Utari memasak banyak menu untuk hidangan makan malam. Karena tahu Sasya akan datang, Utari juga memasak beberapa menu masakan rumahan kesukaan Sasya. Sasya pernah bilang kalau dia menyukai oseng tempe kecap buatan Utari yang rasanya mirip dengan buatan mendiang ibunya dulu.
Dulu, awal dekat dan pacaran dengan Sadewa, Utari tidak menyukai Sasya. Dia selalu menganggap Sasya sebagai ancaman bagi hubungan dia dan Sadewa. Apalagi Utari juga tahu kalau Sadewa menganggap Sasya bukan hanya sekedar sahabat saja.
Namun seiring berjalannya waktu, Utari mulai paham hubungan antara Sadewa, Sasya, dan Sagara. Kini dia tak lagi menyimpan perasaan negatif pada Sasya. Justru sekarang Utari menyayangi Sasya seperti adiknya sendiri.
"Jadi, bukan hanya aku yang diundang makan malam?" Sebuah suara terdengar diikuti suara langkah kaki yang mendekati meja makan. Utari menengok pada orang tersebut dan mengangguk pelan.
"Aku sudah menyuruh Sadewa untuk menjemput Sasya dan mengajaknya ke sini, Sagara." Utari menjawab. Selain Sasya, Sadewa dan Utari juga mengajak Sagara untuk makan malam bersama. Tak ada acara spesial, hanya kerinduan saja setelah sekian lama tak berkumpul bersama.
"Aku tak menyangka kamu yang akan lebih dulu datang dari pada Sasya," lanjut Utari sembari sibuk menata makanan di atas meja makan. Melihat itu, Sagara akhirnya membantu Utari.
"Suamimu memaksaku untuk cepat-cepat datang ke sini. Mana ngancam lagi," ujar Sagara. Utari tertawa mendengar itu. Sudah bukan hal aneh lagi antara Sadewa dan Sagara. Mereka seperti sepasang saudara yang sering bertengkar, namun cepat berbaikan juga.
Saat keduanya sedang sibuk di ruang makan, tak lama muncul Sadewa dan Sasya. Wajah Sasya terlihat lelah karena seharian bekerja. Selain itu, dia masih kesal karena ponselnya hancur akibat ulah Rena.
"Kamu di sini juga ternyata." Sasya berkata ketika melihat Sagara yang sedang membantu Utari.
"Sya, kamu mau mandi dulu kah? Kamu bisa pakai kamar tamu untuk ganti baju. Biar aku siapkan baju untukmu." Utari bertanya seraya menatap Sasya yang kurang bersemangat.
"Boleh, Kak." Sasya menerima tawaran Utari dengan mudah. Akhirnya Sasya dan Utari meninggalkan ruang makan. Meninggalkan Sagara dan Sadewa berdua di sana.
"Padahal hari Minggu nanti gue juga ke sini lagi Sadewa b*****t. Ngapain sih lo maksa-maksa gue datang malam ini." Sagara berkata dengan penuh perasaan kesal pada sahabatnya tersebut.
"Jaga bicara lo sialan. Jangan sampai anak-anak gue denger." Sadewa menegur dengan perasaan sebal. Sagara mendelik kesal mendengar itu. Padahal Sadewa juga mengumpatinya.
"Utari yang minta. Katanya dia kangen kita ngumpul lagi. Sebagai suami yang baik dan sayang istri, jelas lah gue bakalan kabulin semua keinginan istri tercinta gue." Sadewa memberikan jawaban atas pertanyaan Sagara. Sagara memandang Sadewa dengan tatapan bete karena kata-kata yang Sadewa pakai, yang menurut Sagara lebay.
"Gue maafin buat sekarang karena istri lo yang minta," ucap Sagara dengan telunjuk mengacung ke arah Sadewa. Sadewa hanya mengangkat kedua bahunya saja.
"Ngomong-ngomong, anak-anak gue kemana?" Sadewa akhirnya baru sadar kalau dia tidak mendengar suara berisik anak kembarnya.
"Mereka masih di kamar sama pengasuh," jawab Sagara santai. Sadewa manggut-manggut mendengar itu. Dia lalu menarik kursi dan segera duduk. Tatapan Sadewa kemudian fokus pada Sagara yang sedang menuangkan air ke dalam gelas.
