Chapter 25

1511 Kata
A--apa?" Chelsea terkesiap. Gio menjauhkan badannya. "Lo boleh pergi. Lewat halaman belakang biar aman." Chesa mengerjap. Ini berarti Gio menyelamatkannya? Gio, cowok yang sudah terkenal dengan gelar fuckboy, kini melepaskan seorang gadis sederhana sepertinya? "Ma--makasih." walau Gio terlihat tidak akan menyerangnya, tetap saja Chesa takut. Dengan langkah pelan, dia keluar dari gudang. "Tunggu." Chesa menengok. "Apa, Gi?" "Bersikap seolah gue udah ngapa-ngapain lo biar Hana gak ganggu lo lagi." setelahnya, Gio melangkah lebar pergi duluan. Meninggalkan Chesa yang masih tercengang. **** "Mama? Tumben jam segini udah pulang?" Chesa mengulurkan tangan, kemudian mencium punggung tangan Rumaisa. "Badan Mama lagi nggak enak. Jadi hari ini absen dulu." Rumaisa memijit kepalanya yang terasa berdenyut itu. "Mau Chesa beliin obat, Ma?" "Udah beli obat tadi. Kamu mandiin Lova aja." "Iya, Ma. Mama tidur beberapa jam dulu coba. Siapa tau, nanti sembuh. Oh iya, Mama udah makan belum? Kalau belum aku masakin sekarang." "Belum. Masak mie yang kuah ya." "Siap Ma." Chesa berjalan ke dapur. Tubuh rampingnya masih memakai seragam. Mata Rumaisa mengedar ke segala sudut ruang tamu. "Tas kamu mana?" Chesa yang sedang membuka bungkus mie instan pun terhenti. Ia baru ingat, tasnya belum diambil. Ia tidak punya cukup nyali untuk kembali ke kelas. "Tas aku aman kok. Masih ada, Ma. Jangan khawatir," "Aman gimana? Harga tas mahal. Mama gajiannya masih lama." kata Rumaisa mulai tersungut emosi. Chesa menghela nafas. "Tas aku ada di temen aku, Ma. Besok pasti dikembaliin ke aku," "Awas aja kalau tas kamu hilang atau apapun itu. Mama gak mau tanggung jawab. Mama pusing!" Rumaisa berjalan ke kamar. Chesa menekuk. Harusnya dia mengambil tas itu sebelum dirinya diseret ke gudang. Chesa melanjutkan aktivitas memasaknya. Hanya membutuhkan waktu belasan memit, mie instan itu sudah jadi. Chesa mengambil nampan, lantas meletakkan mangkuk berisi mie. Tak lupa, ia juga menaruh segelas air putih. Pintu diketuk. Dengan langkah pelan, Chesa mendatangi ibunya yang tengah berbaring. "Ma, makanannya udah jadi," ujarnya lirih. Rumaisa membalikkan badan, menghadap putrinya. "Taruh di situ." dagunya menunjuk meja kecil di dekatnya. Chesa menurut. "Mama boleh minta tolong?" "Boleh, Ma. Minta tolong apa?" **** Sepanjang jalan ke supermarket, Chesa terheran-heran dengan perkataan ibunya. Beberapa tahun lalu, kan, ayahnya tiada. Apa jangan-jangan Mama udah dapet pengganti Papa? monolog Chesa dalam batin. Chesa menengok ke kiri dan juga kanan untuk memastikan tidak ada yang melihat dirinya membeli alat tes kehamilan. "Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, kamu sarankan untuk membeli yang ini." pegawai toko itu mengambil testpack berukuran lebih besar daripada yang Chesa pegang sekarang. "Aku beli yang ini aja, Kak." respons Chesa ramah. "Baiklah. Silahkan ke bagian kasir." Wajah Chesa berubah panik. Di kasir banyak orang yang sedang mengantre bahkan tetangganya juga ada di sana. Ia tidak bisa membayangkan jika ada yang melihatnya membeli testpack. "Kak, bisa bayar di sini aja gak?" tanya Chesa. "Maaf. Tidak bisa. Kakak harus ke kasir." sahut pramuniaga tersebut. Chesa memandang lagi ke arah kasir. Terdengar helaan nafas dari gadis itu. Ya, mau tidak mau dia harus ke sana. Chesa berdiri paling belakang. Kepalanya terus menunduk. Ia juga menyembunyikan alat tersebut di balik bajunya. "Chesa?" Chesa menoleh cepat. Kan, dugaannya benar! Seorang ibu-ibu memanggilnya yang tidak lain adalah tetangganya sendiri. Mana posisinya Chesa di depan lagi! Ibu-ibu itu kan jadi bisa melihat apa yang ia beli. "Kamu beli apa? Tumben ke sini? Ada yang sakit?" tanya wanita paruhbaya itu. "Beli obat buat Mama. Mama gak enak badan." jawab Chesa ramah. "Oh." Tibalah giliran Chesa membayar di kasir. Ibu-ibu yang berdiri di belakang Chesa mencondongkan badannya ke depan supaya bisa melihat apa yang dibeli oleh Chesa. Pramuniaga kasir itu menatap Chesa dengan tatapan horor. Wajar, Chesa kelihatan masih remaja, namun malah membeli testpack. "Totalnya dua ribu," ujar sang pramuniaga. Chesa memberikan uang sesuai yang dikatakan oleh pramuniaga. "Ini, Kak." "Baik. Terimakasih." Chesa bergegas meninggalkan tempat itu. Ia tidak memedulikan tatapan dari tetangganya. Lebih baik Chesa bersikap tidak peduli daripada dirinya kena omongan pedas! Chesa sangat menghindari hal tersebut. Pintu berwarna kecoklatan yang sudah rapuh itu dibuka oleh lengan Chesa. Seperti biasa, suasana rumahnya hening dan tenang. Berbeda saat adiknya bangun dan merengek meminta makanan. "Ini, Ma." Chesa menyerahkan plastik putih berisi benda yang diminta Rumaisa. Rumaisa langsung menerima. Setelahnya dia pergi ke kamar mandi, kemudian mengunci pintu. Sedangkan Chesa kembali ke kamarnya untuk menengok apakah adiknya masih tidur atau sudah bangun. Ternyata kedua mata adiknya terpejam. Chesa gemas akan wajah adiknya tersebut. Bibir tipisnya bergerak mencium pipi chubby Lova. "Kakak janji akan sekolahin kamu nanti besar. Hidup kamu harus lebih baik daripada Kakak, Va." ucap Chelsea tulus usai melepaskan ciumannya. Di tempat lain, Rumaisa menatap nanar benda kecil di depannya. Bahunya seketika merosot. Ia syok. Benda itu... menunjukkan dua garis merah. "Nggak ini gak mungkin. Ini pasti salah. Gak mungkin." Rumaisa menggeleng cepat. Ia mengambil satu benda itu lagi lalu mengeceknya untuk kedua kali. Berharap mendapatkan hasil yang ia harapkan. ****** Raka amat bingung. Baru saja ia datang, namun suasana kelas menjadi tegang dan semuanya diam. Tidak ada yang berani bicara. Ia duduk di tempat duduknya sendiri. Sedangkan Devian? Cowok itu malah pulang duluan. Raka tidak habis pikir dengan tingkah temannya tersebut. "Raka, kamu habis ke mana aja?" Hana mendudukkan diri di tempat duduk Devian. "Kantin. Dari tadi gurunya belum dateng?" tanya Raka. "Belum. Mungkin lagi rapat." Hana menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Raka. "Raka, aku boleh minta nomor kamu? Biar lebih akrab gitu. Kita, kan, sekelas. Lagian, kan, kamu belum masuk grup kelas kan?" Raka menggeleng. Memang, ia belum masuk grup chat sekolah. Tapi anehnya setiap malam, banyak orang yang mengirimkan pesan padanya. "Gimana, mau?" tanya Hana memastikan. "Hm." Raka kemudian menyebutkan nomor handphonenya. Hana dengan sigap mencacatnya di sobekan kertas. Ini keinginannya sejak lama. Dahulu ia berusaha keras untuk mendapatkan nomor telefon Raka, namun sekarang hanya dengan beberapa kata saja, ia berhasil mendapatkan. "Makasih, Raka. Nanti malam aku chat kamu ya." ujar Hana riang. Raka mengangguk. Jujur, dia merasa tidak nyaman dengan gadis di sampingnya itu. Rambut diwarnai pirang bak bule, rok yang terlampau ketat dan juga