Elena menatap Andrew dalam-dalam. Matanya tidak lagi menunjukkan kebingungan amnesia, melainkan ketajaman yang menuntut kejujuran. "Dante baru saja mengaku mencintaiku. Dia bilang dia siap membuang semua harta dan nama Valerius demi aku." Andrew mendengus sinis. Ia berjalan menuju meja dan menuangkan wiski ke dalam gelasnya. "Itu taktik lama, Elena. Dia hanya panik karena posisinya terdesak. Jangan biarkan dia memanipulasimu lagi dengan drama penyesalan itu." "Aku tahu," jawab Elena datar. "Aku tidak memercayainya. Tapi saat dia mengatakannya, aku justru memikirkan hal lain. Aku memikirkanmu, Andrew." Andrew menyesap minumannya, matanya menyipit. "Apa hubungannya denganku?" Elena melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga ia bisa mencium aroma kayu cendana dari tubu

