Kenapa Gak Jadi Wanitaku?

1726 Kata

Hazel duduk di café kecil dekat pusat kota, menegakkan punggungnya sambil menahan getaran halus di ujung jarinya. Di depannya, klien ghostwriting-nya—pria paruh baya bernama Rami—mengaduk kopi dengan suara terlalu nyaring, seperti sengaja ingin menekan. “Hazel, aku mau 50 bab dalam tiga hari. Tidak ada tawar-menawar,” katanya tanpa melihat wajah Hazel. “Dan adegan erotisnya… tingkatkan. Lebih berani. Lebih panas. Pembaca suka itu.” Hazel menelan ludah. “Tiga hari… saya bisa coba. Tapi adegan erotisnya—” “Jangan banyak alasan.” Nada Rami seperti cambuk. “Kau dibayar untuk menulis fantasi. Bukan untuk takut.” Hazel mengangguk, walau tenggorokannya terasa tersedak. Fantasi. Kata itu selalu membuat kulitnya meremang. Bagaimana ia bisa menulis adegan erotis ketika napasnya sendiri masih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN