Bagaimana jika kamu sedang berusaha move on dari seseorang, tapi orangnya malah muncul di hadapanmu secara tiba-tiba, tanpa diminta? ya, itulah yang sedang dialami Ratu saat ini. Kala dia sedang asyik dan mencoba fokus membuat rangkuman dari dua kasus terakhir yang mereka tangani, tiba-tiba ruangannya kedatangan tamu. Tamu tak diundang yang sangat tidak harapkan kehadirannya mulai kemarin.
“Aku ganggu, ya?”
Ratu tampak canggung, tidak leluasa dan merasa serba salah berdiri di hadapan Bian. Ini bukan kali pertama lelaki itu mendatangi kantornya, tapi sudah beberapa kali.
“Nggak kok Kak,” sahut Ratu alakadarnya. “Ada apa ya, Kak?” seperti menyapa orang lain yang tidak akrab, itulah perlakuan Ratu saat ini ke Bian.
“Kamu nggak bisa aku hubungi sejak pagi tadi, aku khawatir.” lelaki itu menatapnya lekat, tapi seketika Ratu membuang tatapannya ke arah lain. “Pagi tadi aku nunggu kamu di depan rumah, hampir setengah jam. Aku bolak balik pencet bell, ketuk pintu, tapi kamu nggak dengar,” jelas lelaki itu lagi yang akhirnya membuat kening Ratu berkerut.
“Pagi tadi? Kak Bian datang? buat apa?” harusnya Ratu senang, dikhawatirkan. Tapi, sekarang kondisinya sudah berbeda.
“Kamu kan kemarin pulangnya bareng aku, nggak bawa motor. Pasti perginya bakalan repot, ya aku ke rumah buat ngajak kamu pergi bareng. Aku udah telpon dan chat kamu, tapi centang satu sampai sekarang.” Bian bahkan memperlihatkan room chatnya dengan Ratu.
“Oh, hape aku habis batre, Kak.” alasan klasik.
“Sampai sekarang?” tanya Bian tidak percaya.
“Iya, tadi malam aku lupa ngecash, ketiduran. Sampai paginya juga lupa.” jelas saja Ratu berbohong. Padahal, dia sudah memblokir nomor Bian sejak tadi malam. Menurutnya, move on itu jangan setengah-setengah.
“Oh gitu, oke. Btw, sebentar lagi, masuk jam istirahat kan?” Bian melirik arloji di tangan kirinya.
Begitupun dengan Ratu. “Masih sepuluh menit lagi, Kak.”
“Ya udah, aku tunggu. Kita makan siang bareng-“
“Tapi maaf, aku udah ada janji,” sahut Ratu cepat. Ini bukan tentang Raja yang pagi tadi memaksanya untuk ikut ke bengkel siang ini, itu hanya kebetulan saja. Yang jelas, saat ini Ratu hanya ingin menghindari dari Bian bagaimanapun caranya.
“dengan siapa?” Bian menyelidik.
“Eum, pokoknya maaf banget, Kak. Aku nggak bisa. Maaf Kakak udah jauh-jauh ke sini.” Ratu meminta maaf berulang kali.
“Kamu ini, kayak sama orang lain aja. Aku kan Kakakmu, nggak perlu minta maaf berulang kali.” Bian tanpa sungkan mengusap pelan puncak kepala Ratu. Biasanya Ratu selalu berdebar karenanya, tapi anehnya, sekarang debaran itu tidak ada lagi.
“Ehm.” beberapa detik setelahnya, muncul seseorang dari balik pintu ruangan pidana. Lelaki itu sengaja berdehem keras.
“Saya harap, karyawan di firma ini nggak nerima tamu di saat jam kerja, kecuali tamu itu adalah klien.” dengan tegas Raja berucap, dengan gaya angkuhnya pula lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Dengar, Ratu?” sorot matanya menatap tajam pada Ratu.
“Baik, Pak Raja.” Ratu hanya tidak ingin berdebat saat ini, lagipula, ini di kantor dan Raja memiliki kekuasaan penuh atas dirinya saat ini, apalagi masih dalam jam kerja walau jam istirahat masih kurang dari sepuluh menit lagi.
“Maaf ya Kak, aku masuk dulu.” pamit Ratu setelah Raja melangkah keluar, entah kemana.
“Oke, itu bos baru kamu?”
“Iya Kak.”
“Lebih songong dari Pak Bun ternyata.” Bian berkomentar.
“Ssttt, Kak.” percayalah, saat ini Ratu hanya tidak ingin ribut dengan siapapun termasuk Raja.
“Lain kali kita makan siang bareng, hubungi aku kalau hape kamu udah nyala, oke?” Bian mengingatkan.
Ratu hanya mengangguk tipis. Kenapa nggak makan siang bareng calon istri lo aja sana? dalam hati, dia meronta kesal melihat kepergian Bian yang tak bisa digapainya.
Setelah kepergian Bian, Ratu kembali duduk di tempatnya. Layar komputernya masih menyala menampilkan satu halaman hasil ketikannya sejak pagi tadi. Dia mengesah, lalu bersandar di kursinya. Senyum Bian yang dilihatnya terakhir kali tadi sebelum lelaki itu pergi, masih terngiang di kepalanya. Gadis itu kembali duduk tegak, dibukanya lembar demi lembaran di dalam map file yang ada di meja kerjanya, lalu mulai fokus mengetik lagi.
“Jangan lupa, lima menit lagi, kamu ikut saya!” titah seseorang yang menghampiri mejanya.
Ratu hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab, kedatangan Raja di mejanya menjadi pusat perhatian semuanya, termasuk Nindy dan Desy yang duduk berdekatan dengannya.
tumben nggak pake lo-gue.
Ratu menyudahi pekerjaannya.
“Sst, mau kemana lo sama bos baru?” Desy menyenggol lengannya dengan siku.
“Jadi kemarin gue nggak sengaja nyenggol mobilnya, terus lecet. Dia ngajak ke bengkel, supaya gue tau berapa biaya ganti ruginya,” jawab Ratu apa adanya, dengan suara sekecil mungkin.
“Dih, mobilnya pasti mahal, kan? oh gue ngerti… jadi ini yang bikin lo galau dari pagi tadi?” Desy menerka.
Ratu hanya mengangguk agar Desy tidak memperpanjang pertanyaan.
“Yang sabar ya? kalau lo butuh bantuan, berupa biaya, tenang aja… masih banyak aplikasi pinjol.” Desy cekikikan.
“Sialan lo!” umpat Ratu juga tertawa.
“Gue serius, malah gue punya yang terbaru.”
“Sorry, saran lo kali ini nggak gue terima.” Ratu menolak mentah-mentah.
*
“Pak, maaf… ada yang ketinggalan belum Bapak tanda tangani. Sekaligus saya mau nyerahin schedule terbaru, karena klien kita ada yang ubah schedule Pak.” Nindy masuk ke ruangan ketua divisi mereka sambil membawa beberapa berkas.
“Oke.” Raja meraih selembar kertas yang diserahkan oleh Nindy. “Untuk schedulenya tolong kamu kirim via email juga, ya.”
“Baik Pak.”
“Ada lagi?” tanya Raja.
“Eum ini Pak, ada hal yang mau saya sampaikan ke Bapak. Tapi sebenarnya ini bukan tentang pekerjaan,” tutur Nindy dengan sopan. Raja yang tadinya tidak menatap Nindy sama sekali, kini beralih menatap wanita itu.
“Apa itu?”
“Ini Pak, saya bukan bermaksud ikut campur atau sejenisnya. Tapi saya cuma mau mengingatkan Bapak aja untuk berhati-hati.”
sepasang alis tebal milik Raja semakin berkerut. “To the point aja, saya nggak punya banyak waktu.” tegas lelaki itu.
“Gini, Pak. Ada baiknya Bapak nggak terlalu dekat dengan Ratu, jangan sampai Bapak mengalami hal yang sama seperti ketua divisi sebelumnya. Ratu dan Pak Bun pernah ada skandal sampai istrinya ngelabrak ke sini. Dan waktu itu, citra Firma ini hampir aja menurun, Pak. Untung aja pejabat yang lain bisa gerak cepat menyelesaikannya. Kalau enggak—“
“Tunggu, saya belum punya istri.” Raja menyela ucapan Nindy.
“Oh iya, Pak. Iya, saya paham kalau itu. Tapi Pak, saya cuma mau mengingatkan, jangan sampai Pak Raja terlena dengan sikap dan ucapannya, banyak cowok-cowok di firma ini yang udah dibuat baper dan patah hati sama Ratu, setelah dimanfaatkan, mereka dicampakkan begitu aja. Dia itu perempuan nekat, Pak. Dia rela berbuat apa aja, yang penting keinginannya terpenuhi, saya dengar ini dari istrinya Pak Bun yang curhat karena sering ngirim uang buat Ratu secara pribadi.”
Raja sengaja membiarkan Nindy menjelaskan dan menceritakan apapun yang dia mau.
Lelaki itu hanya mengangguk, dan tidak akan menerima mentah-mentah atas apa yang dikatakan Nindy sebelum dia sendiri membuktikannya. Apa benar Ratu seperti itu? entahlah, dia juga tak ingin mencari tahu, karena merasa itu bukan urusannya.
“Thanks untuk pengingatnya, kamu boleh pergi.” titah Raja.
“Hati-hati, ya Pak,” ucap Nindy sekali lagi, sebelum dia meninggalkan ruangan bosnya. Tepat jam dua belas lewat sepuluh menit, Raja meninggalkan ruangan dan mengabaikan Ratu yang sedang merapikan meja kerjanya.