"Gar, lo masih ingat nggak mantan lo yang namanya Rena?" Sadewa mulai bertanya.
"Gue nggak akan pernah lupa siapa dia." Sagara langsung menjawab. Sadewa tertawa pelan mendengar itu. Dia jadi ingat usaha keras Sagara ketika ingin putus dari Rena. Karena Rena selalu saja mengancam ingin bunuh diri.
"Lo tahu nggak dia kemana sekarang?" tanya Sadewa lagi, memancing.
"Nggak penting juga gue tahu." Sagara menyimpan teko setelah semua gelas terisi. Dia lalu duduk di hadapan Sadewa.
"Ada apa? Aneh banget lo tiba-tiba nanyain salah satu mantan gue yang agak gila itu," tanya Sagara heran.
"Dia sekarang kerja jadi sekretaris di tempat kerja Sasya." Sadewa menjawab. Sagara terlihat kaget mendengar penuturan Sadewa barusan.
"Lo harus tahu kalo sekarang Sasya nggak akan bisa kerja dengan tenang gara-gara mantan lo itu. Tadi mereka kayaknya hampir saling jambak kalau gue nggak buru-buru datang buat jemput Sasya," ujar Sadewa menjelaskan. Sagara semakin terkejut mendengar penuturan Sadewa.
"Omongan gue nggak terlalu mempan buat Sasya. Jadi lo harus bisa yakonin dia buat pindah kerja. Gue gak rela ya kalau Sasya kenapa-kenapa gara-gara mantan lo yang sinting itu." Sadewa berkata dengan serius, dan Sagara tahu kalau pria itu tidak sedang bercanda.
"Ponsel Sasya hancur gara-gara ulah Rena. Gue yakin tiap ada kesempatan dia bakalan ganggu Sasya. Apalagi sekarang dia ngerasa jabatannya lebih tinggi dari Sasya," lanjut Sadewa. Sagara terdiam mendengar itu. Tentu dia kaget karena mengetahui Sasya mengalami hal tak mengenakkan akibat perbuatan Rena, salah satu mantannya.
"Gue udah nawarin dia pekerjaan. Tapi dia terus nolak karena nggak mau jadi beban buat gue. Padahal gue juga nggak merasa kalau dia membebani," lanjut Sadewa seraya mengambil gelas miliknya.
Sagara membuka mulut, hendak bicara. Namun niatnya dia urungkan saat Sasya dan Utari muncul. Sasya datang dengan wajah yang lebih segar. Dia memakai dress selutut milik Utari yang berwarna navy. Rambutnya dia sanggul dengan rapi ke atas.
Sagara menatap Sasya dengan lekat sampai akhirnya Sasya duduk di sampingnya. Walau dengan wajah polos tanpa make up, Sasya selalu terlihat cantik. Kulitnya yang putih dan mulus terlihat sangat sehat. Dan tentu saja Sagara tak akan bosan memandanginya.
"Kamu sedang ada waktu luang kah?" Sasya bertanya seraya menengok pada Sagara. Sagara tersenyum dan mengangguk.
"Dia memaksaku untuk datang ke sini. Lagi pula, aku agak senggang malam ini," jawab Sagara dengan mata terarah pada Sadewa. Sasya manggut-manggut mendengar itu.
"Anak-anak nggak makan bareng kita, Kak?" Sasya bertanya pada Utari saat sadar kalau anak kembar Utari dan Sadewa tidak ada di sana.
"Nggak, Sya. Mereka udah makan duluan tadi. Kalau makan bareng, yang ada suasana akan ricuh," jawab Utari. Sasya tertawa pelan mendengar itu. Anak-anak Utari dan Sadewa memang sangat aktif. Ya, nggak beda jauh seperti kelakuan Sadewa sendiri sih.
Karena semua orang sudah berkumpul, makan malam pun di mulai. Sagara ingin bertanya langsung pada Sasya tentang Rena. Sementara Sasya sendiri terlihat tak ingin memberitahu Sagara tentang kejadian tadi.
Namun tentu saja Sagara tak akan tinggal diam setelah tahu Sasya di ganggu oleh Rena. Mungkin, malam ini Sagara akan menginap lagi di apartemen Sasya agar bisa leluasa bicara pada wanita itu.