Pesan Misterius Dion

1332 Kata
"Saya tidak mengerti, kenapa orang seperti kamu bisa diterima oleh Tuan Muda. Sebegitu putus asakah beliau. Sampai-sampai menerima sosok pekerja yang bahkan di hari pertamanya seperti tak berminat mendengar penjelasan dari saya, rekan kerjanya." Bu Susi sudah ada di depan meja Kinar sembari terus mengoceh bak burung beo. Wanita tegas itu menampakkan raut muram dan memandang tajam wajah Kinar. Matanya menyipit, menelisik kontur wajah gadis yang terlihat kebingungan, atau bahkan ketakutan. Kinar digelayuti perasaan cemas yang berlebih. Dia tak mau Aski atau pun Istri dari Rakasya, mengenalinya. Kalau sampai iya, hidupnya pasti akan berakhir saat ini juga. "Maafkan saya, Bu." Hanya kata-kata itu saja yang bisa dia ucapkan. Karena terlalu syok akan masalah ini. Bagaimanapun, seberat apa pun masalah yang dia hadapi, Kinar harus menjalani pekerjaan ini dengan sebaik mungkin. Karena tidak hanya dia yang butuh gaji, tetapi kedua orang tuanya juga sangat memerlukannya, terutama sang Ayah yang sedang terbaring sakit dan butuh biaya pengobatan. Bu Susi menghela napas lelah, dan mengangguk samar. Kemudian, dia mematikan proyektor. "Kita sudahi saja. Sekarang lebih baik kamu ikut saya ketemu anak-anaknya Tuan Muda." Tubuh wanita ramping itu berbalik. Kemudian berjalan menuju pintu keluar diikuti Kinar yang melangkah penuh keraguan. Degup jantungnya berdebar semakin kencang. Dia takut akan kebenaran yang telah dia ketahui tentang rahasia besar sang Nyonya. Apalagi rahasia ini tidaklah baik bagi semua orang. Malah sangat memalukan bila terungkap. Mereka berdua beralih menaiki tangga kayu yang begitu mengkilap dan cemerlang. Kinar mencoba memegangnya dan kayu-kayu itu terasa licin. Dia langsung menarik tangannya dan bersumpah tidak akan memegang apa pun. Karena bisa saja rusak, lalu apa yang bisa dia ganti. Gaji selama satu tahun saja, rasanya tak cukup untuk mengganti semua barang di rumah ini. Setelah sampai di lantai dua, Bu Susi berbelok ke arah kanan. Mereka menelusuri lorong besar dengan banyak pintu yang jaraknya berjauhan. Terbayang bagaimana besarnya setiap kamar, bila dibandingkan dengan lyas rumahnya, tentunya tak akan bisa bersaing. Terlalu luas untuk sekadar kamar apalagi dihuni oleh anak-anak. Kemudian langkah kaki wanita di depannya berhenti di depan sebuah pintu kamar yang bersebelahan dengan satu pintu paling ujung dekat dengan balkon. Tanpa basa-basi, Bu Susi memutar handle pintu dan membuka pintu itu dengan lebar. Sebuah ruangan dengan cat merah jambu menyambut sepasang manik mata Kinar. Kamar ini benar-benar luas. Kinar mengikuti Bu Susi masuk. " Ini kamar Aski, dia tidur sendiri, tapi kamarnya tersambung langsung dengan milik Kakak laki-lakinya, Dion." Bu Susi menjelaskan sambil terus berjalan menuju arah kiri, dekat dengan meja belajar dengan komputer canggihnya. Wanita itu membuka pintu dan terlihatlah sebuah ruangan lagi ber-cat biru langit. "Sepertinya anak-anak sedang tidak di kamar. Mungkin mereka ada di ruang bermain." Bu Susi berkata sembari terus menatap ambalan yang ada di samping ranjang milik di kamar bercat biru, miliknya Dion. Di ambalan itu terpajang rubik berbagai ukuran dan juga action figur superhero Superman. Salah satu rubik letakknya agak melenceng ke tepian ambalan, bila terkena senggolan sedikit saja, pasti benda itu jatuh ke lantai. Dengan segera, Bu Susi merapikannya ke tempat semula. Kemudian matanya memindai lagi, dia melihat bantal yang agak melenceng letaknya. Semua tak lepas dari pandangannya. Bu Susi memang sangat perfeksionis. Dia tak bisa melihat apa pun tidak ada di tempatnya. Sementara Kinar masih terpana menatap bagaiamana tatanan kamar milik Aski yang begitu luas dengan pernak-pernik khas anak perempuan. Banyak boneka berbagai karakter yang berjajar di atas ranjang besar bak putri. Belum lagi bagian komputer dengan dua layar yang di pasang di kamar. Sekarang dia masuk dan menatap kamar Dion. Untuk anak laki-laki, ruangan ini terkesan kalem. Hanya ada sedikit yang terpajang di ambalan. Dion juga sepertinya anak yang hangat, dia memajang beberapa bingkai foto di sebuah spot dekat ranjang. Foto-foto tersebut menampilkan gambar keluarganya, dan yang paling banyak adalah Rakasya serta Aski, sedangkan Ibunya justru hanya ada satu. Itu pun tanpa Dion. "Ayo, ikut saya ke kamar bermain. Mereka sepertinya di sana. Akrabkan dirimu dengan dua anak Tuan Muda. Karena mereka agak pemilih, jadi, berusahalah sebaik mungkin. Mengerti?" Bu Susi berkata sembari menatap wajah gadis di depannya lekat. "Baik, Bu, saya mengerti dan akan berusaha sangat kuat untuk mereka agar bisa percaya kepada saya." "Bagus." Bu Susi mengangguk dan meminta Kinar untuk mengikutinya menuju ruang bermain. Mereka kembali menyusuri lorong, tetapi mengarah ke kiri. Ketukan sepatu Bu Susi tersamarkan oleh suara tawa anak-anak. Jantung Kinar kembali berdegup lebih cepat. Karena sedikit lagi, dia akan bertemu dengan anak perempuan itu. Kemungkinan besar, Aski akan mengenalinya sebagai orang yang pernah membuatnya menangis di rumah sakit. Mereka berhenti di depan ruangan yang tidak tertutup sempurna. Kinar bisa melihat seorang bocah perempuan dengan rambut dikuncir ekor kuda. Memakai dress pink bertali serta panjang selutut sedang menggendong boneka teddy bear. Di sebelahnya, ada seorang anak laki-laki yang duduk di bangku sambil memegang rubik. Sesekali matanya awas melihat gerak-gerik anak gadis itu. Bu Susi membuka pintu lebih lebar dan masuk terlebih dahulu. Dia berkata, "Selamat pagi, Aski, Dion. Baru aja ibu ke kamar, eh, kalian ada di sini." Sikap Bu Susi sangat berbeda. Dia tak berhenti tersenyum dan sangat hangat dengan anak-anak. "Pagi, Bu Susi. Iya, aku tadi minta ditemani main sama Kak Dion. Abisnya main sendirian gak enak, sih." Aski mendekat dan memegang tangan Bu Susi. Sementara Dion hanya tersenyum tipis dan melanjutkan main rubik dengan serius. Mencoba menyamakan warna merah yang terbolak-balik. Kinar terus saja bersembunyi di balik tubuh Bu Susi. Dia enggan untuk memperkenalkan diri. Padahal dirinya sudah berjanji untuk berusaha dekat. Namun, keberaniannya langsung ciut lagi ketika mendengar suara Aski. Karena beberapa kali Asku tampak berusaha untuk mencuri pandang melihatnya. Namun, Kinar terus saja menghindar. "Oh, Ya, Aski dan Dion. Hari ini, kalian ada teman main yang baru. Namanya Kinara Anjani. Kalian bisa panggil dengan nama Tante Kinar." Saat mendengar perkataan Bu Susi, kedua anak itu kehilangan semangat. Aski juga cemberut dan Dion langsung meletakkan rubiknya ke meja dengan malas. Bu Susi berbalik dan menatap Kinar dengan sorot tajam. Dia memberi lirikan tajamnya sebagai kode agar Kinar peka dan segera mendekat dengan anak-anak yang mulai kehilangan semangat. Namun, gadis itu diam saja dan tak juga bergerak. Karena sudah tak sabar, Bu Susi menggaet tangan Kinar dan menariknya hingga mendekat ke anak-anak. Asky yang malas-malasan, mau tak mau mendongak dan melihat sosok yang sudah berdiri di hadapannya. Bola mata anak itu membulat sempurna, lalu bibirnya menyunggingkan senyum yang merekah. "Tante? Kok, ada di sini? Jadi, Tante yang akan ngurus aku?" tanyanya, penuh antusias. Kinar meringis karena hal buruk yang dia bayangkan tadi tak terjadi. Aski mengenalnya, tetapi tidak marah. Malah terkesan senang. Akan tetapi, kalau anak sekecil itu saja masih mengenalnya, apalagi sang Ibu yang dari awal bertemu di rumah sakit waktu itu sudah memperlihatkan ketidaksukaannya. Wanita itu pasti mengenalinya. Aski tanpa diperintah Bu Susi, berjalan mendekat dan meraih tangan Kinar. Gadis kecil itu berkata, "Welcome to my house!" Sementara itu, Dion dan Bu Susi yang melihat interaksi akrab antara Aski dan Kinar, serempak berkata, "Aski, udah kenal?" "Jadi aku waktu ke dokter gigi, ketemu sama Kak Kinar. Dia jadi Mama aku di sana." Bu Susi dan Dion memalingkan wajah menatap Kinar dengan sorot penuh keraguan, mata mereka menyipit kala memandangnya. Dipandang seperti itu, membuat Kinar merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan. Jadilah, dia menceritakan bagaimana pertemuan mereka dari awal sampai akhir di rumah sakit. Tentunya, dengan menghapus beberapa bagian tentang Istri bosnya yang selingkuh dengan dua pria sekaligus. Kinar tidak akan mengatakan itu, meskipun Aski sepertinya hendak protes karena cerita yang dia maksut pastilah lebih rinci dan lengkap. "Bagus kalau begitu, jadi kamu sudah punya chemistry, ya. Nah, sekarang tinggal Dion saja yang belum kenalan." Bu Susi meminta Dion mendekat agar bersalaman dengan Kinar. Akan tetapi, bocah laki-laki itu sepertinya masih saja enggan, sehingga Aski turun tangan dengan mendorongnya agar lebih dekat. Dengan wajah malasnya, Dion mendekat dan meraih tangan Kinar, lalu bocah itu meminta gadis tersebut untuk mendekat dan berlutut agar mengikis jarak mereka. Dion kemudian berbisik di telinga Kinar. Suaranya sangat pelan tapi begitu menusuk di d**a Kinar. "Tolong Tante, jangan kerja di sini. Lebih baik pergi dari sini, atau Mama akan marah lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN