Bab 13 - Gairah Berbahaya

1100 Kata
Adakah yang lebih berbahaya dari gairah setelah bercerai? Nikmat tapi terlarang. Sentuhan yang candu pun sudah tak bisa dibenarkan. Namun semakin dilarang, justru semakin membuat ketagihan. Semakin ditahan, semakin mudah untuk kehilangan kendali lalu semuanya jadi berantakan. Setelah bercerai, hidup Elric kembali berjalan seperti biasanya. Selama lima tahun ini hidupnya baik-baik saja. Sejak awal, ia sungguh berharap Ziva bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia. Satu hal yang pasti, Elric sama sekali tak menaruh perasaan pada wanita itu. Juga, tidak tahu kalau selama menikah ... Ziva memendam perasaan terhadapnya. Intinya, pernikahan dan perceraian berjalan sesuai rencana. Namun, segalanya kacau saat Elric mendengar musuhnya memperkenalkan Ziva sebagai calon istrinya. Entah kenapa ada perasaan tak terima, atau mungkin tidak rela? Yang pasti, seolah ada sinyal dalam diri Elric yang membuatnya harus waspada karena menurutnya bisa jadi Ziva sedang dalam bahaya. Selain itu, Elric juga penasaran tentang bagaimana hidup Ziva selama lima tahun ini karena wanita itu benar-benar berubah. Penampilan yang dulunya tertutup, kini jadi lebih berani untuk terbuka. Tidak ada lagi Ziva yang polos, kini hanya ada Ziva yang seksi. Bahkan, untuk pertama kalinya Elric memandang Ziva sebagai seorang wanita. Dulu, saat menikah ... Elric lebih memandang Ziva seperti adiknya sendiri. Tidak lebih dari itu. Tahukah apa yang lebih konyol? Jantung Elric tiba-tiba jadi berdetak tak wajar saat berhadapan dengan Ziva di parkiran vila, seolah ada sesuatu yang membuncah dalam hatinya. Bukankah ini aneh? Lima tahun lalu Elric tak pernah merasakan seperti ini, tapi kenapa saat dipertemukan lagi ... tiba-tiba semuanya jadi berbeda? Hal itu membuat Elric ingin tahu lebih banyak segala tentang Ziva, termasuk bagaimana awalnya sehingga mantan istrinya itu mendadak jadi calon istri musuhnya. Takutnya Arda sengaja mendekati Ziva demi tujuan buruk. Setelah mengetahui banyak hal tentang Ziva serta apa yang wanita itu lakukan selama lima tahun terakhir, Elric jadi semakin penasaran sehingga memutuskan bertemu Ziva. Namun, Elric juga sadar Ziva belum tentu mau bertemu dengannya, karena pertemuan mereka di pesta cukup meninggalkan kesan yang buruk. Makanya Elric terpaksa sedikit ‘menjebak’ Ziva agar datang ke apartemen milik Puji dan Bams. Jujur saja, Elric ingin memastikan secara langsung tentang hubungan Ziva dengan Arda, karena satu-satunya informasi yang tak bisa digali oleh Bams adalah informasi tentang hubungan Ziva dan Arda. Itu sebabnya Elric tak punya pilihan selain menanyakan langsung pada sang mantan istri. Setelah bertanya langsung, sayangnya jawaban Ziva tak sesuai harapan Elric. Bagaimana bisa Ziva masih ingin bersama Arda meskipun sudah tahu apa yang terjadi lima tahun lalu? Elric pun semakin tak terima. Puncaknya, saat Ziva hendak pergi untuk menemui Arda, tanpa ragu Elric menahan mantan istrinya itu agar jangan pergi. Serius, Elric terlalu buntu, seolah tak bisa berpikir jernih sehingga tak tahu bagaimana cara menahan Ziva. Terlebih jantungnya berdebar semakin kencang sehingga pria itu malah melakukan tindakan impulsif. Ya, Elric malah membungkam bibir Ziva dengan ciuman yang sama sekali tak ia rencanakan. Namun, tanpa diduga Ziva malah menyambut hangat apa yang dilakukannya sehingga Elric tak punya keraguan untuk mengulang lagi ciumannya, tapi kali ini dalam versi yang lebih intens, hot dan menggebu-gebu. Seiring ciuman berlangsung, jantung Elric semakin menggila. Debaran yang ia rasakan sekarang, nyaris tak pernah ia rasakan sebelumnya saat bersama Ziva. Bukankah ini semakin aneh? Secara teknis ini bukan ciuman pertama mereka. Sekalipun mereka tak pernah berciuman saat menikah, tapi setidaknya mereka pernah melakukannya satu kali—saat pertama kali mereka bertemu, malam saat Elric dikhianati Lika sekaligus malam saat Ziva nyaris dijual ibu tirinya. Sekarang pun mereka baru dipertemukan lagi setelah lima tahun berlalu dan ciuman yang panas kembali berlangsung. Bedanya, dulu Ziva yang memulai demi menyelamatkan diri dari orang yang mengejarnya. Sedangkan saat ini Elric-lah yang memulainya demi menahan Ziva agar tidak pergi. Selain itu, Elric juga enggan untuk mengakhiri ciuman mereka. Bukankah ini gila? Mereka tak pernah begini saat menikah, tapi kenapa malah berciuman se-hot ini setelah lima tahun bercerai? Entah apa yang ada di pikiran Ziva maupun Elric, rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Semuanya serba tiba-tiba. Ya, mereka tiba-tiba dipertemukan lagi dan tiba-tiba berciuman panas seperti ini. Dan yang pasti, ciuman mereka bukan karena cinta, melainkan nafsu yang mendadak hadir lantaran sama-sama terbawa suasana. Tak butuh waktu lama, baik Ziva maupun Elric semakin terbuai oleh ciuman yang mereka lakukan. Bohong kalau tidak ada nafsu dalam ciuman tersebut. Entah apa yang merasuki keduanya sampai-sampai, tubuh mereka menggiring satu sama lain ke arah sofa yang empuk dan nyaman. Saat Ziva sudah berbaring telentang, Elric terus mencium bibirnya dengan menggebu-gebu. Ziva sadar tak seharusnya mereka begini, tapi gejolak yang dirasakannya sangat sulit untuk ditahan. Mereka tak bisa mengendalikan diri. “Ziva, apa kamu udah nggak waras?” batin wanita itu. Ziva memang pernah jatuh cinta pada Elric, tapi bukan berarti ia bersedia disentuh terlalu jauh oleh pria itu. Itu sebabnya saat Elric mulai mengangkat dress yang dikenakannya, Ziva sebisa mungkin menahan tangan mantan suaminya agar berhenti. Namun, Elric tak serta merta menghentikan permainan yang bahkan belum sepenuhnya dimulai ini. Matanya tak bisa bohong kalau Elric sangat menginginkan Ziva. Sampai kemudian, Ziva bersikap lebih tegas. Ia agak berontak agar mantan suaminya berhenti melakukan yang lebih jauh. Syukurlah upayanya berakhir karena Elric yang semula agak menindih Ziva, kini mulai beranjak. “Tolong stop,” ucap Ziva. “Kenapa?” Elric malah balik bertanya. “Itu pertanyaan bodoh,” jawab Ziva. “Lagian kenapa jadi begini, sih?” “Bukankah kamu juga menikmatinya?” balas Elric. “Yang barusan itu ... kesalahan. Kita nggak seharusnya melakukannya.” “Memangnya siapa yang melarang?” “Dasar sinting,” ucap Ziva seraya beranjak dari duduknya. Selama beberapa saat ia merapikan penampilannya yang agak kacau. Sungguh, Ziva masih tak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan. Terlebih jawaban Elric bisa-bisanya seperti orang yang tanpa dosa. Rasanya sulit dipercaya, tapi semua ini nyata. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Ziva buru-buru keluar dari apartemen itu meninggalkan Elric. Syukurlah, kali ini Elric tak menahannya seperti tadi. Sampai kemudian, Ziva sudah berada di dalam lift sekarang. Jantungnya berdetak sangat cepat seiring lift terus bergerak turun. Sambil memegangi bibirnya ... Ziva mungkin akan merasa senang jika ciuman seperti tadi berlangsung lima tahun lalu, saat mereka masih menikah. Masalahnya adalah, ciuman terjadi setelah mereka cerai sehingga Ziva jadi merasa aneh. Seperti ada yang salah. Tunggu, bukankah memang salah? Sementara itu, Elric perlahan duduk. Meskipun Ziva sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu, tapi sampai detik ini ia masih berdebar hebat. Ia mendadak menginginkan Ziva, padahal saat masih menikah ... ia tak pernah menginginkan mantan istrinya itu. Elric murni menganggap Ziva sebagai teman sekaligus adik. Hanya saja, kini semuanya sudah berbeda. Elric melihat Ziva sebagai wanita. Wanita yang ingin ia miliki seutuhnya. Kacau, bagaimana ini? Memangnya boleh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN