Aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Brian dan bergegas menuju Raphael. "Dia tidak tahu siapa aku" Ucapku cepat sambil membelai rambut Raphael dengan tenang. Dia meneriakkan sesuatu sebagai respon, dan Brian berlari ke arah kami, meraihku lagi, tapi kali ini memperketat cengkeramannya sehingga aku tidak bisa melarikan diri. Raphael menoleh ke arah seorang pria yang berdiri di samping sofa, dan sesaat kemudian semua wanita itu pergi. Hanya kami yang berada diruangan ini, dia mendorong pria yang tadi di pegang lehernya hingga berlutut, mengarahkan pistol ke kepalanya. Pemandangan itu membuat jantungku mulai berdebar kencang. Aku teringat kejadian ditaman saat itu, dan masih menjadi mimpi buruk bagiku. Aku menghadap Brian mendekatkan wajahku ke bahunya. “Dia tidak bisa membunuhnya

