Auris menatap seluruh dirinya di balik cermin yang besar di dalam kamarnya. Perutnya sudah sangat besar. Damian kemudian muncul dari pintu ia masuk lalu menutup kembali pintu kamar mereka. Damian langsung saja memeluk istrinya itu dari belakang. Ia ikut mengusap usap perut besar Auris dengan penuh kelembutan dan kasih cinta. Kemudian mengecup lembut pipi dan leher putih milik istrinya itu. "Satu bulan lagi aku akan melahirkan pangeran ini. Dan kita masih dalam keadaan seperti ini? apa kita harus pergi dari sini?" tanya Auris dengan kecemasan yang terdengar dari nada suaranya. Damian berpikir sejenak sambil menatap wajah istrinya di cermin. Mengapa hanya karena dua orang itu saja, hanya karena Aureli dan juga Ferhad hidup mereka jadi tidak tenang. Ini tidak boleh dibiarkan memang, tap

