“Karena itu kebiasaan Kayana.” Aku mengangguk paham. Wajar sih seseorang tidak mau bangun pagi-pagi karena aku juga pernah begitu. Frans berbalik, dia memunggungi ku. Sepertinya dia akan tidur. Aku menarik selimut, menutupi tubuhku hingga sebatas leher. Aku menatap ke arah jendela. Sunyi dan senyap. Memori-memori tentang mereka tiba-tiba masuk dan membuat aku sesak sendiri. Dan pada akhirnya aku menangis. Terlebih lagi overthinking yang datang. Kedua hal itu seakan membunuhku secara perlahan. Aku mengusap pipi. Tenggorokanku mendadak terasa kering. Aku melihat di nakas tidak ada minuman sama sekali. Alhasil aku menyingkap selimut, turun dari ranjang dan menuju dapur yang ada di lantai bawah. Lampu lorong lantai atas ini ternyata sudah dimatikan. Agak menyeramkan, sih. “Aku u

