Merry termenung di rooftop rumah sakit sembari melihat langit dengan tatapan kosong. Dia hanya diam membiarkan tubuhnya tertepa angin malam. Setelah menemui Franklin, pikirannya kacau. Hatinya sangat sakit. Sudah empat jam berlalu dia menangis. Dan sekarang dia benar-benar tidak ada tenaga lagi untuk menangis. Bahkan bernafas saja rasanya sulit. "Mer." Seseorang menepuk pundak Merry membuat gadis itu hanya mengedipkan matanya. Wajahnya terlihat seperti mayat hidup. Bibirnya pucat, pipinya dipenuhi air mata kering. "Mer ini gue Ucup, lo kemana aja sih Mer daritadi dicariin sama yang lain juga." Ucup dengan nafas terengah-engahnya langsung berjongkok di depan Merry. Tapi tatapannya langsung terkejut melihat keadaan Merry. "Mer lo-" "Hiks Cup." Merry memeluk Ucup ketika temannya itu ingi