make upnya terlalu tebal. "Raka, aku boleh tanya sesuatu?" "Boleh." "Hari Minggu aku boleh main ke rumah kamu gak?" "Buat apa?" "Buat belajar bareng." Seisi kelas yang mendengarnya ingin sekali memberitahu kalau Chesa, cewek yang dikabarkan menjadi sahabat Raka itu sedang berada dalam bahaya. Tapi apalah daya, mereka tak mau ikut diganggu oleh Hana dan dikeluarkan dari sekolah ini. "Boleh. Sekalian ajak yang lain." jawab Raka. Hana tentu tidak terima. "Jangan. Mereka pasti sibuk. Iya gak, guys?" Hana menatap seisi kelas. "Iya!" jawab seluruh kelas kompak. Hana berteriak dalam hati. Ia senang! Sungguh senang! Dia akan memanfaatkan waktu itu untuk mendekatkan dirinya pada Raka. **** Chesa mendatangi ibunya mungkin masih ada di kamarnya. Entahlah. Chesa tidak tahu. Ia akan memastikannya sekarang. ""Ma," panggil Chesa pelan. Rumaisa menengok. Chesa menengok meja yang letaknya di samping ranjang. Makanan yang ia bawa puluhan menit lalu masih utuh. "Mama kok belum makan?" lanjut Chesa. Ia mendatangi sang ibu. "Mama harus makan dong. Kalau Mama sakit, nanti siapa yang akan jagain aku sama Lova? Makan yuk. Chesa suapin ya." ujarnya kemudian mengambil semangkuk mie. Rumaisa membuka mulut kala Chesa menyodorkan satu sendok makanan. Sampai akhirnya Rumaisa merasa mual. Ia mengelak suapan yang diberikan Chesa dan berlari ke kamar mandi. "Mama udah dapet pengganti Papa?" tanya Chesa penasaran sambil menyandarkan diri di tembok. "Kamu gak perlu tau." sahut Rumaisa. "Aku ini anak Mama. Masa gak boleh tau. Cerita, Ma. Aku gak bakal bilang ke siapa-siapa kok. Dan juga, kalau bener Mama udah nemu pengganti Papa, aku bakal dukung Mama. Aku malah senang, setidaknya Mama gak perlu bekerja sekeras itu buat biayain hidup aku dan Lova." jelas Chesa membuat Rumaisa tergerak untuk menceritakan semuanya. "Mama," lanjutnya memanggil. Badan Rumaisa perlahan berbalik. "Iya. Mama sudah ketemu pengganti Papa kamu dan sekarang Mama sedang mengandung adik kamu yang ke dua. Cukup? Kamu sudah mendapat jawaban kamu kan? Pergi sana. Mama mau istirahat." Rumaisa mengibaskan tangan, berisyarat mengusir putrinya. Chesa tidak bisa berkata-kata lagi. Ia baru saja akan bicara, namun ibunya malah mengusir. Dengan kepala tertunduk, ia meninggalkan kamar ibunya. ***** Tiba saatnya Hana pergi ke rumah Raka. Ia sudah tampil rapih sekali hari ini. "Mau ke kelab lo? Itu rok pendek amat." protes Keisha seraya melihat Hana dari atas sampai bawah. "Suka-suka gue dong!" Hana melotot tidak terima. "Badan-badan gue, jadi bebas lah mau pakai baju kaya gimana! Lo sok ngatur banget sih!" "Iya Tuan putri." Keisha memilih untuk mengalah daripada perdebatan ini terus terjadi tanpa akhir. "Gue pergi! Jangan telefon gue atau ganggu gue. Gue mau manfaatin hari ini biar Raka suka sama gue." ujar Hana penuh tekad. Keisha mengangguk-ngangguk. Hana berjalan keluar. Ia membanting pintu memicu Keisha untuk mengumpat. ***** "Raka," Hana terus saja mengetuk pintu rumah yang ukurannya lumayan besar. Devian yang baru saja bangun tidur segera membuka pintu. Mata sayunya mendadak segar alias membulat usai melihat Hana di depannya. "Ini cewek kenapa selalu cantik sih," batin Devian. Hana menengok ke dalam. "Raka mana? Kok dia gak keliatan? Apa dia belum bangun?" "Eh, jangan masuk. Bahaya. Raka pergi dari tadi pagi." "Pergi? Ke mana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN