“Lain kali lebih hati-hati, ya? sayangi diri kamu.” bagaimana Ratu bisa berhasil move on jika seperti ini caranya. Usapan lembut Bian di puncak kepala Ratu masih terasa sampai ke lubuk hatinya, menggetarkan jiwa dan raga apalagi saat lelaki itu tersenyum. “Iya Kak, makasih.” Ratu hanya menjawab seadanya saja. Kini kakinya sudah dibalut perban, dan kaca yang menancap di telapak kakinya juga sudah tidak ada. Ratu merasa lebih baik lagi. “Desy, tolong tinggalin kita berdua, ya? aku mau bicara sama Ratu.” kini mereka masih di IGD klinik yang tak jauh dari rumah. Ratu duduk di tepian ranjang dan Bian ada di sebelahnya. “Oke, siap, Kak.” Desy pergi sesuai permintaan Bian. Kini hanya ada mereka berdua di balik ruang-ruang yang hanya dibatasi oleh tirai. “Mau bicara apa, Kak?” feeling Ratu

