The CEO

2256 Kata
Siapa yang tidak mengenal namanya? Nama depan khas Eropa dan nama belakang khas lokal. Bahkan setaraf Presiden saja meminta berfoto dengannya. Namanya masuk di jajaran 50 orang terkaya di dunia dibawah usia 50 tahun. Seorang Presiden Direktur di beberapa perusahaan dan pemegang saham mayoritas dari banyak perusahaan, Tepatnya, 67 Usaha Induk, 180 anak usaha dan ratusan lagi sister company mereka yang tersebar di berbagai belahan dunia. Dan nasib puluhan ribu karyawan bergantung padanya. Gerald Bagaswirya turun dari Maybach Exceleronya untuk menuju lobby hotel Ritz Carlton di daerah Setiabudi. Kunci mobil ia serahkan ke valley dan ia melenggang dengan percaya diri menuju ke ruang meeting. Salah satu asistennya sudah memberitahu letak ruang meeting untuk perjanjian kredit hari ini. Sedangkan kedua bodyguardnya yang biasa mendampinginya ia biarkan mengurusi hal lain di kantor. Ia sedang butuh sendiri. Ia sedang merasa galau. Mungkin bekerja adalah satu-satunya cara untuk melupakan pikirannya yang mulai tidak dapat ia kendalikan. Itu juga sebabnya ia butuh menyetir sendirian. Dan meeting sendirian, Dan mungkin nanti ia akan ke gym sendirian juga. Ia membuka pintu ruang meeting yang dimaksud. Ia akan selesaikan pekerjaan yang satu ini, pinjaman dengan agunan deposito senilai 1 triliun, lalu ia akan makan siang sendirian juga. Dan, ia pun tertegun, saat membuka pintu ruang meeting. Wajah-wajah asing yang tidak ia kenal. Semua orang yang berada di dalamnya menatapnya. Ibu-ibu sosialita, semua berkerudung, dengan baju motif macan, memandangnya dengan kaget. Suasana yang tadinya riuh karena arisan berlian sedang berlangsung, langsung hening. Sekejab, Gerald langsung tahu kalau ia ... Salah ruangan. "Bisa dibantu Pak?" tanya seorang dari mereka. "Wah, Maaf, sepertinya saya salah ruangan," Gerald cepat menguasai dirinya. Ia sebenarnya sangat marah. Ia merasa bodoh dan dipermalukan. Terlebih, Ia seorang pembenci wanita. Namun ia dibesarkan di lingkungan keraton, yang mana, sopan santun dan etika lebih diutamakan dibandingkan apa pun. "Tapi saya merasa beruntung salah ruangan yang dipenuhi macan cantik-cantik," Sontak semua wanita di dalam ruangan itu langsung heboh. Ada pria tampan yang bilang mereka cantik! Bagaimana tidak tersipu?! "Astaga Paaaak!" seru para wanita senang. "Terima kasih telah membuat siang saya lebih berwarna," sahut Gerald sambil tersenyum karismatik dan menutup pintunya. Dan menghela napas menahan sabar. Para wanita sosialita, yang membuat perutnya serasa di aduk. Satu saja sudah membuatnya merinding. Yang ini ada banyak! Berkumpul di satu ruangan pula! Otak Gerald rasanya ingin meledak! Lalu ia masuk area taman yang terbuka, agar suaranya bisa teredam oleh lalu lalang kendaraan. Dan menelpon asistennya di kantor. "Ya Pak?" suara bening seorang wanita dari seberang telepon. Asistennya. Satu-satunya wanita di dalam tim ahli di bawahnya langsung. Hanya satu wanita yang ia pekerjakan, Yang ia izinkan berdekatan dengannya. Yang terkenal dengan kredibilitasnya, terlebih merupakan keponakan rekan bisnisnya. Wanita penuh kontraversi dalam hidupnya. Dan manusia yang paling dibenci Gerald, sekaligus biang kerok kegalauannya hari ini. Viola Sandro Biasa dipanggil Via. "Kamu gimana sih?! Kasih info saya ngga bener!! Saya salah masuk ruangan tadi!!" seru Gerald marah. "Loh? Memang Bapak dimana?!" "Ritz Carlton!!" "Yaaah, saya kan sudah kirim what's Up ke Bapak, kalau ruang meeting di Ritz Carlton penuh, jadi saya pindahkan ke JW. Mariott." "Hah?" "Deket kok Pak dari Ritz, Bapak tinggal jalan kaki menyebrang saja." Gerald ternganga. Menyebrang itu ... Maksudnya menyebrang jalan kaki? Bersama manusia awam yang lain, begitu? Dengan sepatu Hermesnya? Sialan ni cewek! Gerutu Gerald dalam hati. "Kamu perbaiki otak kamu tuh! Siapa Kamu, kurang ajar nyuruh-nyuruh saya! Perempuan Be-go!!" seru Gerald sambil menutup teleponnya. Ini sebabnya ia benci wanita! Bukan, dia bukan G-ay. Dia hanya pria yang memiliki rasa trauma dan phobia terhadap wanita. Terlebih yang membuatnya marah, Via sangat cantik, Dan Gerald tidak berdaya. Entahlah akan ia apakan wanita satu ini. Bagaimana cara menyingkirkan Via dari hidupnya?! ****** Sementara itu di lain tempat, Via mengelus-elus telinganya yang pengang sekaligus panas. Panas mendengar hinaan dari Yang Mulia Raja Diraja Gerald Bagaswirya. Sia-lan, si Bule Jerman! Dasar laki-laki tidak berperasaan! Gerutu Via dengan mata berkaca-kaca. Ia jelas sakit hati dikatai 'be-go'. Via menganggap, itu sudah suatu perundungan. Apa susahnya sih menyebrang dan berjalan kaki ke seberangnya saja? Kan dua hotel itu ada di satu area! Gerutu wanita itu dalaam hati. Atau... Gerald terlalu angkuh untuk melakukannya?! Masa berjalan kaki seperti manusia biasa saja dia tidak mau? Setara Presiden negara adidaya saja mau blusukan ke area tunawisma! "Nih ..." Bambang Reginald, rekannya sekaligus juga salah satu asisten Gerald, memberinya sekotak tisu. Dengan terisak Via mencabut selembar dan mengusap air matanya. "Saya sudah WA beliau, loh!" Via mencoba membela diri. Bambang menyeringai. "Iya Neng, saya juga lihat kok waktu kamu kirim pesan," "Terus, salah saya kah kalau dia ngga baca, begitu?!" seru Via dengan penuh emosi. "Yah, bukan begitu ..." Belum sempat Bambang mengutarakan maksudnya, Yudhistira datang dan memotong ucapannya. "Ya iya lah salah kamu, harusnya kamu telepon. Bapak mana punya waktu buat baca-baca WA orang rendahan kayak kita!" sambar Yudhis sambil berlalu. Via ternganga mendengarnya. Kenapa ucapan Yudhis serasa menamparnya dengan telak?! "Nanti kalau saya telepon, salah lagi! Saya dianggap ganggu dia lagi meeting ato gimana!" "Ya itu derita kamu. Lagi pula, seharusnya kamu pastikan dong bookingan kamu tidak batal setiap hari. Ini udah booking sejak 2 minggu yang lalu dianggurin saja. Hotel besar seperti itu kan pasti banyak peminat ruang meetingnya!" sahut Yudhis. "Kenapa harus meeting di hotel, sih? Kita kan juga banyak ruang meeting eksklusif!" gerutu Via. "Dasar bocah ... " ledek Yudhis. Bambang hanya terkekeh pelan, lalu pria itu menepuk-nepuk perlahan lengan Via. "Via, terkadang banyak meeting eksklusif yang prosesnya tidak ingin dilihat oleh cctv kantor. Kita sebagai staff jalankan saja keinginan atasan. Karena kita digaji untuk jobdesk itu." Pria tampan itu mengetik beberapa patah kata pada keyboardnya. "Kalau kita terlalu ikut campur, sangat merugi bagi kita. Gaji yang kita terima tidak cukup. Kalau mau kepo, daftar saja jadi auditor, mereka memang digaji untuk mencampuri urusan setiap divisi. Atau kamu daftar saja jadi Direktur, gajinya besar, tapi terkadang kamu harus menjual jiwa kamu pada setan untuk kelancaran bisnis perusahaan dan kekayaan," Bambang tersenyum penuh arti. "Eh, ini hanya perumpamaannya loh yaaa, jangan dianggap serius. Hehe," lanjutnya masih dengan raut wajah misteriusnya. Via hanya menghela napas menanggapinya. Ya sudahlah, jalani saja dulu. Pikir wanita itu. ****** (POV Gerald Bagaswirya) Menjadi Pemegang Saham itu mudah. Kebanyakan misi perusahaan adalah "Mensejahterakan Shareholders." Itu berarti, Raja dalam perusahaan adalah Shareholders. Pendapatan mereka dari deviden perusahaan. Yang jelas semakin perusahaan profit, semakin kita dapat menikmati surga dunia. Kalau perusahaan merugi? Salahkan Direkturnya. Tanyakan padanya, bagaimana cara kamu mengurusi perusahaan? Kok bisa rugi? Kau kemanakan uang kami? Dan umpatan lainnya, seenak jidat saja. Toh, Direktur dibayar mahal, dapat umpatan sedikit tak apa lah, asalkan tidak sampai ancaman ke keluarga. Sekedar di lempar pakai buku Annual Report masih bisa tahan lah, asalkan tidak dihadapi dengan tuntutan bui. Siapa sih yang bilang jadi Direktur itu mudah? Apa karena gaya hedon kami? Tahu tidak kalau kami butuh barang-barang berkualitas dan makanan enak untuk mengalihkan rasa stress? Huh! Kenapa aku jadi mengomel begini? Aku kan hanya berniat mencoba tempat gym yang baru ini. Katanya bulanannya memang mahal, tapi fasilitasnya sangat lengkap. Bukannya aku tidak punya alat fitness di apartemen, tapi aku juga butuh bertemu orang lain. Aku ingin sendirian saja. Pusing melihat proyek mangkrak gara-gara ekonomi dunia tak stabil. Tapi kalau dipikir, Kapan ya aku tak pusing? Sebelum mengenal bisnis? 30 tahun lalu, mungkin. Saat aku berumur 10 tahun. Sebelum dikirim ke asrama dan belajar bisnis karena penerus keluarga. Tadinya kupikir belajar bisnis itu semudah memainkan monopoli. Ternyata, malah terjebak dalam lingkaran setan. Tiap hari yang dipikirkan : Bagaimana caranya agar cuan. Arggh! Coba aku tolak jabatan Direktur itu. Tapi aku belum bisa mempercayakan perusahaan kepada siapa-siapa! Setelah ketemu penerus yang pas, aku mau menikmati hidup di pegunungan Alaska saja. Atau kalau yang di dalam negeri, mungkin ke daerah Dieng. Tapi sepertinya, aku datang ke tempat gym ini bukan di saat yang tepat. Niat untuk mencari ketenangan, malah terganggu dengan adanya keriuhan di ruangan sebelah sana. Tampak beberapa pria mengerumi satu ruangan kaca. Aku sedang mencoba membentuk otot perutku. Akhir-akhir ini tubuhku membesar. Kupikir dengan membuatnya lebih 'kering' sedikit, mungkin akan menipiskan massa pinggangku menjadi lebih ramping. Bukan berarti tubuhku tidak berbentuk, namun ototku adalah hasil fitness. Tampak besar dan membumbung. Aku ingin lebih kurus sedikit supaya kemejaku tidak terlalu tercetak. Belakangan suitku juga agak ketat. Kali ini aku akan membentuknya supaya terlihat seperti bintang film laga. Kurus tapi berotot. Untung-untungan saja lah. Beginilah kalau buatan Gym, aku tidak ada waktu untuk ‘bertanding sungguhan’ di atas ring. Siut siut!! Terdengar keriuhan lagi. Ada apa sih, ganggu konsentrasi saja! Membentuk abs juga butuh fokus, tahu tidak?! Aku menyudahi aktivitasku. Aku perlu tahu kenapa orang-orang heboh. Lalu mungkin protes ke manajemen karena aku benar-benar tidak mendapat kenyamanan di sini. Tahu begitu kan lebih baik aku fitness di apartemen saja! Hm. Oke. Ruangan kaca di depan sana. Pantas saja cowok-cowok heboh. Yang bersorak di depan kaca mungkin pria normal. Yang masih cuek fitness, mungkin jenis pria yang setia dengan pasangannya, atau mungkin golongan 'Pelangi Proud'. Aku termasuk yang ‘ingin tahu ada apa’. Silakan nilai sendiri. Di depanku kini ada beberapa wanita. Mengenakan topeng. Pakaian renang. Atau bikini? Meliuk-liuk di tiang besi. Dengan gaya yang membuat libido kami meninggi. Astaga! Bagaimana bisa tempat ini menyediakan sarana untuk striptease?! Apa dunia sudah gila? Melegalkan tempat maksiat? Dunia tampaknya benar-benar sedang berkelakar! Tunggu! Apa itu tulisannya? Aku memicingkan mataku membaca secarik kertas di dinding kaca. Harap tenang! Senam pole dance sedang berlangsung. Hah? What the ... Senam pole dance? Senam tiang? Adegan meliuk-liuk begitu sekarang dikategorikan senam? Apa aku salah baca? Namun pandanganku teralihkan dari kertas itu saat keriuhan 'penonton' semakin menggila. Salah satu penari, Ia melakukan gerakan ala Burlesque dan mengitari tiang alumunium berdiameter 38 milimeter itu sambil meliuk-liukkan tubuhnya. Wanita dengan rambut panjang dicat kemerahan, dengan d**a yang menurutku pas sekali kutangkup di tanganku yang besar ini, sebenarnya sosoknya sudah cukup menarik sebagai seorang wanita. Entahlah kalau wajahnya karena tertutup topeng. Tapi apa dia memiliki kelainan mental atau bagaimana? Sudah seksi begitu tapi tetap tidak percaya diri?! Sehingga rela harus meliukkan tubuh sintalnya di depan pria-pria berotot menyembul? Kuanggap begitu saat ia membuka kedua kakinya berbentuk V lebar-lebar, lalu bergerak perlahan sambil menonjolkan lekuk bokongnya yang padat, dan berbalik sambil bersandar di tiang dan menggerakkan pinggulnya. Aku benar-benar tidak merasa tenang. Iya, kuakui gairahku meningkat. Aku juga pria normal. Tapi sekaligus aku merasa risih karena banyak pria di sekitarku yang secara mendadak mengeluarkan aroma feromon-nya sampai udara sekitar terasa sesak! Namun mereka kan masih bisa mengeluarkan hasrat tertahannya. Lah, Aku?! Aku dan segala kekuranganku? Bagaimana caranya selain hanya bisa misuh-misuh?! Ya, itu lah yang kulakukan. Mengomel seperti ibu-ibu melihat anak gadisnya bermalas-malasan. Seorang trainer melewatiku sambil juga memfokuskan pandangannya ke arah penari tiang. "Hoy, Boy!" panggilku. Ia tampak kaget karena kutegur, tapi langsung tersenyum ramah saat melihatku. "Ya Pak Gerald?" katanya. Oh, dia kenal denganku rupanya. Aku sedang berusaha ramah saat ini, bagaimana yah cara mengolah kata yang menunjukkan kalau aku terganggu dengan aktifitas tambahan di seberang itu? "Di sini memangnya menyediakan fasilitas pole dance?" tanyaku. Basa-basi saja, toh si trainer tidak salah. "Eh, tidak sih Pak. Ruangan tempat latihan mereka tadinya bukan di sini. Mereka punya Ruko sendiri yang letaknya di Rukan Perkantoran di belakang gedung ini," kata si Trainer. "Terus kenapa bisa pindah ke sini?" "Iya Pak, Pemilik gedung itu memutuskan untuk merenovasinya karena menurutnya warna catnya sudah kusam dan tidak menarik lagi. Jadilah akhirnya untuk sementara mereka meminjam ruangan pusat kebugaran." "Hm," jawabku. Terus terang, aku belum puas dengan jawabannya. "Harus ruangan itu yang dipinjamkan? Saya agak terganggu dengan respon orang-orang sekitar. Susah konsentrasi," sepertinya nada suaraku mulai terdengar sewot. Terlihat si trainer hanya mangut-mangut menanggapi protesku, dengan mimik yang dibuat prihatin. Aku sudah melalang-buana di dunia bisnis puluhan tahun, aku bisa membedakan mana raut muka tulus dan mimik muka yang sengaja dibuat-buat seakan perhatian padahal ngedumel di hati! "Dulu itu ruangan untuk sepeda, pak. Untuk menekan anggaran, kami tidak mengubah bentuknya karena mereka hanya sementara di sini," Sial bagiku, karena itu ruangan pinjaman, dan seperti layaknya ruangan-ruangan tempat fitness, hanya dihalangi oleh kaca. "Apakah tidak ada ruang khusus lain untuk para wanita yang sedang latihan striptis? Lama-lama saya ke sini bukannya fitness tapi 'nyawer' juga kayaknya," aku kesal. Biar sajalah, aku bilang saja sejujurnya. Toh, Aku pelanggan. Dan reaksi si trainer, seperti yang sudah kuperkirakan, menganggapku bapak tua kolot dengan segala kekakuannya. "Hm, maksud bapak, Pole Dance ?Iya, memang banyak orang awam mengategorikannya sebagai striptease, namun hal itu salah sebenarnya, karena dalam hal ini tidak ada seorang pun yang telanjang dan di jaman yang modern ini mulai dikategorikan ke dalam gymnastic. Pakaian yang digunakan pun adalah pakaian fitness. Yah semacam sport bra dan celana hotpants yang sekarang mereka kenakan," jelas si trainer. Aku memandangnya seakan dia gila. Dia memandangku seakan aku toxic. Sudahlah, perbincangan yang tidak akan ada ujungnya, karena sudah beda generasi. "Oke. Thank's untuk penjelasannya." Sahutku. Sepertinya aku tidak akan menginjakkan kaki lagi di tempat ini. Setelah si Trainer berlalu, aku pun menatap para penari di dalam ruangan akuarium dengan mengernyit. Salah satunya terlihat susah payah melakukan keseimbangan. Si rambut merah yang berdada besar tadi, membantunya berdiri. Pandanganku sedikit berubah. Jaman sekarang memang sedang susah. Banyak orang yang melakukan pekerjaan tidak layak. Mungkin para wanita itu dulunya memiliki pekerjaan lain juga. Kasihan sekali mereka, pikirku. Sudah harus bekerja keras manjat-manjat tiang, masih saja dihujami dengan pandangan m***m orang-orang. Semoga para wanita itu sadar kalau masih ada pekerjaan lain yang lebih halal, kecuali mereka kelainan dan memiliki s*x addict. Tapi bagaimana kalau seandainya salah satu wanita itu adalah karyawanku? You know, semacam kerja partime sebagai penari club? Sudah pasti akan langsung kupecat! Enak saja mengancam nama baik perusahaan yang kubangun dengan darah dan air mata puluhan tahun! Dipikirnya jadi kaya itu semudah menjentikkan jari?! Banyak yang kukorbankan untuk bisa duduk di podium atas sini! Oke, cukup marah-marahnya daripada aku jadi semakin gila. Lalu seakan muncul pencerahan dari Yang Maha Kuasa, aku menangkap tanda itu. Kalung yang dikenakan si rambut merah. Aku pernah lihat di mana ya? Kalungnya cukup unik karena bentuknya seorang ibu sedang menyusui bayinya. Aku pernah bertanya dengan bercanda mengenai kalung itu ke salah satu karyawanku. Waktu itu kutanya apakah ia mantan bidan salah satu rumah sakit khusus ibu dan anak sampai harus memakai simbolnya? Waktu itu karyawanku bilang kalau ia memakainya selalu, karena peninggalan ibunya yang meninggal saat melahirkannya. Karyawanku yang itu bernama Viola Sandro. Biasa kupanggil Via. Posisinya adalah sekretaris direksi, dan Via menjadi incaran dua asistenku yang juga single, Bambang dan Yudhis. Menjadi asistenku mana ada waktu untuk mencari pendamping hidup? Sudah pasti kubuat padat jadwal mereka. Aku menggunakan uangku seefisien mungkin. Aku menggaji mereka sesuai kemampuan dan keloyalan. Kalau ingin bermalas-malasan, mohon maaf, masih banyak perusahan lain yang bisa dibodohi, menggaji tanpa imbal-balik dari karyawan sok pintar. Rambut merahnya juga mirip Via. Dan itu katanya rambut aslinya. Asalnya dari Italy namun ibunya dari Indonesia. Dia tinggal di Indonesia sudah sejak kecil. Bisa dibayangkan perpaduan Italy dan Indonesia? Aku saja mengakui kalau dia sangat cantik. Aku kurang suka karyawan wanita, namun dia keponakan temanku, sesama pebisnis. Jadi kuterima bekerja di tempatku. Dan aku percaya instingku! Sejak lama aku belajar untuk selalu percaya dengan insting karena manusia adalah predator, memiliki kemampuan mempertahankan hidupnya dan mengenali ancaman dengan lugas. Hanya, paradigma dan rasa malas menggerus insting tersebut menjadi tumpul. Berapa banyak orang yang mengenakan liontin seunik itu? Apalagi rambutnya sama-sama merah, dan dadanya sama-sama besar. Belum pinggang tipisnya yang sering jadi gosip di kantor. Jadi untuk meyakinkan diriku sendiri, aku akan menghadang mereka dari pintu keluar. Tinggal aku cari saja ujungnya di mana. (End of POV Gerald)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN