Ini Gila!

1237 Kata
Tobias tak menyapanya, seakan tak mengenalnya. Tapi itu bukan sebuah masalah besar, toh Alea tak ingin memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu.  Akan tetapi mengapa lelaki itu seakan mengikutinya? Alea berjalan lalu tiba – tiba menghentikan langkah dan memutar tubuh untuk melihat Tobias. Lelaki itu ikut berhenti, memandangnya dengan mata yang agak menyipit. Apakah dia mengikutiku? tanya Alea dalam hati. Berusaha untuk mengabaikannya, Alea pun melanjutkan perjalanan. Hingga tiba ke sebuah pintu kaca yang dijaga dua security yang segera tersenyum lebar seakan menyambutnya. Sungguh pegawai yang sangat ramah. Bahkan terlalu ramah sampai membuat bulu kuduk Alea berdiri. Yang tidak diketahui Alea adalah bahwa dua security itu sedang menyapa sang CEO perusahaan, yang berjalan tepat di belakang Alea. Seorang lelaki yang mengenakan kemeja putih, jas dan celana pink muda, memotong jalan Alea lalu menatapnya dengan mata dan senyum melebar. “Alea, Beauty Albino!” Saputra histeris saat melihat kedatangan Alea. Lelaki yang agak gemulai itu bahkan tanpa malu – malu memeluk Alea. Saputra memandang seseorang yang berdiri di belakang Alea dengan wajah berseri - seri. “Wow, thank you Boss anda mengabulkan keinginan saya. Saya jamin platform kita akan jadi yang terbaik,” ucapnya. Alea sadar kalau lelaki gemulai itu berbicara kepada seseorang yang ada di belakangnya. Tetapi ia menautkan kedua alis, tak mengerti apa yang dibahas Saputra. Walau begitu ia tetap tersenyum, hanya untuk sopan santun saja. Rendra baru saja keluar dari ruangannya lalu saat melihat kedatangan Alea, lelaki itu segera mendekatinya. “Alea, terimakasih sudah datang kemari,” sambutnya. Tobias mengembuskan napas berat, tak percaya dua orang kepercayaannya seheboh itu hanya karena seorang gadis food vlogger bar –bar seperti Alea. Malas dengan mereka, ia pun segera menjauh untuk menuju ke kantornya. Namun langkahnya terhenti, mengingat soal mobilnya yang ringsek setelah ditabrak mobil Alea. Tobias mengepalkan kedua mata, meringis mengingat kerusakan parah yang harus dibayar dengan sangat mahal. Bemper belakang mobil itu rusak parah, pintu bagasi pun ringsek tak berbentuk dan ia jelas harus body repair secara total dan itu menghabiskan ratusan juta rupiah. Ia memutar badan, hendak meminta pertanggung jawaban dari Alea namun Rendra seakan mengerti, lelaki itu menghadang niat Tobias dan memintanya untuk segera masuk kantornya. Rendra sudah menjelaskan semuanya dan mau menanggung separuhnya. Ia merasa kasihan dengan Alea kalau harus menanggung semua kerusakannya, tak hanya Mercy milik Tobias namun Fortuner om - nya pun juga rusaknya lumayan parah. “Bawa dia ke kantorku secepatnya, aku harus cepat mendapatkan uang ganti rugi,” gumam Tobias dengan rahang mengeras dan gigi geliginya bergemelutuk. “Tenang, Bos. Aku kan sudah bilang, aku yang akan atur semuanya. Bos bisa duduk tenang disana,” ujar Rendra sambil menunjuk ruangan Tobias yang terlihat karena dibatasi dengan tembok kaca. “Kalau ada maunya saja panggil bas bos,” sindir Tobias sambil melirik sahabatnya. Rendra terkekeh dan meminta Tobias untuk segera masuk ruangannya. Tobias tak henti – hentinya mendesah, tak habis pikir mengapa ia dan Alea harus terus dihubungkan dengan berbagai masalah. Ia masih bisa melihat gadis itu yang tersenyum bahkan tertawa di depan Rendra, sementara di depannya hanya ada amukan, makian dan serentetan ucapan ketus yang membuat telinganya gatal. “Kak Tobias.” Saputra mengetuk pintu yang sebenarnya sudah dibuka. “Ya.” Tobias berdehem sambil memutar kursi menghadap meja, cukup canggung karena seakan baru ketahuan sedang mengamati Alea dan Rendra. Saputra masuk dengan senyum sok centil dan sebuah proposal segera disodorkannya. “Itu konsep vlog yang harus dibuat Alea. Bagaimanapun juga kalau dia sudah mau menerima jadi brand ambassador, dia harus mengikuti rules kita kan,” ucap Saputra dengan penuh percaya diri. “Siapa yang akan menjadi brand ambassador?” tanya Tobias lalu mendecak. “Alea kesini bukannya dia menerima menjadi brand ambassador, Bos?” Saputra menelengkan kepala. “Dia datang bukan untuk itu. Lagipula, apa kamu sudah mengirimkan proposal padanya?” tanya Tobias. “Sudah sih, Bos. Cuma belum ada tanggapan secara tertulis. Saya pikir kalau dia kesini, pasti karena setuju dengan tawaran kita,” ucap Saputra. Tobias tak menyangka salah satu anak buahnya bisa bergerak cepat padahal Saputra terkenal karena gerakannya yang lamban seperti kukang. Sok kecakepan yang selalu membuatnya menjadi bahan tertawaan. “Bos, kita harus ngedapetin Alea. Popularitasnya sangat kita butuhkan. Saya sudah mencari data tentangnya, seandainya mau, Alea pasti sudah menjadi superstar di TV. Dia hanya ingin bebas makanya sangat pilih – pilih pekerjaan. Kalau dia mau bekerja dengan kita, saya yakin platform kita akan diunduh ratusan juta dan yang mau bergabung bisa jadi seratus juta lho,” cerocos Saputra. “Ngawur.” Satu balasan Tobias yang membuat mulut Saputra seketika bungkam. “Jadi Bos….” “Keluar sekarang. Aku ada pekerjaan penting.” Tobias mulai jengah dengan Saputra yang seakan mendewikan Alea. Sungguh bukan sesuatu yang menyenangkan. “Tapi Bos….” “SP 1.” “Bos.” “SP 2.” Mata Saputra berkaca - kaca, meskipun Tobias meminta semua anak buahnya untuk memanggilnya kak daripada bapak, tetapi gaya kepemimpinannya sama saja dengan bos bapak - bapak pada umumnya. Saputra menghentakkan satu kakinya karena kesal. Tak ada yang bisa ia perbuat selain mengikuti perintah sang bos. Saat ia membuka pintu, Rendra dan Alea sudah ada di depan pintu. Saputra sudah terlalu kesal hingga ia mencebik saat melewati Alea. Bentuk dari kekecewaan terhadap Tobias. *** Badan Alea seakan direndam bergalon – gallon air es saat melihat Tobias duduk di balik meja bertuliskan CEO. Apalagi saat melihat ekspresi wajahnya yang lebih dingin daripada es dari kutub selatan. Duh, tiba – tiba kaki Alea kaku hingga melangkah masuk menjadi sangat berat. Duduk di hadapan Tobias, mata Alea berkaca – kaca. Ia yakin Tobias takkan memaafkannya. Ia menunduk sambil merintih. Awalnya ia sudah berencana akan melakukan apapun untuk meminta keringanan biaya ganti rugi, tapi saat tahu mobil yang ditabraknya milik Tobias, rasanya mustahil lelaki itu akan memberinya keringanan. Alea memandang Rendra, ini semua salahnya karena berhenti secara tiba – tiba. Hanya saja mau menyalahkannya pun Alea tak berani karena takut kalau Rendra berubah pikiran. Lelaki itu siap menanggung lima puluh persen kerugian. Takutnya kalau Alea membuatnya kesal malah ia harus menanggung semua kerugiannya. “Berapa kerugian yang harus kutanggung?” tanya Alea secara tiba – tiba. Mata Rendra membulat, tak percaya kalau Alea berbicara tanpa basa – basi terlebih dahulu. Tobias lebih terkejut lagi, tak ada permintaan maaf  padahal sudah membuat mobil kesayangannya rusak parah. Bahkan untuk orang yang memiliki kekayaan senilai trilyunan rupiah sepertinya pun tetap saja menggelontorkan ratusan juta rupiah bukan perkara kecil. Tobias berdehem lalu terkekeh dan mendecak. Pada awalnya ia tak berniat meminta ganti rugi, tapi sepertinya itu tak perlu. Ia harus memberi pelajaran kepada gadis albino berwajah mungil itu untuk tetap menginjak bumi dan tak sombong. “Dua ratus sepuluh juta. Rendra akan menanggung setengahnya jadi kamu hanya perlu mengganti seratus lima juta,” jawab Tobias. “Du … dua … bukan – bukan. Seratus lima juta rupiah. Gila!” Mata Alea membulat sempurna, tak menyangka harus mengganti sebanyak itu. Ia tahu Mercy mobil mewah tapi apakah mobil mewah sparepartnya juga ikutan mahal. Alea memandang Rendra dan Rendra memandang Alea. Kedua orang itu sama – sama terkejut dengan uang yang harus dibayarkan. “Nggak mungkin segitu, Bos.” Rendra bukan buta soal perbengkelan. Ia juga memiliki mobil meski tak semewah mobil Tobias. Namun saat Tobias menyerahkan bon di hadapannya. Mau tak mau, Rendra harus mempercayainya. Tobias jelas hanya mau barang original yang tentu saja harganya bisa membuatnya kehilangan seratus juta yang sudah ditabungnya bertahun – tahun lamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN