Malu-malu

1267 Kata
Sore itu rasanya tenang, Suara sayup dari televisi di depan Via menampilkan adegan romantis seorang artis bernama Lily Collins, wanita di film itu menyusuri jalanan kota Paris dan berbelanja banyak barang branded. Cerita halu tingkat tinggi tapi entah bagaimana terasa menarik. Mungkin inilah sebabnya film itu sukses, masyarakat memiliki kehidupan nyata yang menyakitkan. Film semacam ini cukup bisa menghibur mereka dengan tampilan kemewahan yang selalu mereka bayangkan. Termasuk Via. Ia menoleh ke samping, ke arah Papanya yang sedang berbicara dengan bahasa Italia dari ponselnya. Tampaknya ada pementasan besok jadi dia harus kembali ke Italy secepat mungkin. Menjadi seorang Drag Queen adalah passiun Papanya dari dulu. Walau pun ia bisa menikah dengan wanita, bahkan memiliki anak, yaitu Via. Sampai sekarang masih mencintai Almarhum Mama Via dan bahkan menikah untuk kedua kalinya dengan Mama Anggid, wanita asal Indonesia, profesinya sebagai seorang Drag tidak bisa ia tinggalkan. Dan karena Nico cukup tampan, saat menjadi seorang wanita ia bisa lebih cantik dari Via. “Ya ampun harus balik ke Stressa ini looooh! Lusa ada pementasan di LA Amoreeeee, kita harus briefing!” desis Nico agak panik sambil mengibaskan rambutnya dengan kuku palsunya yang indah dan anggun. Sampai-sampai Via reflek mengangkat kukunya sendiri dan meringis insecure. “Ya Pah, Jalan aja. Aku kan selalu sendirian,” Via membuang mukanya, berlagak ngambek. “Aduuuh, kok anak Papa jadi ngambek sih? Jangan dong ya Amor, sini-sini Papa Peluk...mmmh!” Nico mencium dahi dan pipi Via bertubi-tubi. Sampai Via membatin “Bahkan wangi parfumnya enak, beneran insecure aku nih jadinya,” bagitu pikirnya. “Kalau kamu tidak memiliki siapa-siapa di sini, Papa pasti sudah batalkan jadwal manggung. Tapi amore, itu...” Nico melirik ke kanan kirinya, memastikan mereka di ruangan hanya berdua, lalu mencondongkan tubuhnya dan berbisik, “Boss kamu kayaknya pingin papa cepetan pergi dari sini, kikikikik!” Via mencibir. “Halu kali si Papa nih!” gerutu Via. “Ih nggak halu! Ini perasaan seorang laki-laki. Ada aura gelap yang... heeem, susah digambarkan tapi jelas-jelas bilang ‘udah sana cepet pergi, anak lo milik gue’ gituh!” Via hanya mencebik melihat Nico dengan pandangan mata tak percaya. “Sejak kapan aku jadi miliknya? Sesuai kontrak kerja, aku memang miliknya dari jam 8 pagi sampai jam 17, tapi aku juga wajib diberi kesempatan isoman jam 12 sampai jam 13, lalu boleh coffe break dan yang lain,” gerutu Via. Nico menatap anak perempuannya itu dengan sayang. “ Via, bukannya papa seenaknya saja melepaskan kamu ke pria lain, tapi karena papa sudah melihat bagaimana baiknya dia terhadap kamu, yang mana papa pikir kamu juga sudah tahu maksud papa. Bangun , Amore, He’s the Man!” “Ergh... nope! Dia congkak, angkuh, sombong, seenaknya, eois,” “Sst!” Nico menempelkan telunjuknya di bibir Via. “Jangan sampai kamu kena karma dari ucapanmu sendiri. “Hah?!” tanya Via kaget. Tapi Nico hanya terkikik sambil mengerjab-kerjabkan matanya yang dipasangi bulu mata anti tornado. “Udah ah! Papa mau-“ Cklekk! Pintu ruangan mereka dibuka dari luar, Bambang datang dengan kacamatanya yang khas dan tubuh tingginya yang memikat. Sudah pasti senyumnya langsung sejenak membuat Via melupakan rasa nyeri yang melanda. “Signore Sandro,” sapanya. “Semua sudah siap, pesawat jet kami siap menerbangkan bapak ke Italy atau kemana pun juga yang bapak mau,” “Aaaawww, si ganteng nih! Bikin aku kesengseeem!” “Jangan sentuh saya ya, bukan muhrim,” gumam Bambang sambil mundur selangkah. * * “Nih…” desis Gerald sore itu saat suster sedang meninjeksi obat penahan sakit pada selang infus Via. Tas besar dari karton hitam. “Apaan nih pak?” tanya Via. “Liat aja isinya, beda kok sama isi koper yang dibawa papa kamu…” desis Gerald melirik koper merah yang diletakkan begitu saja di depan lemari. Pria itu duduk ditepi ranjang Via setelah si suster pamit pergi. “Waaaah…” desis Via saat ia melebarkan