Sepasang kaki dengan high heels berhias mutiara yang indah melangkah anggun memasuki lobi perkantoran. Memakai dress berbahan satin yang melambai – lambai saat ia melangkah, seakan tertiup angin. Melepaskan kaca mata hitam, gadis itu mengedipkan satu mata ke seseorang yang kebetulan melintas. Semua mata memandang, gadis berkulit putih pucat kemerahan itu seperti seorang dewi yang tersesat masuk kantor perusahaan IT. Gadis itu berhenti di depan lift, menunggu sambil memakai kacamata hitamnya lagi. Sambil menunggu, ia merapikan make upnya. Mengenakan lipstick merah menyala yang sangat kontras dengan warna kulitnya. “Kamu salah makan?” Jelas ini bukan pertanyaan tetapi sebuah penghinaan. “Aku yakin kamu terlalu sibuk sampai nggak tahu apa namanya fashion.” Alea menurunkan kacamatanya han

