Ide Gila

1192 Kata
"Perbuatan seseorang itu tergantung apa yang dipahaminya." ❤️ Ara heran kenapa semua orang kasak kusuk ke arahnya? Perasaan ia sudah memakai gamis dan cadar dengan benar, masa iya mereka tahu bahwa dia bukan ustazah Zakiah? Bukan, bukan itu. Pasti ada yang tak beres. "Ehem, ehem." Beberapa santri Ikhwan berdehem beberapa kali, memberi kode bahwa wanita yang mereka pikir seorang panitia, salah mengambil posisi duduk. Namun, gadis yang sengaja memakai cadar untuk mengelabui semua orang agar bisa dekat dengan Gus Fatah itu bergeming. Membolak-balik isi map yang berisi planing acara, seolah tengah serius mempelajarinya. Sari dan Irma tentu tak membiarkan hal tersebut berlangsung lama. Irma bangkit dari duduk, setelah diskusi dengan rekan di sampingnya. Mendekat pada Ara yang berada di barisan ikhwan. "Em, assalamualaikum. Afwan, ustazah. Em, njenengan salah ambil posisi duduk." "Hem?" Ara sontak mendongak. Ia mengerutkan kening melihat seorang santriwati menegur. "Loh? Rapatnya di sini, 'kan?" Irma menggaruk kepala. Suara itu jelas-jelas bukan suara ustazah Zakiah. Ia sendiri sudah tidak nyaman berlama-lama berdiri dekat peserta ikhwan. Sangat tak lazim di area pesantren ini. Fatah yang juga mendengar suara Ara, mengerutkan kening. Suara itu tak asing, tapi lagi-lagi ia tak mau berprasangka. Mungkin karena akhir-akhir ini Ara mengganggu pikirannya. "Na'am." Ia mengangguk, dari anggukan itu Ara tahu bahwa santriwati yang menegur mengiyakan pertanyaannya. "Afwan, Ning. Em, maksud saya Ustazah, akhwat tidak boleh duduk berdekatan dengan ikhwan. Itu sudah aturan baku." Irma berusaha menjelaskan dengan sabar. Tidak ingin membuat keributan di depan tamu istimewa mereka. Mendengar percakapan itu Fatah manggut-manggut -membenarkan- tanpa melihat ke arah dua wanita yang bicara di dekatnya. Menurutnya ada yang tak beres, mana mungkin seorang ustazah tidak tahu hal itu. Namun, seperti halnya Irma, ia pun berusaha menahan diri. Barangkali orang itu tengah khilaf atau memang lupa, tapi bukan dirinya yang harusnya memperingatkan karena hanya akan mempermalukan ustazah itu saja. Dan itu bukan tabiatnya. Kiai Hanafi seringkali mengingatkan anak semata wayangnya itu, untuk berpikir seribu kali sebelum bertindak. Karena perbuatan kita bisa saja merugikan orang lain. "Ooo ...." Mulut yang tertutup cadar milik Ara membulat. "Kenapa tak bilang dari tadi?" Gadis itu benar-benar tak tahu aturan tersebut. Masa iya, cuma duduk berdekatan saja tidak boleh? Toh, tidak merugikan siapa-siapa. 'Padahal aku cuma pengen dekat dengan Gus dan memantik perhatiannya. Mau dekat saja susah. Huft.' Ara terpaksa berdiri. Ia juga tidak mau acara ini berantakan karena dirinya, abinya pasti akan sangat kecewa nanti. Ara berdiri mengangguk memberi hormat pada Fatah, pria itu jadi tak nyaman sendiri. ____________ Langkah Alya terus melesat memasuki halaman kampus, senyum terukir di bibir karena mengingat bagaimana pembicaraan dengan Bu Nyai Khadijah yang dipanggilnya 'umi'. Wanita yang banyak disegani masyarakat karena kealiman dan kewaro'annya itu semalam bicara serius di kamar Alya. "Nduk, kamu tau umi dan abi sangat menyayangimu. Bahkan setelah kedatangan Ara." Tangan lentik umi mengusap rambut legam panjangnya yang terurai tanpa khimar. Alya mengangguk. Sedikit pun tak pernah rasa curiga pada orang tua angkat bertengger di hatinya. Bahkan jika pun ia dinomorduakan, sebenarnya itu bukan masalah. Manusia mana yang tak memiliki kecenderungan terhadap sesuatu dibanding sesuatu yang lainnya? Terlebih Ara adalah anak kandung Kiai Asmun yang telah lama dirindukan. "Sebenarnya sebelum kedatangan Ara, Abi berencana menjodohkanmu dengan anak Kiai Hanafi." Mata Alya melebar, ia menoleh untuk melihat wajah umi Khadijah. "Be-benar kah, Mi?" Umi Khadijah mengangguk. Kembali diusap rambut gadisnya, ingin mengungkapkan pada Alya bahwa ia begitu sayang. Sepuluh tahun pernikahan, sejak Kiai Asmun melamarnya, kehadiran seorang anak sangat diingini. Namun, apa daya. Allah berkehendak lain. Mungkin ini juga takdir, yang membawanya pada Alya, ponakan Kiai Asmun yang ditinggal mati ibunya setelah tujuh tahun menjadi yatim. Alya tersentuh. Hatinya basah. Ia bahagia, tapi juga kecewa dalam sekejap. Karena kehadiran Ara mengubah rencana Kiai Asmun dan sang istri mengenai perjodohannya dengan Fatah. "Lalu? Apakah abi berubah pikiran setelah mendengar permintaan Ara ingin menikah dengan Gus Fatah?" Bu Nyai menggeleng. "Tidak seperti itu, Sayang." Alya tidak mengerti maksud uminya hingga dahinya mengernyit bingung. Bukannya Ara sangat menginginkan Fatah? "Di balik sikap kekanak-kanakan Ara, dia memiliki pemikiran yang sangat dewasa." Wajah umi mendongak, dengan pandangan menerawang pada Ara. Sedang Alya merasa cemburu, walau bagaimana Ara adalah gadis yang patut diperhitungkan kebaikannya. "Alya tidak memahami maksud Umi." "Ara tidak mau dijodohkan dengan Fatah secara sepihak. Katanya umi dan abi harus adil, jadi dia membiarkan Gus Fatah untuk memilih calonnya." "Oya?" Mata Alya melebar tak percaya. Namun, juga senang. Dengan begitu ia punya kesempatan untuk bisa bersanding dengan Fatah. Bahkan, gadis itu yakin Fatah akan memilihnya. Pikirannya yang melayang pada perjodohan, membuatnya tak fokus ketika berjalan. Tanpa sengaja kakinya masuk ke lubang hingga terjatuh. Semua makalah dan buku yang dipinjam dari perpustakaan untuk bahan skripsi di pelukan berhamburan. "Wah, ini Ning yang cantik itu." Satu dari tiga mahasiswa yang berdiri di dekat Alya jatuh bersuara. "Perlu kah kami bantu, Ning?" Pria lain menimpali. "Jangan, kita ini harom baginya." Seorang lagi bicara mengejek setengah berbisik. Alya bergeming. Selama ini penampilannya kerap kali dibully. Belum lagi sikap tegasnya tidak mau bergaul dengan pria termasuk jabat tangan. Namun, bertahun-tahun di universitas itu ia bisa menyesuaikan diri dengan baik. Karena tidak semua mahasiswa atau pun mahasiswi kolot terhadap pengetahuan dan tsaqofah Islam. Mereka lah yang menjadi teman dan beraahabat dengan Alya. "Hahaha." Suara tawa bersahutan. Seolah mereka puas merendahkan wanita muslimah yang mengikat dirinya dengan syariat. Tak lama, seorang laki-laki datang memungut buku-buku Alya yang lumayan banyak. Ketika mendongak Alya melihat wajah tak asing ada di depannya tengah sibuk mengambil bukunya. "Gus Afnan." Selesai merapikan buku milik mahasiswi yang dibully itu, Afnan berdiri dan menyerahkannya pada Alya tanpa bicara apa pun. "Syukran." Alya mengucap pelan yang disambut senyum tipis Afnan sebelum akhirnya melangkah pergi. Lelaki itu melirik pada tiga mahasiswa yang terlihat canggung menyaksikan sikap pahlawan Afnan. Dia yang dengan gentle menolong tanpa banyak cakap apalagi mengejek. ___________ Di tempat lain, Fatah telah selesai presentasi. Ia persilakan pada peserta rapat yang juga dihadiri donatur untuk menyampaikan tanggapan mereka. Baik itu kritik atau pun saran agar acara bisa berlangsung dengan baik dan memberi kesan pada dua pimpinan pesantren, Kiai Asmun dan Kiai Hanafi. Di seberang meja yang berjarak sekitar lima meter, Ara berdiri. Irma dan Sari saling sikut, mereka mulai khawatir atas sikap Ara. Ada sesal sebab membiarkan putri Kiai Asmun itu duduk manis sepanjang rapat berjalan. "Assalamualaikum." Ara memulai salam dengan santai. Ia mengikuti cara banyak peserta yang sudah bicara sebelumnya. Tak ada yang bereaksi berlebihan selain Irma dan Sari. Semua dengan tenang menyimak Ara yang berdiri dan siap bicara. Begitu pun Fatah, dengan santai ia mengambil air mineral yang disediakan dan meminumnya perlahan. Harusnya hari ini ia puasa, tapi tadi pagi uminya menyiapkan timlo untuknya. Katanya sudah menyiapkan sejak subuh, hingga Fatah yang melihat ninar di wajah sang ibu tak tega untuk tidak menyantapnya dan membatalkan puasa. "Ehm, saya ingin memberi usul agar acara ini semakin spektakuler." Ara memulai ucapannya. Kini dahi Fatah benar-benar mengerut. Ia yakin 1000 persen bahwa itu suara Ara. Perasaannya yang sedari tadi tenang mulai tak enak. "Bagaimana jika acara kompetisi pekan depan dibarengkan dengan pernikahan putri Kiai Asmun dan putra Kiai Hanafi?" "Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Fatah tersedak minumannya karena terkejut dengan usul Ara yang gila untuk diucap saat rapat serius seperti sekarang. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN