Pilihan macam apa itu? dua-duanya terdengar menguntungkan bagi Raja. Ratu menggeleng, tidak memilih apapun. Dia tidak senyum juga tentu tidak ingin dicium lagi. “Tolong ya Pak, jangan memanfaatkan keadaan,” ucap Ratu penuh peringatan. Tapi yang diperingati justru tersenyum santai tanpa rasa bersalah. Raja berdiri, merasa sudah cukup. Obrolan menjelang malam sudah menemukan titik terang yang menjawab segala kegelisahannya. “Makasih untuk kesempatan yang masih kamu usahakan buat aku.” Ratu mengangguk, entah sudah berapa kali lelaki itu mengucapkan terima kasih. “Kalau pacarnya chat atau telpon, bisa kan direspon? jangan diabaikan?” “Iya… bisa.” Meski sikap Ratu belum sepenuhnya kembali seperti semula, Raja harus terima. Wajar saja Ratu bersikap seperti itu, karena peringatan maminya un

