Sindiran Pedas

1382 Kata
Rabu siang, Leona bersiap pulang dari kantornya. Kemarin Leona sudah mengajukan izin pada atasannya bahwa hari ini dia akan pulang sebelum jam satu siang dikarenakan ibunya sedang sakit keras. Leona bergegas membereskan meja kerjanya dan segera membawa tasnya keluar dari ruangan kerjanya. Leona jelas-jelas sedang berbohong. Namun dia terpaksa melakukannya. Dia tidak ingin dipecat dari pekerjaannya karena mangkir dari pekerjaannya hanya karena menghadiri acara perayaan ulangtahun pernikahan mertuanya. Itu merupakan alasan yang terlalu mewah untuk seorang pegawai baru seperti dia. Sebuah taksi yang di pesannya sudah menunggunya sejak sepuluh menit yang lalu. Leona mempercepat langkahnya keluar dari lift dan bergegas menuju ke taksi yang sudah ada di depan lobi kantor. “Tolong lebih cepat ya, Pak,” ucap Leona begitu masuk ke dalam taksi. Leona melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Andrew pasti sudah menunggunya di depan rumah, pikirnya. Tebakannya sangat tepat. Mobil Andrew sudah terparkir manis di depan rumahnya. Semakin dekat semakit terlihat sosok Andrew yang menatap ke arah taksi yang sedang di tumpanginya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku cepana panjangnya. Leona segera turun dari dalam taksi dan berjalan mendekati Andrew. “Maaf aku terlambat dan membuatmu menunggu. Aku sudah berusaha secepat yang aku bisa,” ucap Leona pada Andrew. “Tidak masalah,” jawab Andrew sambil menatap Leona lekat. Andrew memperhatikan penampilan Leona yang begitu rapi dan cantik. “Tunggu sebentar. Aku akan bersiap-siap. Ini tidak akan lama. Aku janji,” ucap Leona sambil mengambil kunci rumahnya dari dalam tas kemudian melangkah menuju ke arah pintu rumahnya. “Tidak perlu, Leona.” Andrew dengan cepat menangkap lengan tangan Leona, “Ikut saja denganku.” “Tapi..” Andrew menarik tangan Leona dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Setelah itu Andrew bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya perfi dari sana. “Aku tidak mungkin berpakaian begini ke acara itu, Andrew,” ucap Leona khawatir sambil melihat ke arah Andrew. “Tentu saja tidak. Para tamu yang datang akan mengira kamu sebagai pramusaji dengan pakaian itu. Tenang dan ikuti saja apa yang aku bilang,” jawab Andrew sambil terus mengemudikan mobilnya. Leona menatap kesal ke arah Andrew sambil mendesah kesal. Andrew sama sekali tidak berubah sejak dulu. Masih tetap dengan sifat sombong dan angkuhnya. Tiba-tiba ponsel Leona berdering. Leona segera mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat siapa yang sedang menelponnya. “Ya, Esme?” “Aku mencarimu untuk makan siang. Pak Adam mengatakan bahwa kamu minta izin pulang siang ini karena ibumu sakit. Ibumu yang mana Leona?” tanya Esme. Leona tersenyum geli mendengar ucapan sahabat lamanya itu. Tentu saja Esme bingung. Dia sangat jelas mengetahui bahwa Leona sudah yatim piatu sejak mereka bertemu di bangku perkuliahan. “Akan aku ceritakan besok. Sekarang aku sedang sangat sibuk, Esme. Oke?” “Kamu sedang bersama Pak Dave?” tanya Esme lagi. “Tidak. Aku tidak sedang bersamanya.” “Syukurlah. Oke, sampai bertemu besok, Leona.” Esme menutup panggilan teleponnya. Leona memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Esme Adaline? Yang satu kampus dengan kita?” tebak Andrew. “Ya,” jawab Leona singkat. “Dia tahu tentang kita? Maksudku, tentang apa yang terjadi pada kita sekarang.” “Aku hanya memiliki dia dalam hidupku saat ini.” Andrew menatap Leona sekilas kemudian terdiam sambil mengemudikan mobilnya. Sekitar 20 menit kemudian, mereka tiba di sebuah salon bergaya eropa klasik. Berkelas dan mewah. Bahkan parkiran salon itu penuh dengan deretan mobil berharga fantastis, menandakan pelanggan yang mengunjungi salon itu bukanlah orang sembarangan. “Kita sudah sampai. Masuklah, mereka akan meriasmu sesuai dengan tema acara kita. Mereka sudah mengerti seperti apa selera riasan kesukaan mama,” ucap Andrew. Leona mengepal tangannya, menahan rasa kesal di hatinya yang tiba-tiba membuncah mendengar ucapan Andrew. Dia sudah muak harus terus menjadi boneka hanya untuk menyenangkan hati Andrew dan keluarganya. “Aku akan berdandan sesuai dengan seleraku. Jika ada yang keberatan, aku tidak masalah jika semua ini di batalkan,” ucap Leona sambil menatap tajam ke arah Andrew. Andrew membalas tatapan Leona. “Baiklah. Lakukan apa saja yang kamu mau asalkan jangan kamu buat semuanya menjadi kacau.” Leona segera keluar dari mobil dan berjalan meninggalkan Andrew masuk ke dalam salon itu. Andrew menatapa Leona dari dalam mobil kemudian menghelakan napasnya. Diambilnya sebuah paper bag dari tempat duduk di bagian belakang kemudian keluar dari mobilnya berjalan masuk ke dalam salon. Andrew berjalan mendekati Leona yang sedang berbicara dengan petugas salon mengenai make up yang akan di pilihnya. “Pakai pakaian ini.” Andrew memberikan paper bag yang ada di tanganya ke arah Leona. Leona menatap paper bag yang ada di tangan Andrew beberapa saat kemudian mengambilnya. Andrew memberikan kartu kreditnya ke kasir dan langsung berjalan ke ruang tunggu sembari memainkan ponselnya begitu menyelesaikan semua pembayarannya. Cukup lama waktu yang di perlukan Leona untuk berdandan. Andrew yang memang kelelahan beberapa hari ini karena pikirannya yang kusut dan berat tanpa sadar tertidur di kursinya. “Ayo kita pergi, Andrew.” Leona menggoyangkan pelan tubuh Andrew. Andrew tersadar kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah kesadarannya kembali, Andrew melihat ke arah sumber suara yang membangunkannya tadi. “Kamu sudah selesai, Leona?” tanya Andrew sambil berdiri dari tempat duduknya. Andrew memperhatikan penampilan Leona dari atas sampai ke bawah. Tidak salah jika Andrew jatuh cinta padanya. Leona memang memiliki kecantikan sekelas dewi. Anggun dan berkelas. Sama sekali tidak menampakan latar belakangnya yang begitu menyedihkan. “Kita sudah bisa pergi sekarang?” tanya Leona kembali, menyadarkan Andrew dari rasa terpesonanya pada penampilan Leona. “Te-tentu. Ayo kita pergi sekarang,” jawab Andrew terbata karena gugup. Leona berjalan menuju ke pintu keluar salon itu. Leona tampak kesulitan untuk berjalan cepat dengan gaun indah dan sepatu highheels model stiletto yang sedang di kenakannya. Andrew dengan cepat meraih tangan Leona dan menggandenganya lembut sembari membantunya berjalan. Andrew membukakan pintu mobilnya utnuk Leona. Setelah Leona masuk, Andrew pun segera masuk ke bagian kemudi dan melajukan mobilnya menuju ke hotel dimana acara perayaan ulang tahun pernikahan orangtuanya di gelar. “Ingat Leona. Kita berdua harus bersikap sebagaimana biasanya. Jangan sampai mama dan papa mencurigai kita.” “Ya, aku mengerti,” jawab Leona. Mereka tiba di depan sebuah hote yang begitu megah milik keluarga Andrew. Tempat yang selalu menjadi favorit keluarga mereka jika ingin merayakan apapun. Andrew segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ke arah Leona. Andrew segera membuka pintu mobil untuk Leona dan mengulurkan tangannya untuk membantu Leona keluar dari mobilnya. “Gandeng aku,” ucap Andrew ketika mereka akan berjalan bersama. Leona segera menggandenga tangan Andrew. Mereka harus memulai aktingnya saat ini. Andrew menyerahkan kunci mobilnya pada petugas hotel dan berjalan masuk ke dalam hotel mewah itu bersama Leona. “Anak kesayanganku, Andrew.” Sambut Renata begitu melihat Andrew dan Leona berjalan masuk ke aula acara. Renata dan suaminya, Robby berjalan mendekatu anak semata wayangnya itu. “Mama dan papa sudah menunggu kamu dari tadi,” ucap Renata sambil memeluk Andrew tanpa sekalipun melihat ke arah Leona. Bahkan Renata sama sekali tidak menganggap Leona dalam sapaanya. Leona berusaha tetap tersenyum sambil melihat ke arah Renata. Leona sudah sangat terbiasa dengan sikap mertuanya itu. Tiga tahun menjadi bagian dalam keluarga ini sudah dangat cukup bagi Leona. Leona mengulurkan tangannya ke arah papa mertuanya. Leona tetap berusaha tersenyum walaupun sambutan kedua mertuanya begitu dingin padanya. “Maaf, Ma. Tadi Andrew ada rapat sebentar dikantor. Untungnya Leona dengan sigap sudah bersiap-siap saat Andrew pulang. Leona begitu cantik hari ini. Dia bilang ingin sekali bisa secantik mama. Elegan dan berkelas, ya kan ma?” Andrew berusaha memuji Leona di depan mamanya. Dia juga tidak ingin Leona merasa kecil hati dengan sikap mamanya barusan. “Itu tidak mungkin sayang. Kulit dan kehidupan kami berbeda jauh. Perawatan mama juga sangat mahal,” jawab Renata sambil tersenyum sinis melihat ke arah Leona. Leona segera mengulurkan tangannya dan memeluk Renata. “Kamu lumayan cantik malam ini, Leona. Pasti Andrew harus mengeluarkan banyak sekali uang untuk ini semua. Ya tidak apa-apalah, setidaknya tidak memalukan di mata tamu yang datang ke acara mewah ini kan?” ucap Renata sambil tersenyum manis ke arah Leona. Andrew langsung merangkul pinggang Leona, “Ma, kami duduk dulu ya. Sepertinya tamu-tamu mama dan papa sudah mulai berdatangan.” “Tentu saja sayang.” Andrew membawa Leona menuju ke sebuah tempat duduk. Leona langsung melepaskan rangkulan tangan Andrew di pinggangnya begitu mereka berada jauh dari orangtua Andrew.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN