2. Kehilangan

1687 Kata
Setelah mandi dan berendam air hangat, waktu sudah hampir tengah malam. Fio mengenakan baju tidurnya yang berbahan satin dengan motif bunga berwarna pink dan dasar baju yang berwarna hitam. “Ken, mau mandi?” tanya Fio memperhatikan Ken yang sepertinya sedang bermain game di ponsel. Ken pun mengangguk dan meletakkan ponselnya di meja. Lalu dia bergegas ke kamar mandi, tak berapa lama Ken keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah dan dia telah mengenakan piyama tidurnya yang memang dibawanya tadi. Lalu masuk ke dalam selimut di samping Fio. “Ken, rambutnya dikeringin dulu, nanti masuk angin!” ujar Fio. Ken menganga mendengar instruksi Fio, hingga Fio merasa gemas dan turun dari ranjang, menarik tangan Ken agar duduk di depan meja rias, dia pun menyalakan hair dryer dan mengeringkan rambut Ken. “Fio seperti mama!” ujar Ken sambil terkekeh. “Mama?” “Iya, waktu aku kecil mama sering keringin rambut kayak ini,” tunjuk Ken ke arah hair dryer di tangan Fio. “Oiya? Kamu ingat masa kecil kamu?” tanya Fio karena dia tahu bahwa Ken melupakan banyak ingatannya saat kecelakaan tiga tahun lalu itu. “Inget sedikit sedikit,” jawab Ken sambil tertawa seperti anak-anak. “Mulai sekarang, kamu harus makin banyak mengingat lagi ya,” ucap Fio dengan suaranya yang lembut. “Kenapa?” tanya Ken. “Agar tak mudah dibodohi orang-orang yang ingin memanfaatkan kamu.” “Fio nggak kan?” “Nggak dong, aku akan setia disamping Ken, karena itu ... kamu harus menuruti apa yang aku ucapkan. Oke?” tanya Fio sambil menunduk, memperhatikan wajah Ken dari dekat. Ken mengangguk-angguk cukup lama hingga Fio memegang kepalanya untuk menghentikan anggukan kepala Ken dan kembali mengeringkan rambut pria yang telah resmi menjadi suaminya itu. Setelah rambut Ken kering, Ken menyisir rambut itu dan membelah tengahnya, membuat Fio meringis, padahal gaya sebelumnya jauh lebih baik. Tapi sepertinya Ken jauh lebih nyaman dengan gaya rambut belah tengah itu. Terserahlah. Fio sangat lelah dan ingin tidur malam ini. Fio cukup kaget ketika membuka mata dan mendapati pria asing tertidur di sampingnya dan dia berusaha meraih kesadarannya bahwa pria itu telah menikahinya kemarin. Fio harus terbiasa akan pemandangan ini selanjutnya. Dia pun berbaring miring memperhatikan wajah Ken saat tertidur, bulu matanya cukup lentik, rahangnya yang tegas dan hidungnya yang sangat mancung. Saat tertidur seperti ini, Ken terlihat sangat tampan. Mulutnya mengatup rapat dan wajahnya seperti bayi sangat halus. Fio mengusap pipi Ken dan merasakan betapa lembut kulit itu. Ken masih tertidur pulas, sepertinya dia sangat lelah karena pesta pernikahan kemarin. Fio yang terbiasa bangun pagi pun tak mau membangunkannya dan memilih memesan sarapan untuk dibawa ke kamar itu. Seperti biasa, dia tak pernah ketinggalan kopi paginya. Dan dia pun pasti memesan secangkir kopi untuknya. *** Seminggu setelah pernikahan, Dhanan, ayah dari Ken jatuh pingsan di kantor, tubuhnya segera dibawa oleh ambulance khusus, Ken yang menemani ayahnya di dalam ambulance, sementara Fio mengikuti dengan mobil pribadinya. Namun sayang, Dhanan meninggal di perjalanan menuju rumah sakit. Ken terlihat sangat terpukul dia terus terdiam, tanpa mau menyahut setiap ucapan Fio. Fio mendekap Ken yang terpukul tanpa air mata di matanya, membuat Fio kian sedih. Pasti sangat berat menjadi Ken bahkan dia menangis tanpa air mata. Tangisan yang paling dalam adalah ketika tak bisa lagi mengeluarkan air dari mata itu meski sangat ingin menangis. Sementara Fio sudah terisak dan menjerit histeris, ayah mertuanya selalu berpesan untuk menjaga Ken, menyayangi Ken dan jangan pernah meninggalkan Ken atas apapun yang terjadi. Fio tahu sebagai istri seharusnya dia yang dilindungi oleh suaminya. Namun keadaan Ken tak seperti pria pada umumnya, sehingga dia yang diharuskan melindungi pria lemah itu. Fio mendekap pinggang Ken dari samping dan meletakkan wajahnya yang basah akan air mata di punggung Ken, terus saja menangis tanpa bisa terbendung. Dia sangat menyayangi ayah mertuanya yang telah sangat baik kepadanya selama ini. Ingatan demi ingatan terus meluncur di otaknya seperti kaset yang diputar ulang. Ketika pertama kali datang ke perusahaan dengan tangan gemetar menyalami orang nomor satu di perusahaan yang sangat disegani, senyum pertama yang Dhanan berikan pada Fio mampu menenangkannya. Dhanan menjelaskan tentang pekerjaan Fio secara terperinci. Tak jarang Dhanan bertanya pendapatnya mengenai keputusan yang harus dia ambil. Sebagai orang kepercayaan Dhanan, Fio tahu hampir seluruh kehidupan Dhanan dan juga tentang perusahaan. Dia bahkan sering diminta Dhanan mengecek margin perusahaan, dan sebagainya. Karena itu Fio yang paling paham mengenai perusahaan itu selain Dhanan. Berkas-berkas pribadi sampai pin atm, pin kartu kredit, kunci brangkas semua diketahui Fio tanpa rahasia. Sebegitu percayanya Dhanan terhadapnya, terhadap wanita yang dijadikan menantu dan diharapkan dapat membimbing Ken dan mendampinginya selamanya. Pemakaman Dhananjaya dilakukan sehari setelah dirinya dinyatakan meninggal oleh rumah sakit. Banyak sekali karangan bunga di rumahnya, dan iringan yang mengantar kepergiannya menuju peristirahatan terakhir di taman makam elite di kota itu pun sangat banyak, dari kolega, direksi, bahkan keluarga lainnya. Fio terus menangis, begitupula Ken yang meneteskan air mata di gundukan tanah itu, mungkin sudah firasat meninggalkan dunia tak lama lagi, yang membuatnya menikahkan Ken dengan Fio dalam waktu satu bulan setelah lamaran singkat yang dilakukan diruang kerjanya waktu itu. Hujan mulai turun membasahi bumi, para pelayat satu persatu meninggalkan pemakaman kecuali para pelayan dan pengawal Ken dan Fio. Juga kedua orang yang masih menangisi kepergian sang ayah tersebut. “Ken, hujan, pulang yuk,” ajak Fio. Ken menggeleng dan memeluk tanah itu sambil menangis histeris, tangis yang sedari kemarin di tahannya akhirnya dikeluarkan di tempat itu. “Ken, papa sudah tenang, tak sakit lagi,” ucap Fio dengan suara bergetar, hujan semakin deras dan pelayan membawakan payung serta memayungi Ken namun Ken mendorong payung itu dan membiarkan tubuhnya serta tubuh Fio basah kehujanan. Fio meminta para pelayan dan pengawal meninggalkan mereka berdua dan berteduh, mereka pun meninggalkan Ken serta Fio yang masih berada di depan makam sang ayah. Akhirnya Fio bisa mengajak Ken pergi meninggalkan makam itu setelah beberapa saat, hujan masih mengguyur tanah, membersihkan baju Ken dan Fio yang semula terkena tanah merah pemakaman. Dengan langkah gontai Fio memegang lengan Ken, bibirnya bergetar karena menangis dan dingin yang dirasakan akibat air hujan. Entah dapat darimana, pelayan memberikan dua handuk kering dan lebar yang disampirkan di tubuh Ken dan Fio. Mereka berdua pun duduk di kursi belakang mobil mewah tersebut. Menuju rumah mereka. Sepanjang jalan kompleks menuju rumah utama, banyak sekali karangan bunga dari para kolega dan kerabat yang menyampaikan ucapan turut berduka cita terhadap Dhananjaya. Hal yang semakin membuat hati Fio teriris, banyaknya karangan bunga yang menandakan bahwa banyaknya orang yang mencintai dan merasa kehilangan sosok hebat seperti Dhananjaya. *** Setelah mandi, Fio pun menyuruh Ken mandi, lelaki itu masih tampak sangat kehilangan dan terus terdiam tanpa mau membuka suaranya. Ken langsung tidur dengan rambut basah, Fio mengeringkan rambut Ken dengan handuk agar tak terlalu basah. Lalu tidur di samping sang suami, mungkin tidur dapat membuat mereka sedikit melupakan kejadian ini. Hingga tengah malam, Fio mendengar suara merintih dari Ken, dia pun membalikkan tubuh dan memegang kening Ken yang ternyata sangat panas. Dengan segera dia menyiapkan kompres untuk Ken. Dia juga mengambil obat penurun panas dan membangunkan Ken untuk meminum obat itu. Lalu Ken kembali tertidur dengan menggigil kedinginan. Fio mematikan AC dan menarik selimut sampai leher Ken, dia tahu tubuh Ken yang panas namun Ken merasa sangat kedinginan. Dia pun menelusupkan tangannya ke dalam baju Ken agar bersentuhan kulit dan memeluknya. “Ken, jangan sakit please,” mohon Fio sebelum masuk ke dunia mimpinya karena Ken berhenti menggemeletukkan giginya. Mungkin efek obatnya mulai bekerja, Fio berharap Ken lebih baik ketika bangun nanti. *** Fio bangun dan mendapati dirinya yang dipeluk oleh Ken, padahal seingatnya semalam dia yang memeluk Ken. Dibiarkan dirinya berada dalam dekapan sang suami karena entah mengapa rasanya sangat nyaman. Tangannya terulur menyentuh kening Ken, sepertinya panasnya sudah turun, meskipun masih agak hangat. Fio pun memeluk pinggang Ken dan kembali memejamkan mata. Matanya sangat berat karena terlalu banyak menangis kemarin dan dia membiarkan tubuhnya beristirahat lagi selama sejenak. Hari sudah menjelang siang ketika Fio kembali membuka mata, posisi Ken masih sama seperti pagi tadi. Fio pun melepas pegangan tangan Ken di tubuhnya dan membangunkan pria itu. “Ken, bangun. Makan dulu yuk, dari kemarin belum makan kan,” ujar Fio. Ken mengerjapkan matanya dan beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke retinanya.  Dia pun beranjak duduk lalu menatap ke sekeliling, melihat Fio yang duduk di sampingnya. “Ah iya, makan ya?” tanya Ken dengan mulut menganga. Fio mengangguk, Ken telah kembali menjadi seperti sebelumnya. Karena seharian kemarin dia melihat sosok Ken yang berbeda. Mulutnya terus mengatup rapat dan menahan tangis, hal yang sejujurnya membuat dirinya ketakutan. “Mau mandi dulu atau makan dulu?” tanya Fio. Ken meraba kening untuk merasakan suhu tubuhnya. “Mandi dulu,” jawabnya sambil turun dari ranjang. Fio membetulkan bajunya yang berantakan dan turun dari ranjang keluar dari kamar dan membiarkan Ken mandi terlebih dahulu. Sudah pukul sepuluh ketika dia keluar dari kamar menuju dapur dimana sudah terdapat beberapa pelayan yang sedang membersihkan perabotan. “Mbak, tolong buatkan bubur untuk Ken ya,” ujar Fio. “Nyonya Fio mau makan apa? Agar kami siapkan,” tanya pelayan itu kembali. “Saya minum jus alpukat saja, terima kasih ya,” ucap Fio sambil berjalan kembali ke kamar untuk bergantian mandi. Setelah mandi, dia dan Ken pun menuju ruang makan, sudah tersedia bubur ayam hangat di meja, juga jus alpukat. Ken menoleh ke Fio dan mengernyitkan kening karena Fio hanya meminum jusnya. “Fio nggak makan?” tanya Ken, Fio pun menggeleng. “Kamu saja makan, aku nggak nafsu, dihabiskan ya. Setelah ini minum obat,” ucap Fio. Ken pun mengangguk dan menyuap buburnya sampai ada yang tumpah dari mulutnya. Vio yang memperhatikan cara Ken makan itu pun mengernyitkan kening. Dan menarik mangkuk bubur juga mengambil sendok dari tangan Ken. Lalu dia mengambil tissue untuk menyeka sudut bibir suaminya. “Makannya jangan berantakan,” ucap Fio sambil membersihkan mulut Ken dan menyuapi Ken bubur dari tangannya. Apa yang dilakukan Fio sungguh seperti ibu yang memperlakukan anaknya bukan seperti istri terhadap suaminya, dan hal itu membuat para pelayan mengulum senyum. Mereka tahu keputusan majikan mereka menikahkan Fio dengan Ken adalah keputusan terbaik yang dapat diambil. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN