Suara pintu utama yang mengunci dengan klik tegas membelah keheningan malam. Derap langkah berat dan terukur bergema di lantai marmer, mendekat. Hazel, yang sudah buru-buru melesat kembali ke arah ranjang sejak mendengar langkah itu, masih terlambat. Pintu kamar terbuka persis saat kakinya hampir mencapai tepi kasur. Cahaya dari lorong menerpa siluet Hazel yang membeku. Diego berdiri di ambang pintu, bayangannya panjang dan menindih. “Menguping?” tuduhnya, suaranya datar namun memancarkan sensasi dingin yang membuat kulit merinding. Hazel tidak menjawab. Darah berdesir kencang di telinganya. Dia berbalik, berusaha melanjutkan langkahnya ke ranjang dengan sikap tenang yang dipaksakan. Namun, baru dua langkah, sebuah kekuatan yang tak terbantahkan melingkari pergelangan tangannya. Diego

