Dion yang berlari juga terdiam di tempat, tetapi tak bergerak sedikit pun. Sementara itu Rakasya masih terlihat bingung, kenapa anaknya menyebutnya sebagai orang jahat. Kemudian Kinar yang tiba-tiba saja berhenti dari pergerakannya, dan tampak ketakutan dengan anak-anaknya tersebut. pria itu masih tak bisa mencerna semuanya.
"Iya, Mama pulang, Aski. Di mana Papa?" tanyanya ulang. Suara itu begitu familier di telinga Kinar.
Suara ketukan sepatu kian mendekat dan hal itu membuat degup jantung Kinar berdebar sangat cepat. Kemudian dia tak bisa berkata-kata lagi saat sesosok wanita yang belum dia lupakan sejak kejadian di rumah sakit itu, kini berdiri dengan elegan di hadapannya. Jarak mereka kian dekat dan wanita itu tampak menyipitkan matanya.
Aski berlari memeluk wanita tersebut. "Aku kangeeen ... Mamah ayo kita main?"
Kemudian Aski beralih menatap Kinar dan berkata, "Mamah, ingat Tante itu, gak? Ituloh, yang ada di rumah sakit pas aku ke dokter gigi. Sekarang dia bakal jadi teman aku sama Kak Dion. Jadi kalau Papa dan Mamah pergi ke kantor, aku ada yang nemani main seharian."
Winda menatap Kinar dari ujung rambut ke kaki. Tatapannya datar, layaknya tidak berminat menatap gadis di hadapannya.
"Maaf, Aski. Mamah kayaknya lupa, deh." Winda menjawab dengan pelan.
Aski yang mendengar jawaban itu, tak bertanya lebih jauh. Dia sibuk menyeret boneka teddy bear berukuran besar dan memperlihatkannya kepada Winda.
"Mamah masih capek, kita mainya nanti aja, ya? Sekarang Aski, main sama Kak Dion, oke? Nah, ambil kotak ini, ada oleh-oleh dari Mama. Makan sampai habis, ya."
"Iya, Mamah." Aski berbalik arah, wajahnya tampak sendu. Dia seperti menahan tangisnya.
Dion mengepalkan tangannya tak suka, dia langsung saja pergi menuju kamar tanpa memperdulikan teriakan Aski. Rakasya menatap istrinya dengan malas. Dia masih marah perihal kejadian kepulangan istrinya yang diantar seorang pria asing.
'Hanya teman' Winda mengucapkan itu. Namun, hati Rakasya jadi ragu. Perubahan sikap Winda yang lebih memilih menghabiskan waktu di luar dan merengek untuk ikut bekerja di kantor. Dia tak punya waktu dengan anak-anak, atau pun bersikap mesra kepadanya seperti tahun-tahun pertama mereka menikah. Padahal daru segi ekonomi, tak perlu Winda bersusah payah mencari tambahan. Semua kekayaan Rakasta yang tak habis tujuh turunan itu juga menjadi hak miliknya dan anak-anak.
Rakasya menarik napas lelah, kemudian dia berbalik dan mengambil langkah lebar menuju kamar. Winda merasa ada yang aneh dengan suaminya. Dia segera menyusul dan berjalan cepat melewati Kinar. Sementara itu Kinar merasa kakinya seperti jeli, dia luruh ke lantai. Degupan jantungnya perlahan normal kembali terutama saat Winda bilang tak mengenalinya. Kinar sangat bersyukur, itu artinya masalah terbesar dari pekerjaan ini sudah selesai. Tinggal meyakinkan Dion saja, kalau dia tak perly khawatir dengan papahnya. Karena sampai kapan pun Kinar merasa tak akan jatuh cinta apalagi harus merebut pria itu. Kemustahilan itu benar-benar Kinar tanamkan di alam bawah sadarnya.
***
Karena waktu sudah menunjuk angka lima sore, Kinar segera ke daput untuk melihat menu masakan makan malam yang dipersiapkan seorang ART. Di sana ada menu sup ayam serta cah daging brokoli. Bu Susi ada di dapur bersamanya. Dia memberitahu Kinar daftar menu keluarga Suwantor, dari Senin sampai Minggu. Makanan favorit setiap anggota keluarga dan daftar alergi mereka.
Untuk Winda, Aski dan Dion, tidak punya alergi, tetapi Rakasya punya alergi terhadap kacang.
"Semua jenis kacang. Jangan pernah berikan, walaupun hanya satu persen dari bahan makanan atau minuman." Kata Bu Susi. "Saya tahu. Kamu bertugas untuk menjaga anak-anak saja, tetapi bisa saja di satu kesempatan kamu melayani kebutuhan Tuan Muda, kan?"
Kinar terlihat ragu mendengar penuturan Bu Susi. Pikirannya melanglangbuana membayangkan dirinya melayani Rakasya. Bos galak itu pasti akan sering memarahinya dan bersifat kejam setiap saat. Kinar menggeleng, menepis pikiran anehnya.
"Sekarang ke kamar Aski dan Dion. Ajak mereka untuk makan malam."
"Baik, Bu." Kinar pamit dari dapur dan segera ke lantai dua.
Gadis itu melewati kamar utama milik Rakasya dan Winda
"Mau sampai kapan kamu berbohong sama aku, Winda? Apa yang kamu lakukan di luar, jangan kau pikir aku diam saja. Lepaskan laki-laki itu. Orang yang mengantarmu pulang."
Terdengar teriakan di dalam sana. Lagi-lagi, Kinar menjadi saksi bisu dari kebobrokan seorang Winda.
"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu? Oh, pasti gara-gara perempuan kumal yang sekarang jadu baby sitter anak-anak kita, kan?"
Kinar yang hendak melangkah, tak jadi melanjutkan gerakannya karena dirinya dituduh seperti itu oleh Winda. Kinar bingung, kenapa semua orang menyalahkannya seperti itu. Padahal dirinya tak mengharapkan apa pun selain bekerja dengan giat dan mendapat gaji untuk membantu orang tua. Sesederhana itu saja, dia masih dicap buruk. Kinar tak tahan dan segera melanjutkan langkah ke kamar anak-anak. Sepertinya dia harus mempertimbangkan lagi untuk bekerja di sini. Sudag terlalu banyak misteri dan rahasia keluarga ini yang melibatkan dirinya.
Kinar mengetuk pintu sebanyak tiga kali di depan kamar Dion. Namun, tak ada jawaban. Gadis itu mengulanginya lagi sampai ada suara yang terdengar dari dalam. "Masuk aja, Bu Susi."
Walaupun bukan namanya yang disebut, Kinar tetap mencoba sabar dan memasuki kamar putranya Rakasya. Di dalam Dion sedang telungkup di kasur, wajahnya ditenggelamkan di bantal. Kinar menyentuh pundak bocah laki-laki itu.
Dion mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandang ke Kinar. "Kenapa Tante masih ada di sini? Bukannya Tante udah aku minta pergi dari rumahku? Tante lihat, kan, Mamah udah pulang."
Kinar mengehela napas. Sepertinya, dia memang tak pantas ada di sini. Keluarga Rakasya tak butuh jasanya. Dia hanya jadi bulan-bulanan mereka saja bila terus bertahan. Ini tak bisa dibiarkan. Lebih baik dia bekerja kasar di toko pinggir jalan. Hanya tenaganya yang dikuras, bukan emosinya.
"Kamu makan dulu. Tante janji akan pergi secepatnya."
Dion beringsut dari ranjang dan berkata, "Janji?" Dia menunjukkan jari kelingking.
Kinar menggangguk samar dan tersenyum tipis, lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan Dion. Bocah laki-laki itu tersenyum.
"Kita ke kamar Aski, dulu, yuk. Abis itu ... kita turun dan makan."
Keduanya masuk kamar lewat pintu yang tersambung langsung dari kamar Dion. Saat Kinar menginjakkan kaki di kamar Aski, dia meringis karena kakinya terkena sesuatu yang cukup tajam. Kinar panik dan mengangkat kaki kirinya. Sesuatu yang mirip dengan sedotan menancap, untunglah hanya lecet dan tidak berdarah.
Dion tanpa diminta, mengambil gagang putih itu dari kaki Kinar. Bocah laki-laki itu terus memandang gagang plastik kokoh yang masih berada di tangannya.
"Ini, kan, gagang lolipop," gumam Dion.
Kinar meneruskan langkahnya ketika mendengar suara tangisan di dalam lemari. Dia membuka lemari berwarna pink milik Aski, dan menemukan bocah itu sedang meringkuk di dalamnya tengah memakan permen lolipop besar. Bungkusan permen terlihat berantakan di dalam lemari.
"Aski! Kamu kenapa makan permen sebanyak ini? Apa kamu mau sakit gigi lagi?"
"Gak Tante. Kata Mamah, kan, harus dihabiskan. Kalau habis Mama akan bawa aku ke dokter gigi yang kemarin."
Kinar menganga tak percaya, bukan hanya dirinya yang menjadi saksi kegilaan Winda, walaupun anaknya itu hanya gadis polos, Aski dijadikan alat untuk bertemu selingkuhannya. Ini benar-benar tak bisa dipercaya.
"Jangan dimakan, Dek." Dion mendekat dan merebut permen itu. "Kamu nanti sakit gigi."
Aski mulai merengek. "Kalau aku gak sakit gigi, nanti Mamah marah."
"Apa? Jadi Ibu Winda, tahu kalau Aski makan permen sebanyak ini?"
"Memang ada masalah apa kalau saya meminta anak saya sendiri seperti itu? Apa masalahmu Kinara Anjani. Bukankah lebih baik pergi dari sini dan urus hutang-hutangmu ke rentenir?"
Kinar membeku di tempat. Dia salah menilai. Ternyata, Winda mengenalinya dan wanita menyeramkan itu sudah menyelidikinya hingga hal pribadi.
"Sebaiknya kamu mengundurkan diri. Saya tak bisa mempercayakan anak-anak ke pengasuh sepertimu."
Kinar ingin menjawab segera, tetapi terhenti karena Rakasya tengah berdiri di ambang pintu sambil menempelkan telunjuk di depan bibirnya.
"Tidak ada yang boleh memecat dia. Termasuk kamu, Winda."
Bersambung.