sebuah kemeja putih dari sutera. “Bagus banget paaak!” gumamnya dengan mata berbinar. “Mudah-mudahan sesuai dengan selera kamu. Di dalamnya ada 2 stel kemeja, 2 stel kaos, 2 celana bahan, 1 celana pendek, 1 celana jeans, 1 rok… mini. Kayaknya kamu suka pake rok mini kalo saya perhatikan, namun saya kurang suka kalo kamu mengundang cowok-cowok buat mendekat jadi saya beliin rok cuma satu, dan sebaiknya nggak kamu pake sih, terlalu mengundang soalnya. Juga ada 4 stel baju dalam.” “Bawel,” gumam Via sambil merengut, lalu kembali memmeriksa isi tas belanja dengan mata berbinar-binar. “Emang tahu ukuran saya?!” Tanya Via penasaran sambil membongkar isi tas. Gerald tersenyum sinis. “Apa sih yang saya nggak tahu tentang karyawan saya,” ujarnya. “Sampai ukuran pakaian dalam segala? Ckckckck. Saya sih percayanya bapak beneran menguntit saya,” desis Via mencibir. “But thanks anyway,” desisnya dengan senyum manisnya. Astaga, malaikat mungil ini tersenyum lagi. Sampai kapan ia berhenti menyiksaku? Gerald dengan pikirannya yang terpukau dengan kecantikan Via. “Lalu kenapa bapak cium saya waktu di penampungan?!” tiba-tiba Via menanyakan hal itu. Rupanya ia memang sudah bisa mengingat jelas kejadian itu. Membuyarkan semua pikiran halu Gerald. Dalam hati Pria itu bahkan mengumpat. “Kamu kena Panic Disorder,” balas Gerald mencoba meyakinkan Via. “Alasan…” cibir Via. Gerald mendecak kesal “Kamu yang tiba-tiba mengundang saya untuk mencium,” Sebenarnya ia sudah duga kalau Via memang iseng untuk membuat dirinya kesal. Namun dikatakan dengan gamblangnya oleh gadis itu, membuat ia semakin terpuruk. “Masa sih?!” “Kamu peluk saya, bilang tak ingin saya jauh dari kamu. Apa itu namanya kalau bukan lampu hijau?! Bukannya kamu memang suka sama saya? Atau kamu memang jenis perempuan yang seperti itu?” “Perempuan seperti apa maksud bapak?!” Via mengernyitkan keningnya. Raut wajah Gerald semkain keras. Ia menatap tajam kea rah Via seakan merendahkan. “Perempuan macam apa yang mengumbar keseksian dengan semua laki-laki?” Pancing Gerald sinis. Via terpekik tertahan. Saat itu Via merasa sangat terluka mendengar kalimat semacam itu. Kalau Ia tidak mengenal Gerald dia akan benar-benar menancapkan tiang infusnya ke perut laki-laki itu. Namun, beberapa tahun menjadi sekretaris Gerald tampaknya ia sudah hapal cara menangani laki-laki berhati besi macam Bossnya ini. “Lalu laki-laki macam apa yang memanfaatkan keadaan dengan mencium gadis saat dirinya kalut?!” balas Via ngga kalah sinisnya. Kalau digambarkan di komik, sepertinya sudah ada banyak petir menggelegar di antara mereka berdua. “Kamu ngga ingat? Kamu sendiri yang memanggil-manggil nama saya dan memohon untuk ditemani,” desis Gerald ngga kalah sinis. “Oooh gituuu,” desis Via sambil pura-pura terkejut. “Dan dipikir-pikir cepat juga yah bapak menghampiri saya dan langsung memeluk saya,” “Mana mungkin saya nggak datang, kamu sudah mengorbankan tangan dan bahu kamu untuk hidup saya,” “hm!” gumam keras Via. “Makasih ya, untuk itu,” sahut Gerald lagi. “Saya berhutang budi sama kamu,” Gerald pikir Via akan tetap mengomel panjang lebar sesuai dengan kebiasaan kebawelan wanita itu. Tetapi raut wajah Via tidak diduga Gerald sama sekali. Bukannya raut wajah sinis atau mengejek seperti yang diperkirakan Gerald, Tetapi Via tersipu malu, dan menunduk dengan telinga kemerahan. Membuat Gerald langsung bagai tersengat listrik. Apa lagi ini?! Gerutu Pria itu dalam hati. “Sama-sama Pak, saya sebenarnya memang benar-benar panik saat itu. Dan saat itu bapaklah satu-satunya orang yang saya ingat,” gumam Via. Entah mau bagaimana Gerald menghadapinya, Ia tidak mengerti Via saat ini. Via bagaikan sedang menggunakannya sebagai pion untuk kesenangan gadis itu sendiri dengan cara mempermainkan perasaan pria itu. Dan saat ini Gerald tahu ia sudah kalah. Karena itu ia memutuskan untuk tidak meneruskan situasi tersebut dan meninggalkan ruangan itu sambil bungkam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN