8. Masalah Masa Lalu

945 Kata
Di hari Senin ini, Sasya bangun lebih awal dari hari biasanya. Kenapa? Tentu karena ada Sagara bersamanya. Sebelum memutuskan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mereka biasanya melakukan morning s*x terlebih dahulu. Entahlah, sensasi melakukan seks di pagi hari terasa lebih enak bagi Sasya. Tidak setiap pagi Sagara ada bersamanya. Jadi ketika pria itu ada di sampingnya ketika pagi hari, maka Sasya sendiri yang biasanya meminta dan memulai lebih dulu tanpa malu ataupun sungkan. Setelah melakukan kegiatan panas di pagi hari, akhirnya mereka berdua mandi bersama dan bersiap-siap untuk pergi bekerja. Sasya membutuhkan waktu lebih lama ketika berpakaian. Karena itu Sagara pergi lebih dulu ke dapur untuk membuat sarapan. Beginilah enaknya ketika Sagara berada di apartemennya. Sasya yang biasanya malas makan akan tercukupi kebutuhan perutnya karena ada Sagara yang memasak untuknya. Jika sedang sendirian saja, kadang Sasya hanya makan dua buah roti saja untuk sehari. Saking malasnya memasak dan cari makanan di luar. "Sya, sarapan sudah siap. Kamu harus lebih cepat jika tak mau terlambat." Terdengar suara Sagara di luar kamar yang memanggil dirinya. Sasya menatap cermin, memperhatikan penampilannya sekali lagi. Setelah dirasa semuanya pas, Sasya pun segera keluar dari kamar. Ketika memasuki dapur, Sasya bisa mencium aroma roti panggang. Perutnya langsung berbunyi seolah tidak sabar untuk segera menyantap sarapan simple buatan Sagara. "Beberapa hari ini kita tidak bertemu dan asupan makananmu kacau lagi." Sagara berkata setelah Sasya duduk di sampingnya. "Aku baik-baik saja. Aku masih sehat," balas Sasya. Dia terlihat tak sabar untuk segera menyantap sandwich buatan Sagara. "Kamu kerja keras harus disertai dengan kehidupan yang sehat, Sya. Jangan menunggu sampai tubuhmu drop," ujar Sagara menegur. Sasya hanya bergumam sebagai respon karena mulutnya penuh dengan makanan. Untuk beberapa saat, mereka diam dan fokus dengan makanan masing-masing. Sagara lebih dulu selesai dengan sarapannya, dan dengan mandiri dia memasukkan piring kotor bekas makannya ke wastafel. "Aku buatkan bekal untukmu hari ini." Sagara berkata seraya menyerahkan kotak bekal berwarna abu-abu pada Sasya. "Makan bekalnya saat jam istirahat nanti. Kurangi konsumsi kopi dan soda. Perbanyak minum air putih." Lagi, Sagara menceramahi. Sasya hanya manggut-manggut saja mendengar itu. Ya, di antara mereka bertiga, memang hanya Sasya saja yang kebutuhan perutnya selalu kurang. Dia punya banyak uang, tapi rasa malas selalu mengalahkan dirinya. Makanya tak jarang Sadewa mengantarkan masakan Utari untuknya ketika pria itu tahu kalau Sagara tidak mengunjunginya. "Nanti malam aku belum tahu akan datang atau tidak." Sagara berkata seraya merapikan dasinya. Sasya mengangguk pelan setelah minum. Dia berdiri dan tak lupa memasukkan kotak bekal ke dalam tasnya. "Tak masalah. Kamu pasti punya urusan lain yang lebih penting dari pada urusan ranjangku," balas Sasya. Sagara tertawa pelan mendengar itu. Dia mendekati Sasya lalu mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi kanan Sasya. "Bukan hanya ranjangmu sepertinya, Sya. Kita hampir melakukannya di setiap sudut apartemenmu," balas Sagara dengan nada menggoda. Sasya mendengus pelan mendengar itu. Namun, yang Sagara katakan memang ada benarnya. "Udahlah. Ayo berangkat. Aku nggak mau terlambat," ujar Sasya mengalihkan pembicaraan mereka. Dia lalu melangkah lebih dulu dari Sagara untuk segera pergi. *** Sasya menjabat sebagai manager di perusahaan tempat dia bekerja sekarang. Memang penghasilannya jauh jika dibandingkan dengan Sagara dan Sadewa. Namun, bagi Sasya yang penting adalah kebutuhan hidupnya terpenuhi semua. Lagi pula, dia sudah punya tempat tinggal sendiri. Apartemen yang dia miliki sekarang adalah warisan dari mendiang ibunya. Sedangkan dari ayahnya Sasya tak mendapatkan apa-apa karena memang ayahnya bangkrut. Makanya sekarang yang Sasya pikirkan hanyalah kebutuhan sehari-hari juga tabungan untuk masa tua saja. Dia tak perlu repot memikirkan masalah tempat tinggal lagi karena sudah memilikinya. Seperti yang pernah dijelaskan, Sasya tak memiliki teman dekat di kantor. Semua orang hanya sebatas rekan kerja saja bagi Sasya, tidak lebih. Dan Sasya juga tidak tertarik mengenal lebih dalam orang-orang yang bekerja dengannya. Hari ini, Sasya mendapat sebuah informasi dari bawahannya. Tentang sekretaris CEO yang baru. Sasya tak terlalu mempedulikan hal tersebut karena bagi dia hal tersebut bukan urusannya. Sampai akhirnya Sasya bertemu sosok sekretaris CEO yang baru itu ketika mendekati jam istirahat. Sasya tak terlalu mengenal sosok wanita itu. Namun, Sasya tahu siapa dia. Sasya tak pernah merasa memiliki masalah dengan wanita itu, namun jelas wanita itu pernah menganggap Sasya sebagai masalahnya. Siapa lagi kalau bukan salah satu dari deretan mantan pacarnya Sagara. Wanita itu bernama Rena, dan Sasya lupa kapan Sagara mengencani wanita itu. Yang Sasya ingat hanya tentang hubungan Sagara dan Rena yang tak berlangsung lama. Kenapa dia tahu? Ya karena setiap Sagara putus, selalu dia yang pertama kali didatangi pria itu. Jika diingat-ingat lagi, ternyata Sagara lebih buaya dari Sadewa. Saat Sadewa hanya punya satu mantan pacar saat SMA, Sagara memiliki mantan pacar yang entah berapa jumlahnya. Saat bertemu, Rena menyapa Sasya dan tentu Sasya membalas sapaannya dengan profesional. Sasya berusaha tetap bersikap profesional walau Rena mulai mengusik masa lalu yang membuat Sasya tidak nyaman. "Mengencani seorang pria yang punya sahabat wanita adalah ide terburuk bagi siapa pun. Karena sahabatnya selalu jadi prioritas kapan pun dan di mana pun." Rena berucap dengan nada menyindir namun bibir menampilkan senyuman palsu. Sasya hanya bisa mengangkat ujung bibir saja ketika mendengar itu. Sasya tak tahu harus memberikan respon seperti apa selain hanya diam dan tersenyum. Sedangkan Rena sendiri terlihat puas dengan kata-kata yang dia lontarkan barusan. Dengan jabatan yang dia punya sekarang, dia merasa lebih unggul dari Sasya. Beruntungnya Rena tak terlalu lama di dekat Sasya ketika wanita itu dipanggil oleh sang bos. Sasya akhirnya bisa menghela nafas pelan setelah Rena hilang dari hadapannya. "Sepertinya ketenanganku akan mulai terganggu," bisik Sasya pada dirinya sendiri. Dari perkataan Rena tadi, sepertinya wanita itu menyimpan kemarahan dan dendam pada Sasya. Ya, semoga saja Rena tidak terlalu mengganggu ketentraman Sasya di tempat kerja. Karena Sasya paling malas terlibat masalah dalam drama perkantoran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN