Sabtu malam, Seruni pergi makan malam dengan Catra. Malam ini dandanannya berbeda dari biasanya. Dia mengenakan sheat dress atau gaun terusan pas badan yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Gaun selutut warna putih dan tanpa lengan itu membuat Seruni tampak semakin menarik. Agar tidak terlalu terbuka dia menambahkan blazer selutut dengan warna senada.
Seruni memakai high heels dan tas tangan warna putih untuk melengkapi penampilannya. Riasan wajah yang biasanya natural, sekarang tampak lebih mencolok tapi tidak terlihat berlebihan. Rambut panjang yang tadi sudah dicatok, dibiarkan terurai begitu saja.
Sebelum pergi, dia memastikan lagi penampilannya di depan cermin kamar. Setelah yakin tampilannya sudah paripurna, wanita berusia 25 tahun itu pun keluar dari kamar.
Seruni sangat terkejut saat melihat Catra duduk di ruang tamu dan sedang mengobrol dengan bapaknya. “Pak Catra, kok di sini?” Dia refleks bertanya begitu bertatapan dengan atasannya itu.
“Aku mau menjemputmu. Tidak tega rasanya kalau membiarkan orang terbaik di divisi pemasaran naik ojol dengan penampilan secantik ini,” jawab Catra sambil tersenyum pada Seruni. Diam-diam dia mengagumi penampilan bawahannya yang sangat terlihat berbeda malam ini. Seruni terlihat semakin cantik, menarik, dan juga seksi.
“Harusnya kamu berterima kasih pada Pak Catra karena beliau sudah berbaik hati menjemputmu. Berangkatlah sekarang sebelum terlambat,” tukas Harun pada putrinya.
“Iya, Pak. Aku pamit dulu sama Ibu.” Seruni kemudian menemui ibunya yang beristirahat di kamar karena sedang kurang enak badan.
“Pak, aku pergi dulu ya,” pamitnya pada Harun sesudah kembali ke ruang tamu.
Harun mengangguk. “Iya. Tetaplah bersama Pak Catra. Jaga diri, jangan sampai kamu minum alkohol,” pesannya.
Meskipun merasa heran dengan pesan sang bapak, Seruni mengiakan saja.
“Pak Harun, kami berangkat sekarang.” Giliran Catra yang berpamitan pada Harun.
“Titip anak saya ya, Pak,” sahut Harun sambil menyalami atasan Seruni itu.
“Saya pasti akan menjaga Seruni. Pak Harun, tidak perlu khawatir,” timpal Catra.
Atasan dan bawahan itu kemudian keluar dari rumah. Mereka berjalan menuju mobil Catra yang terparkir di depan pagar rumah.
Tanpa diduga, Catra membukakan pintu mobil untuk Seruni. “Terima kasih, Pak,” ucapnya sebelum masuk dan duduk di kursi samping sopir.
Catra mengangguk setelah itu menutup pintu. Dia kemudian memutar ke sisi sopir. Membuka pintu, lantas duduk di kursi pengemudi.
Tiba-tiba Catra mendekat pada Seruni. Membuat jantung wanita itu berdebar dengan kencang. Aroma parfum Catra bahkan memenuhi indra penciumannya. Seruni pikir atasannya itu akan melakukan sesuatu padanya, tapi ternyata Catra menarik sabuk pengaman yang ada di atas bahu kirinya lalu memasangnya.
“Kamu belum memakai sabuk pengaman, jadi aku bantu memasangkan,” ucap Catra sambil tersenyum pada Seruni.
“Terima kasih. Maaf sudah merepotkan Pak Catra.” Seruni merasa malu karena sudah berprasangka yang tidak-tidak pada atasannya itu. Meskipun mereka beberapa kali pernah berpegangan tangan, pria berkacamata itu tak pernah melakukan lebih dari itu.
Setelah memasang sabuk pengaman untuknya sendiri, Catra menghidupkan mesin mobil lantas menjalankannya.
“Kenapa Pak Catra tiba-tiba menjemput saya? Padahal kita janji bertemu di lobi hotel.” Seruni akhirnya memecah keheningan di antara mereka.
Catra sontak menoleh sebentar ke samping kirinya karena harus fokus mengemudi. “Kenapa? Kamu tidak suka aku jemput?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaan dari Seruni.
Wanita dengan gaun putih itu menggeleng. “Bukannya tidak suka, saya tadi kaget saja melihat Pak Catra di ruang tamu. Kenapa Pak Catra tidak bilang dulu kalau mau menjemput saya?” Dia menatap atasannya itu.
Pria berkacamata itu tersenyum. “Rasanya tidak pantas membiarkan orang yang akan mentraktirku datang sendiri dengan ojol. Apalagi penampilanmu hari ini sangat menawan. Pasti mengundang banyak mata yang ingin melihat kecantikan dan keseksianmu. Aku rasa keputusanku menjemputmu sudah tepat. Menjagamu dari pandangan liar banyak pria,” jawabnya sambil sesekali melirik ke arah Seruni.
Wanita berambut panjang itu tersipu malu mendengar ucapan sang atasan. “Tadi Pak Catra bilang mau pergi ke mana sama bapak saya?” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.
“Aku bilang kita akan pergi makan malam yang diadakan oleh perusahaan. Aku terangkan kalau acara ini hanya untuk level manajer ke atas dan karyawan terbaik. Karena kamu karyawan terbaik di divisi pemasaran makanya diundang. Aku juga jelaskan kalau hanya aku dan kamu yang diundang dari divisi pemasaran.” Catra membeberkan kebohongannya pada wanita yang duduk di samping kirinya.
Seruni mengangguk-angguk mendengar penjelasan Catra. “Pantas tadi bapak saya bilang jangan sampai terlambat dan saya tidak boleh minum alkohol. Jadi itu alasannya.”
Catra kembali tersenyum. “Maaf ya sudah bohong sama bapak kamu, tapi itu juga demi kebaikan,” ucapnya kemudian.
“Tidak apa-apa, Pak. Setidaknya bapak saya nanti jadi tidak bertanya macam-macam,” timpal Seruni.
“Setelah saya memutuskan pertunangan dengan Mas Panca, Bapak sudah wanti-wanti kalau saya tidak boleh sembarangan dekat dengan pria. Saya harus benar-benar menyelidiki pria tersebut sebelum memutuskan punya hubungan,” sambungnya.
Seruni kemudian menghela napas panjang. “Padahal saya sudah tidak ingin punya pacar apalagi suami. Saya sudah lelah dikhianati. Belum tentu pria yang dekat dengan saya nanti adalah pria yang setia. Entah bagaimana tanggapan orang tua saya kalau saya bilang tidak akan menikah,” akunya.
“Mungkin kamu akan dijodohkan kalau tidak mau menikah,” lontar Catra.
“Rasanya tidak mungkin mereka menjodohkan saya, Pak. Tapi tidak tahu juga nanti bagaimana. Bisa jadi pilihan mereka lebih baik dari semua pria yang pernah dekat dengan saya,” timpal Seruni.
“Seandainya kita bertemu saat aku belum menikah, apa kamu mau menikah denganku?” Catra memandang Seruni. Mereka sudah tiba di hotel tempat keduanya akan makan malam berdua.
“Saya tidak tahu, tapi mungkin saja saya mau. Saya merasa Pak Catra adalah pria yang baik dan bertanggung jawab,” jawab Seruni.
Catra tersenyum lebar mendengar jawaban wanita cantik itu. “Kita sudah sampai. Ayo keluar dulu. Kita lanjutkan lagi pembicaraan di dalam,” ucapnya sambil melepas sabuk pengaman.
Seruni ikut melepas sabuk pengaman. Dia tidak mau dibantu lagi oleh Catra karena hanya akan membuat jantungnya berdebar kencang.
“Jangan keluar dulu. Aku akan bukakan pintu untukmu,” ucap Catra sebelum keluar dari mobil.
Seruni sudah mencoba menahan debaran jantungnya, tapi sikap Catra membuat jantungnya kembali berdenyut dengan kencang. Kenapa pria beristri itu bersikap sangat manis padanya?
Setelah Catra membukakan pintu, Seruni pun keluar dari mobil. Dia merapikan gaunnya yang sedikit naik karena tadi dipakai duduk. Usai penampilannya rapi kembali, Seruni melingkarkan lengannya pada lengan Catra. Mereka lantas berjalan memasuki hotel seperti layaknya pasangan.
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata memandang ke arah keduanya. “Bukankah itu Seruni? Siapa pria yang pergi dengannya?” gumamnya dengan kening mengerut.