkah pergi hingga terdengar suara gelas pecah. Sakti berhenti sejenak mengepalkan tangannya dengan kuat tapi tetap tidak berbalik kembali pada Jasmine. Ia lebih baik tidur daripada meladeni nona muda yang selalu membuatnya emosi. Sakti masuk kamar, tidak dipedulikannya gedoran di pintu kamarnya. Lebih baik menghindari Jasmine yang seperti boom baginya. Toh ancamannya untuk menyuruh supir di keluarga itu mengantarnya, pasti hanya gertakan. Karena Sakti tahu, walau keras kepala, tapi Jasmine masih mempunyai rasa kasihan. "Sakti …! Buka pintunya !" Teriak Jasmine belum mau menyerah,yang tidak dihiraukan Sakti, yang malah menutup mukanya dengan bantal hingga akhirnya ia terlelap. ******** Sakti mengeluarkan motor dari garasi di pagi hari. Dia sudah siap berangkat ke sekolah. Dilihatnya Jasmine masuk kedalam mobil siap untuk berangkat ke sekolah juga. Jasmine menatapnya dengan tatapan marah karena sikap Sakti tadi malam. Tapi tentu saja Sakti tidak akan peduli, karena baginya kemarahan Jasmine seperti angin lalu. Toh pada akhirnya nona Mudanya itu akan minta tolong padanya jika ada pelajaran yang tidak ia pahami atau merengek dengan gayanya yang angkuh agar Sakti mau menemaninya ke club malam karena Mamanya pasti mengijinkan jika ia pergi dijaga oleh Sakti. Saat berpapasan di koridor sekolah pun Sakti hanya membuang muka dan tidak menatap Jasmine sama sekali padahal Jasmine menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. Sakti malas meladeni nona mudanya itu, buang-buang energi saja. Saking kesalnya Jasmine pada Sakti membuat ia lagi-lagi membuat masalah dengan kabur dari sekolah saat jam pelajaran. Setelah ini pasti ada panggilan untuk orang tuanya. Jasmine ingin Sakti dimarahi oleh Mamanya karena lengah menjaganya. Jasmine kabur dari sekolah bukan untuk nongkrong enggak jelas. Tapi ia pergi ke kelas masak yang biasanya diikuti ibu-ibu atau para pengusaha kuliner. Jasmine menyukai membuat berbagai macam cake dan juga berkreasi dengan berbagai kue-kue cantik. Kelak, Jasmine ingin membuka toko rotinya sendiri. Dia juga sudah membawa baju ganti dari rumah. Jasmine mulai asyik dengan bahan-bahan roti di depannya. Mayoritas yang mengikuti kelas adalah para ibu-ibu cuek jadi tidak ada pembicaraan kecuali sesekali suara chef yang memberikan arahan. Kembali ke Sekolah, Sakti yang menyadari Jasmine bolos lagi hanya bisa menghela nafas kasarnya. Kepalanya mau meledak rasanya dengan sikap Jasmine. Gadis bar-bar itu tahu sekali bagaimana caranya membuat nyonya besar akan marah padanya. Selesai pelajaran, Sakti izin tidak mengikuti les tambahan dan memutuskan mencari Jasmine si nona mudanya yang bengal. Beberapa kali ia menelepon Jasmine tapi tidak kunjung diangkat. Akhirnya Sakti memutuskan menuju tempat yang biasa digunakan Jasmine untuk nongkrong tapi tidak ada tanda-tanda gadis yang selalu membuatnya kesal itu. Selama ini Sakti tidak pernah tahu kalau nona mudanya punya hobi membuat masakan dan juga roti. Dalam pikiran Sakti, bahwa Jasmine adalah musuh yang harus dilindungi. Si nona rusuh yang selalu berbuat semau gue. Tidak ada kesan baik dari diri Jasmine yang diingat Sakti yang ada hanyalah sikap Jasmine yang bengal dan selalu membuatnya repot. Karena tidak kunjung menemukan gadis itu, akhirnya Sakti memutuskan untuk pulang. Biarlah malam ini ia mendengarkan omelan Nyonya besar dan juga ibunya sendiri karena Jasmine hilang dari pengawasan. Toh ia bukan baby sitter gadis itu. Sakti memacu motornya dengan kencang membuang semua kesalnya. Sudah beberapa kali ia meminta Ayah dan ibunya agar keluar saja dari tempat kerja mereka dan kembali ke desa mengurus sawah peninggalan kakeknya. Tapi menurut Ibunya, mereka akan pindah ke desa setelah sakti selesai sekolah. Dan Sakti menantikan saat-saat kebebasannya itu. Dekat dengan Jasmine membuat kesabarannya benar-benar diuji. Sakti memarkir motornya di garasi, mencuci tangannya lalu masuk lewat pintu belakang. Dilihatnya sang Ibu sedang asyik di dapur membuat cemilan sore. "Sudah pulang nak ? non Jasmine mana kok dari tadi Ibu ndak lihat ?" Tanya Ibu Sakti sambil tetap fokus pada cemilan buatannya. Sakti menarik nafasnya sebentar. "Dia bolos hari ini," ucap Sakti pada Ibunya yang langsung menghentikan kegiatannya. "Lalu, kamu sudah cari non Jasmine ?" Tanya Ibu Sakti lagi dan belum sempat Sakti menjawab dari arah depan dilihatnya Jasmine dengan pakaian santainya hendak masuk dapur, tapi begitu melihat Sakti ia langsung lari. Sakti segera mengejar Jasmine yang hendak naik ke lantai atas kamarnya, tapi karena terburu-buru takut ditangkap Sakti, membuat Jasmine kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tangga. "Aduh …" pekik Jasmine yang membuat Sakti segera berhenti dan buru-buru menangkap tubuhnya yang limbung. Jasmine meringis menahan perih di Kakinya. Widia Ibu Sakti yang menyusul mereka, segera memukul lengan Sakti begitu melihat Jasmine yang meringis menahan Sakit. Beruntung saat ini nyonya besarnya sedang ke luar kota bersama Suaminya jadi keadaan rumah sepi. "Sakti … kamu gendong non Jasmine ke kamar kamu, biar Ibu pijat kakinya. Pasti terkilir ini," ucap Widia Ibu Sakti memberikan perintah pada putranya. Ia menggelengkan kepala melihat Putranya dan juga Nona Mudanya yang tidak pernah akur layaknya serial kartun Tom and Jerry. Sakti mendudukkan Jasmine di ranjang dan memeriksa kaki Jasmine yang malah menepis tangan Sakti. "Jangan dipegang, kamu pegang malah tambah sakit nanti. Atau jangan-jangan malah kamu mau patahin lagi kakiku !" ucap Jasmine dengan ketus pada Sakti yang dibalas Sakti dengan tatapan cuek. "Terserah kamu," ucap Sakti lalu keluar kamar dan saat berpapasan dengan ibunya di depan pintu ia hanya diam saja melangkah pergi ke belakang. Widia memijat pelan Kaki Nona mudanya dengan minyak dari kampung. Jasmine sesekali terpekik menahan sakit. Tapi ia mempercayai Widia akan memijatnya dengan benar karena semenjak kecil Widia selalu memijatnya jika ia sakit. Jasmine menatap Widia. Wanita yang tetap cantik dan juga lembut di usianya yang tidak lagi muda. Berbeda sekali dengan putranya yang mulutnya bagai petasan cabe sangat pedas kalau berucap padanya. Selesai memijat Kaki Jasmine, Widia hendak membantu Jasmine kembali ke kamar. Tapi dilihatnya Jasmine malah terlelap tidur. Sepertinya Nona mudanya itu kelelahan. Ia tersenyum lalu membelai rambut nona cantiknya itu, gadis cantik yang jarang dibelai Mamanya sendiri karena terlalu sibuk. Gadis cantik yang diasuhnya dari bayi dan tumbuh bersama Sakti tetapi tidak pernah akur satu sama lain. Sakti yang masuk kembali ke kamarnya, kesal karena Jasmine malah tidur di tempat tidurnya. Akhirnya ia menggendong Nona Mudanya yang keras kepala itu untuk kembali ke kamarnya sendiri. Sakti menatap wajah Jasmine dalam gendongannya, terlihat cantik dan menyenangkan dipandang saat tidur begini, batin Sakti menilai. Karena tidak fokus melihat ke depan, saat masuk ke kamar Jasmine, malah kepala Jasmine terantuk pintu hingga menyebabkan ia bangun. "Aduh … kamu mau bunuh aku ya !" Pekik Jasmine lalu turun dari gendongan Sakti sambil memegang kepalanya yang sakit. "Harusnya tadi aku lempar saja, kamu berat banget jadi aku kehilangan keseimbangan." Bohong Sakti pada Jasmine lalu berlalu meninggalkan Jasmine. "Sakti … tunggu !" panggil Jasmine yang membuat Sakti yang sudah di luar pintu kamar membalikkan badannya menghadap Jasmine dengan wajah yang malas. Dengan cepat Jasmine menarik kuat hidung mancung Sakti lalu dengan cepat pula menutup pintu kamarnya. Tinggallah Sakti berdiri mematung di depan pintu kamar Jasmine dengan menggelengkan kepalanya menghadapi sikap Nona Mudanya yang super ajaib. ******** Love You all My Readers
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN