Kerinduan

1070 Kata
Jere masih berdiri di tempat tanpa niat beranjak. Matanya fokus menatap Ari yang merangkul Jasmine sambil berbicara dengan ekspresi bahagia. Keduanya memasuki restoran seafood tanpa pembatas yang membuat siapa saja bisa melihat keadaan di dalam restoran itu. Jamal meletakkan tas Jessie di meja yang dipilihkan Ari untuk mereka makan malam. Jamal yang ikut makan duduk di sebelah Jessie sekaligus menjaganya. “Bos.” Joe memanggil Jere yang masih membatu. Keraguan membuatnya bingung untuk menyentuh bahu Jere. Namun, Ucup yang tidak tahan menggerakkan tangan Joe dengan tangan nya untuk menyentuh bahu Jere. “B-bos,” panggil Joe akhirnya terbata-bata karena terkejut dengan tindakan Ucup. “Tunggu.” Jere menatap Jasmine yang tertawa bersama Ari karena percakapan yang tidak ia ketahui apa. Hati yang masih mencinta tentu membuatnya panas. Senyuman yang dulu diperuntukkan untuknya berpindah menjadi milik seorang b******n yang tidak bisa dipercaya. Rasa benci dalam diri Jere benar-benar menguasainya teramat dalam. Sampai beberapa detik yang lalu, tidak ada senyuman tipis pun yang hadir di bibir Jere. Namun, setelah ketidaksengajaan mata yang menangkap tingkah laku Jessie berpindah ke pangkuan Jamal berhasil mengukir senyum tipis di bibir Jere. Ia tahu kalau Jamal melirik ke arahnya karena sadar dengan keberadaan Jere sekarang. Jessie yang sekarang duduk menghadapnya, membuat ayah yang sedang merindu itu berharap Jessie melihat ke arahnya. Sampai Tuhan mengabulkan harapan yang beberapa saat lalu ia ucapkan di dalam hati. Tangan Jere terangkat ke atas, melambaikan tangan pada Jessie yang mendadak diam. Jere sadar penyebab diam Jessie karena tidak mengenalinya dengan penampilan serba tertutup. Jere berperang dengan pikirannya beberapa saat untuk memutuskan sesuatu yang pasti akan membuatnya bahagia. “Dia nggak bakal kenal kalau muka Mas Jere ditutup begitu.” Perkataan Ucup meyakinkan Jere. Ia membuka kaca mata dan melihat Jessie dengan jelas. Keyakinan semakin menguasai diri Jere untuk membuka masker saat Jessie tidak kunjung mengalihkan tatapan darinya. Jere tersenyum, ia begitu bahagia melihat senyum bahagia Jessie saat ia melihat wajah Jere dengan sangat jelas. Tangan kanan Jere terangkat melambaikan tangan ke arah Jessie dan tangan kirinya mengambil topi di kepala. Jessie bergerak ingin turun dari pangkuan Jamal. Jere melihat Jamal yang hanya menyaksikan gerak-gerik Jessie. Jessie mendorong kursi yang sebelumnya ia tempati untuk memberi jalannya, belum sempat melangkah Jamal kembali menggendongnya karena perintah Ari. Hal yang tidak diharapkan terjadi saat itu oleh Ari dan Jasmine akhirnya terjadi juga. Jessie menangis histeris menujuk ke arah Jere sambil berteriak menyebut ‘Papi’. Refleks Jere membalikkan tubuh dan langsung ditutupi oleh Joe yang berpura-pura berbicara dengan Ucup. Setetes air mata jatuh ke pipi nya menahan rasa bahagia yang teramat melihat reaksi bahagia Jessie melihatnya. Maaf, Nak. Papi janji bakal jemput kamu. Kebingungan menyerah Ari dan Jasmine saat mengikuti ke mana telunjuk mungil Jessie mengarah dan tidak menemukan siapapun. Karena setelah Jessie menangis Jere yang sudah ditutupi oleh Ucup dan Joe mulai melangkah menjauhi tempat itu dengan rasa kesal dan sedih yang menjadi satu. “Kita pulang,” putus Jere akhir. ~~ Jere memasuki apartemen dengan langkah pelan. Mata nya mengunci setiap sudut apartemen yang menyimpan semua kenangannya bersama Jasmine. Satu persatu kenangan yang ada terputar di kepala Jere. Sofa di mana pertama kali dirinya berniat mencium Jasmine, dapur yang menjadi saksi pertengkarannya dengan Jasmine, saat wanita itu menolak keinginan Jere untuk mencumbunya. Banyak kenangan bahagia dan juga penderitaan Jasmine di apartemen itu. Senyuman Jessie yang ia lihat tadi kembali menghadirkan air mata di pelupuk mata Jere. Ia melanjutkan langkah menuju kamar tidak ingin Ucup dan Joe yang sibuk mengangkat barang terkejut mendapati dirinya menangis tersedu-sedu di lantai. Ia berjalan menuju kamar Jasmine, mengunci pintu dari dalam untuk mengantisipasi kesendiriannya tidak akan terganggun. Mata Jere liar menatap sekeliling kamar yang sama sekali tidak berubah seperti saat terakhir ia tinggalkan. Hanya saja tidak ada lagi barang-barang Jasmine yang mengisi ruangan itu. Jere menyeluruh di atas lantai, kedua tangan nya menutup wajah Jere yang sekarang sudah menangis karena kerinduan pada orang-orang terkasihnya tidak bisa terbalas. “Akhirnya aku tahu gimana sakitnya rindu, Pa.” “Aku baru rasain itu secara langsung. Aku rindu, Papa. Kalau Papa di sini, Papa pasti udah marahin Jere karena nangis nggak guna kayak sekarang...” “Aku bisa balas rindu ke Jasmine dan Jessie karena mereka masih sama aku di sini, tapi gimana aku bisa balas rindu ke Papa?” Tangis pilu Jere seketika pecah mengingat pesan terakhir almarhum papa nya. Papa takut nggak bisa lihat kamu. “Sekarang aku pulang, tapi kenapa Papa yang pergi? Kenapa aku pulang untuk tangisin, Papa? Kemarin aku berharap buat peluk Papa lama kalau pulang ke Indonesia, tapi kenapa Papa nggak bales?” “Kita juga belum sempat foto keluarga bareng. Aku belum sempat wujudin maunya Papa buat tinggal sama Jessie.” “Maafin, Jere. Karena dulu ngelakuin semua cara buat jauh dari Papa. Jere benar-benar nyesal, Pa!” Jere terus meracau tentang kekecewaannya pada diri sendiri. Jere yang selalu terlihat tegar dan kuat akhirnya menangis karena ketidakmampuannya menanggung. Ia menghapus air mata nya. Menatap lurus ke pintu yang ada di depannya. “Tadi Jessie lihat langsung gimana bahagianya dia ketemu aku. Mungkin waktu kecil dulu aku kayak Jessie, ya, kalau lagi rindu sama Papa.” Jere kembali menangis tersedu-sedu. “Pa...,” suaranya terdengar pilu dan menyayat hati. “Aku rindu, Pa. Jere rindu, Papa.” “Bos.” Suara Ucup terdengar bersamaan dengan ketukan pintu. “Makan malam, Bos.” Ucup kembali memanggil Jere. Jere berdeham untuk menormalkan suara, tidak ingin Ucup mengetahui keadaannya sekarang. “Aku mau langsung istirahat, Pak. Kalian makan malam duluan.” Jere sedikit berteriak agar bisa didengar oleh Ucup. “Saya letakin di atas meja dapur, ya, Bos.” “Iya, Pak.” Jere mengusap wajah dan bangkit dari posisinya saat ini, berpindah ke atas tempat tidur kembali memperhatikan sekeliling kamar Jasmine. Ia memiliki sebuah ide ketika Jessie menghampiri pikirannya. “Papi punya sesuatu buat kamu,” gumamnya refleks berdiri.  ~~~ Sudah biasa memang, tapi aku kembali mengingatkan. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Jadi, pikirkan apapun dengan baik-baik, sebelum kamu memutuskannya. ~~ (Btw, kalian mau nggak kalau aku double update? Maksudnya up sekali dua part. Semoga mau, ya. Cuma aku juga mau minta semangat dari kalian. Kalau Part ini sama besok bisa sampai 30 komentar satu part. Aku bakal update 2 part sekaligus setiap hari. Tentu komentar-komentarnya positif, yak, biar semangat nulisnya.) Oh iya, kalau mau lihat visualnya Jasmine, Jere, Ari dan Jessie. Monggo mampir di akun Ig aku Ansejo_ kalau bisa di follow hehehe Makasih semuanya. Luvvvvvvv 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN