Anak Kecil Yang Aneh

1354 Kata
Kinar sudah sampai di rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Sebelumnya, dia sudah menelpon ibunya terlebih dahulu untuk mengabarkan kalau dia sudah mendapat pekerjaan. Namun, Kinar belum memberitahu, jenis pekerjaan apa yang akan dilakukan besok pagi. Entahlah, ibunya mengijinkan atau tidak. Kinar berjalan menuju ruang rawat ayahnya. Dia melangkah dengan enteng karena beban berat di punggungnya tentang biaya pengobatan, akhirnya terhempas. Ayahnya pasti bangga dan mendukung pilihannya. Ketika sedikit lagi sampai, langkah Kinar tertahan karena cekalan tangan kecil yang menghalangi jalannya. Pandangan Kinar beralih ke bawah. Seorang anak perempuan dengan rambut ekor kuda melingkarkan kedua tangannya di kaki Kinar. "Mami. Tolongin aku!" katanya. Kinar mematung. Pikirannya blank sebentar. Dia merasa kejadian ini akan berbuntut panjang. Seorang anak kecil tanpa orang tua yang tiba-tiba mengakui dirinya sebagi maminya sendiri. Kemudian mengikuti sampai rumah dan tak ada yang menjemputnya. Ternyata anak ini dibuang dan dia akan berakhir menjadi perawan dengan satu anak. Belum cemoohan tetangga juga seperti terngiang-ngiang. Setidaknya, begitulah bayangan Kinar, setelah menamatkan bacaan novel picisan yang dia unduh di salah satu aplikasi terkenal. Isi novel itu benar-benar mempengaruhi dasar pikirannya. Dia merasa hidupnya akan segera berakhir. "Lho, Aski, kenapa masih di sini? Om dokter nungguin dari tadi. Katanya gigi kamu mau diperiksa?" Kinar mengalihkan pandangannya pada seorang pria dengan Jas putih. Pria itu berlutut dan memegang tangan anak perempuan itu yang belum juga terlepas dari kaki Kinar. "Kok, tangannya dilingkarin ke kaki Tante? Nanti sakit, lho. Yuk, ke ruangan Om dokter. Ada hadiah buat Aski." Perlahan cengkraman tangan yang terasa mencubit kakinya itu terlepas. Anak perempuan itu langsung menepuk-nepuk telapak tangan Kinar dan menggenggamnya. "Ayo, Tante. Temenin aku ke ruangan Om dokter," ajaknya sambil terus menarik tangan Kinar. Kinar mulai bisa menguasai dirinya dari kejadian tak masuk akal ini. Dia melepas genggaman tangan anak perempuan yang dipanggil Aski itu. Dia merasa tak punya hubungan apa pun dan tak akan mau juga menjadi tante bocah yang sok kenal dan sok dekat itu. "Maaf Om, eh, dokter maksutnya. Saya gak kenal sama dia. Saya juga bukan tantenya," kata Kinar, menjelaskan. Dia sampai salah sebut, harusnya dokter, malah jadi Om. Dokter yang dipanggil tersenyum manis dan mengangguk. "Iya, Mbak. Aski memang begitu kalau lagi ketemu dokter gigi. Maaf ya, Mbak, saya pamit sama Aski." Dokter itu mencoba melepas kaitan tangan Aski. Namun, bocah itu tetap bersikeras dan malah makin mencengkram tangan kinar lebih kencang. Kuku kecil Aski seperti menancap, perbuatannya itu membuat kinar memekik kesakitan. "Aduh, Aski! Tangan saya jangan dicakar, ih!" Suara Kinar terdengar kencang. Membuat Aski dan dokter itu terdiam. Kinar langsung diam dan melihat reaksi Aski yang tiba-tiba mendung. Mata besarnya berair, siap meledakan air mata yang deras. Sang dokter terlihat panik dan mencoba menenangkan bocah itu, tetapi terlambat. Raungan keras pecah juga pada akhirnya. Raungan dan celotehan tak jelas keluar dari mulut mungil Aski. Dia sekarang terduduk dan membanting-banting kakinya. Kinar yang melihat kejadian itu berlutut mencoba menenangkan Aski. "Maaf, ya, Aski. Diem dulu ya, Sayang," kata Kinar, menenangkan. "Gak mau! Tante jelek! Pokoknya temenin aku ke dokter!" "Aduh, dokter, gimana, nih? Saya harus jagain keluarga saya." Kinar terus terang. "Gini aja, Mbak. Aski kalau tantrum bisa sampai pingsan. Saya minta tolong untuk antar sebentar saja ke ruangan saya. Habis itu, Mbak bisa pergi. Sekarang, kasih tahu saya di mana ruangan keluarganya, saya akan minta suster untuk menjaga beliau sebentar. Gimana?" Kinar mencoba berpikir sebentar dan mengangguk terpaksa. Karena Aski seperti tak mau diam. Dia semakin menjadi dengan berguling-guling di lantai rumah sakit. Sebentar-sebentar matanya melirik ke arahnya dan itu membuat Kinar yakin, kalau Aski hanya bersandiwara. Namun, dokter tampan di sampingnya seperti tak tahu. "Oke, ayo, Aski. Kita periksa gigi kamu." Kinar meraih tubuh mungil di lantai itu dan menggendongnya. Seketika tangisan yang memekakan telinga dari Aski, tiba-tiba berhenti berganti dengan senyuman lima jari bocah itu. "Om tunggu di ruangan, ya, Aski!" Dokter itu berjalan lebih dulu. Kinar melotot ke arah Aski yang memeletkan lidahnya, seperti mengejek Kinar yang kalah dengan sandiwara yang dia buat. "Siapa yang ngajarin kamu akting nangis kayak gitu? Kamu, tuh, udah ngerepotin tante, tau!" ucap Kinar, dengan mata yang sengaja melotot. Akan tetapi, bocah perempuan itu tampak senang-senang saja. Dia sangat nyaman berada di gendongan Aski. "Aku belajar dari Mami. Kalau Papi lagi marah, Mami pasti pura-pura nangis. Pas Papi udah pergi, Mami langsung ketawa, deh." Aski terdiam dan merasa tak enak sudah menuduh anak ini nakal. Padahal, dia hanya mencontoh perbuatan tak baik ibunya sendiri. Miris sekali. *** "Oke, sudah selesai. Ingat, ya, Aski. Makan permennya sedikit aja. Aski kan suka buah, lebih baik Aski makan buah 'kan sama-sama manis?" Dokter bernama Bian itu berkata. Aski mengangguk tanda setuju. Namun, setelah itu dia menggeleng dan murung. "Mami selalu kasi aku permen setiap pulang kerja. Katanya aku gak boleh datang ke kamar sebelum permen itu habis, Om." "Boleh Om liat, permennya?" Aski mengambil sesuatu dari saku bajunya. Dia mengeluarkan sekantong plastik kecil berisi permen warna warni. Dokter itu tampak terkejut saat menghitung jumlah permen yang ada. "Dua puluh bungkus permen," katanya, sembari menatap Kinar. Kinar ikut terkejut. Melihat barisan plastik permen yang sengaja dijejerkan di meja dokter. "Jangan dimakan lagi, Aski. Nanti kamu sakit!" kata dokter dengan papan nama 'Bian' itu. Aski tak mengatakan apa pun dan memilih turun dari pangkuan Kinar. Aski berjalan menuju sofa dan berbaring membelakangi Bian serta Kinar. "Biarkan saja, Aski. Dia sedang mellow. Terima Kasih, ya. Oh iya. kita belum kenalan. Nama kamu siapa?" "Namaku Kinar. Baiklah dokter Bian, saya pamit." Kinar bangkit dari duduk dan berniat keluar. Belum juga dia memutar kenop pintu, tetapi pintu itu sudah terbuka dari luar. Kinar mundur menghindari benturan. Namun, langkahnya tersaruk dan dia terpelanting. Untung saja Bian dengan cepat meraih tubuh Kinar yang sedikit lagi menghantam lantai. Mereka berdua bertatapan sebentar. Jantung Kinar rasanya bertalu makin cepat ketika menatap manik mata kecoklatan milik Bian. Wajah Kinar merah semu melihat ketampanan Bian dari dekat. "Ehem. Bagus, ya, kamu!" Terdengar suara seseorang. Keduanya sontak tersadar, Bian langsung membantu Kinar untuk bangun. Bian tampak sumbringah melihat wanita dengan style elegan dan angkuh yang menatapnya tajam. Kinara merasa sangat kecil melihat wanita di hadapannya. Sangat cantik, anggun dan mempunyai aura yang mengintimidasi. Rasanya mulut Kinar terkatup rapat tanpa bisa mengatakan apa pun. Baru kali ini dia begitu kagum dengan perempuan yang belum dikenalnya. "Sayang, kamu baru sampai?" Kali ini Bian benar-benar memanggil wanita itu dengan panggilan yang Kinar pikir cocok untuk pacar. Hati kinar rasanya sangat nyeri mendengarnya. Padahal, baru saja dia berbunga-bunga. Namun, bila dibandingkan, dia bukanlah tandingan wanita yang disayang oleh Bian. "Saya pamit dokter. Permisi," kata kinar. Namun, Bian tak menggubrisnya. Saat berjalan kinar bisa melihat sunggingan penuh kesinisan dari wanita elegan itu. Dia mengejek Kinar hanya dengan tatapannya. Selanjutnya Kinar tak tahu menahu dan memilih berjalan cepat keluar ruangan. Bruk! "Aduh!" Kinar benar-benar terjatuh kali ini, dia mengaduh karena menghantam lantai dengan keras. Bedanya, tak ada yang membantunya lagi seperti tadi. Sialnya, tubuh Kinar tertimpa tas dan beberapa peralatan menggambar anak-anak. "Kamu gak apa-apa?" Suara seseorang membuyarkan rasa sakit yang menjalari tubuh Kinar. "Maaf, saya gak lihat ada orang." Kinar mencoba bangkit dan melihat siapa yang dia tabrak. Mata Kinar seperti mendapat penyegaran kembali. Dia melihat sesosok pria dengan ketampanan di atas rata-rata, bahkan lebih dari dokter Bian. Pria itu tersenyum dan berlutut memunguti tas dan peralatan gambar yang berserakan di lantai. Kinar merasa tak enak dan ikut membantu. Dia mengambil buku bertuliskan nama yang tak asing. Aski Putri. S. "Hah, Aski?" tanya Kinar kepada diri sendiri. "Iya, ini punya Aski. Kamu kenal?" kata pria itu. "Kalau ini Aski yang sama, saya sempat kenalan tadi. Anak itu diperiksa dokter gigi." "Ohh, saya mau jemput dia sama maminya. Kamu gak apa-apa, kan?" "Saya gak apa-apa. Oh jadi Anda Papinya?" Orang itu tersenyum dan memperkenalkan dirinya. "Saya Ronald." Kinar seperti tersadar dari sesuatu, kalau ini adalah suaminya wanita itu. bagaimana bisa dokter Bian memanggilnya dengan mesra tadi. " Terus di dalam itu siapa?" tanya Kinar, refleks. "Maminya. Dia minta saya menunggu di sini." Kinar syok. Jadi, dia baru saja melihat perselingkuhan di dalam? Wanita elegan itu, dokter Bian, Ronald, Aski? "Argh! Pusing!" Kinar memilih pergi ke ruangan ayahnya. Dia mencoba melupakan kejadian tak mengenakan yang baru saja terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN